SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 25: Menaklukan Hati Dinda


__ADS_3

Aldo mengemudikan mobil terheran-heran melihat  mereka berdua. Bisanya mereka diam. Padahal saling berdekatan. Seperti tak ada sesuatu di antara mereka. Hanya saja keduanya tampak senyum-senyum sambil menatap layar hp masing-masing. Gaya pacaran yang berbeda dari biasa dia temui.


Ingin menggoda mereka tapi tak tega. Yang bisa dilakukan hanya bersiul lemah menyanyikan lagu yang dia bisa. Karena suara yang dia punya punya ciri serak-serak basah. Mau diperdengarkan tak ada keberanian. Takut jadi bumerang.


Tapi ada pilihan kedua. Yaitu menyalakan tipe recorder. Memutar lagu romantis yang dia suka. Namun Zaidan  berdecak marah pada dirinya. Untunglah tak terlihat Dinda yang sedang tersenyum menatap hpnya.


"Berisik." kata Zaidan.


Inilah susahnya menunggu orang pacaran yang tak jelas statusnya. Dari pada gue didiamkan seperti ini, lebih baik ikutan mengobrol bersama mereka. Habis bikin iri ....


"Zai, itu pacarmu ya?"


"Hai, bapak jangan ngomong sembarangan." sahut Dinda dari belakang. Membuat Zaidan tertawa.


Aldo mendengar terikan Dinda kaget juga. Membuat kedua alisnya terangkat.


Galak juga ini orang. Begini salah, begitu salah.


"Bukan. Tapi tunggu dua hari ini" jawab Zaidan.


"Kok."


"Ya. Begitulah. Ya kan Din."


Dinda hanya melengos, membulatkan bola matanya yang semakin bulat,  dengan tersenyum manja.


"Maunya."


"Ini semua juga gara-gara kamu. Pakai baju tertinggal pula di mobilku. Langsung ketahuan mommy. Ya begini jadinya."


"Padahal senang tu ..." Aldo menimpali.


"Mas nggak ngingetin sich."


"Mana kutahu."


"Sudah. Sudah. Gitu saja kok dibuat repot." Aldo menyela pembicaraan mereka yang mulai 'lucu'. Seperti anak kecil yang ketahuan salah.


Sebenarnya Zaidan senang menikmati obrolan ini. Melihat Dinda cemberut, membuat dia semakin suka, ingin sekali dia tertawa. Hanya kasihan juga dengan Dinda yang masih bingung, gelisah dengan apa yang dihadapinya saat ini.


"Mungkin nanti malam kami terpaksa ke rumahmu. Sebab kak Lisa besok sudah kembali ke Singapura."


"Tapi Mas."


"Tolong bantu mas sekali lagi. Mommy walau suka bercanda tapi tidak pernah bermain-main dalam mengambil keputusan. Bantu mas untuk berbakti pada mommy.


Mas tahu ... kalau mas bukan tipe kamu. Dan sering membuat kamu jengkel, senewen atau marah. Semua itu tak menyurutkan mas untuk melamar kamu.


Semua demi Anya. Putri mas satu-satunya. Kamu tahu itu kan ....


Setiap hari yang dicari hanya kamu. Yang disebut hanya dirimu. Dalam tidurnya pun yang dia panggil adalah namamu.  Keceriannya hanya bila bertemu denganmu. Anak sekecil itu sulit berbohong akan perasaannnya. Aku senang, namun juga sedih bila semua bayangan saja baginya. Karena dirimu bukan bunda yang sebenarnya.

__ADS_1


Aku ayahnya. Tak akan mungkin tega untuk melihatnya terluka dan berduka untuk kedua kalinya.


Aku sudah pernah cerita padamu. Bagaimana Anya menghadapi hari-harinya sepeninggal bundanya. Tersiksa dan terluka. Dan kesedihan senantiasa menyelimuti perjalanan langkah kakinya.


Dunia seakan mentertawakan akan dukanya. Sehingga dia amat takut bertemu siapa saja.


Kamu tahu Dinda ....


Semenjak dia mengenalmu, ada harapan baginya untuk menatap dunianya. Yang indah, menyenangkan dan bisa membuatnya bahagia. Sehingga sedikit demi sedikit terlihat ketakutan itu terkikis dari raut wajahnya. Dan mulai mau bertemu orang dengan rasa takut yang wajar.


Mungkin kami terlalu egois untuk memiliki semua kebebasan yang selama ini engkau punya. Tentang teman-temanmu, pekerjaanmu, kuliahmu.


Tidak ... tidak.


