
"Kak, ku ingin menatap ke depan, dengan pandanganmu. Hingga masa itu,
terkenang indah selamanya."
"Maksudnya?"
Layla mengangguk.
"Aku tak bisa bilang tidak, untuk ketulusanmu, yang mau membimbing diriku."
"Terima kasih, Layla."
Terima kasih Tuhan. Telah engkau mudahkan jalanku, untuk mencapai halalnya.
Aris melangkah mantap, ke dalam kamar Haydi. Diiringi Layla berjalan tertunduk malu.
"Masuk, Nak Aris." sambut Haydi dengan senyuman.
Aris tak menyangka, akan mendapatkan sambutan hangat, dari mami Layla.
Yang menantinya, dengan duduk santai di tepi ranjang, ditemani Zaidan.
Dia berjalan berlahan mendekatinya. Dan menyambut uluran tangan mami Layla. Dengan ta'dzim dia mencium tangan itu.
Haydi mengusap kepala dan memeluknya. Sesaat Aria merasakan kehangatan dan kenyaman, yang biasa didapat oleh anak-anak, dalam dekapan seorang ibu. Lalu dia melepaskan diri.
Zaidan berpindah duduk ke sofa, menemani Layla. Dan membiarkan Aris duduk di sisi maminya.
"Nak Aris, mami bisa minta kejujuranmu, untuk masalah ini."
Aris diam, tertunduk. Hendak mencerna maksud, dari kata-kata maminya Layla.
"Pertama. Apakah kamu tulus mencintai Layla."
"Aku tak tahu , Tante."
"Jangan panggil aku tante. Panggillah seperti Layla memanggilku."
"Baik Mami."
"Aku tak bisa menilai itu, Mam. Aku tak bisa melepaskan namanya, dari hatiku. Aku berharap halalnya. Apabia cintaku padanya, tidaklah sempurna. Bimbinglah Aris"
Haydi mengangguk-angguk.
Ternyata benar, apa yang dikatakan Zaidan. Selama ini, Aris telah menyimpan rasa.
"Setelah kami dalam ikatan yang sah, Aris akan belajar mencintainya dengan sempurna."
Tàk ada salahnya, untuk merestui mereka berdua. Bila Layla belumlah punya rasa, biarlah waktu yang akan mengajarkannya.
"Lalu, kapan kamu melamar Layla."
"Bolehkah lusa Aris melamarnya?"
"Baiklah. Mami tunggu."
"Tapi Mami, aku hanya anak panti asuhan"
Haydi tersenyum, menatap Aris dengan lembut. Dia teringat masa-masa dulu. Dirinya yang dengan sombong menghina Zaidan. Yang ternyata, tak lain adalah putranya sendiri.
"Tak mengapa, asalkan kamu sanggup menjaga dan bertanggung jawab pada Layla."
"Mohon restunya, Mami."
Haydi mengangguk. Lalu dia menatap putrinya, yang duduk di sisi Zaidan.
"Kesinilah, Layla." panggil Haydi
Sambil tertunduk, Layla mendekat.
Wajahnya bersemu merah, hatinya berbunga-bunga. Mendengar pengakuan Aris di depan maminya.
Meski dia sadar. Ada sebuah nama yang masih terukir indah di hatinya. Sulit untuk di hapusnya. Karena sejak kanak-kanak, nama itu telah bersemayam.
Tapi dia akan belajar, untuk menatap orang, yang akan jadi imamnya.
"Ya, Mami."
__ADS_1
Haydi memeluk Layla. Membisikkan kata ditelinga Layla. Tangannya meraih tangan Aris. Mempersatukan dengan tangan Layla.
"Mami merestui kalian."
Keduanya menjawab bersamaan.
"Terima kasih, Mam."
Tak teras, tetesan bening mengalir dari sudut mata Layla. Zaidan diam sejenak dan tersenyum. Ingin dia memeluk wanita di aampingnya kalau tak ingat dosa, bahwa Layla belum halal baginya.
Tinggal selngkah, harapannya akan menjadi nyata.
"Mami, boleh saya membawa pergi Layla."
"Untuk menyebarkan undangan buat kak Zaidan
"Boleh, hati-hati, jaga dia."
"Baik, Mam."
Keduanya berpamitan dan mencium tangan Haydi. Yang membelai kepala keduanya. dengan hangat.
"Sudah, mami mau istirahat."
Haydi merebahkan dirinya di atas ranjang. Yang dibantu Aris. Sedangkan Layla menyelimutinya.
Zaidan tersenyum, menyaksikan pemandangan indah, di depan matanya.
"Kak, kami pergi dulu ya ..."kata Layla
"