Kami tidak inginkan itu. Yang kami inginkan, kami bisa bersama menikmati kebahagiaan bersamamu tanpa harus mengorbankan kebahagian yang selama ini engkau miliki.


Aku bersungguh-sungguh, Adinda."kata Zaidan dengan menatap Dinda yang duduk dibelakangnya.


Aldo yang menguping pembicaraan mereka, agak-agak pusing dibuatnya. Ini bahasa apa ya ... seperti bahasa planet. Tapi sepertinya sama-sama mengerti. Aldo heran dan bingung. Mungkin sudah satu hati. Dan mereka ditakdirkan untuk bersama.


"Aku mengerti, Mas. Dan kita sudah sepakat akan itu."


"Lalu?"


"Mas, aku ini yatim piatu. Tak ada orang untuk diajak bicara. Kepada kakak saja aku bisa minta saran. Namun semua diserahkannya lagi padaku. Aku belum pengalaman. Ini masih sulit bagiku.


Aku belum mengerti tentang langkah-langkah mewujudkan impian diri. Lalu pada siapa lagi aku harus ungkapkan kegelisahan ini."


"Apa yang kamu gelisahkan?"


"Hem ...."


.


"Sudah telpon kak Alfathmu."


"Ya."


"Insya Allah mommy mau bimbing kamu."


"Apakah mommy mau menerimaku."


"Mommy itu bukan ibu kandungku. Dia ibu yang merawatku semenjak aku diambilnya dari panti asuhan. Waktu itu aku baru berumur 4 tahun. Dia sangat sayang dan peduli, walau Aku bukan putra kandungnya sendiri. Jadi kurasa kamu tak usah ragu lagi.


Aku tahu mommy. Mommy sangat berharap agar aku segera menjadikan kamu sebagai istri. Dan ada bunda untuk Anya. Cucu kesayangannya.


Sudahlah, untuk masalah mommy kamu nikmati saja dengan santai. Insya Allah kamu akan langsung menyukainya. Begitu juga mommy."


Pembicaraan kami terhenti ketika Aldo mengemudikan mobil dengan lambat dan berhenti di jalanan yang agak sepi.  Tak jauh dari pos polisi di perempatan jalan.


"Sebentar Zai ..." kata Aldo dengan serius sambil menatap kaca spionnya.

__ADS_1


"Ada apa Al." tanya Zaidan penasaran.


"Sepertinya kita diikuti."jawab Aldo.


"Ada apa, Mas."


"Tenang saja." jawab Zaidan.


"Kita akan berputar-putar dulu sepertinya." kata Aldo sambil memperhatikan kaca spionnya.


"Kalau itu maunya, kita layani saja." terdengar perkataannya yang lirih itu seolah-olah berkata pada seseorang yang entah dimana.


"Oke."


"Dinda, siap!"


Terlihat wajah Dinda sangat cemas. Namun tenang. Ini bukan yang pertama dia alami ketika bersama Zaidan.


"Mbak Dinda harus kuat. Demi Anya."kata Aldo.


Apa ini akan senantiasa terjadi. Bila dia ditakdirkan bersama Zaidan.


Ya Allah kuatkan aku untuk menghadapinya.


Berlahan Aldo menghidupkan mobil dan menjalankannya kembali dengan kecepatan penuh melewati jalan yang sepi. Masuk ke jalan tol terdekat agar bisa menghindari mobil yang mengikutinya.


Setelah melewati jalan tol terlihat wajah Aldo agak tenang.


"Kamu tahu siapa yang mengikutimu, Zai?"


"Seandainya aku tahu. Sudah aku laporkan ke polisi." jawab Zaidan.


Aldo tertawa mendengarnya.


"Zai ... Zai. Yang kemarin kamu tangkap saja, bisa lepas begitu saja. Apalagi laporan yang buktinya tak ada.


Dan mengapa juga pembunuhan istrimu sampai saat ini tidak tertangkap.


Tapi tenang Zai ....


Aku sudah menghubungi orang-orang di kepolisian yang dapat dipercaya untuk membantu mengungkap semua ini."


"Terima kasih, Al."


"Mbak Dinda tak apa-pa?"tanya Aldo.


"Insya Allah tidak apa- apa."


"Kalau aku boleh kasih saran. Tolong turuti saja keinginan nyonya Hendiyana."


"Masalah ayahnya ini, biar aku yang atasi. Macam-macam ... tunggu saja." kata Aldo sambil tersenyum. Dan dibalas dengan senyum juga oleh Zaidan.

__ADS_1


"Al ... kamu mau dipecat." kata Zaidan.


Aldo tertawa senang. Akhirnya dia bisa menggoda mereka berdua.


__ADS_2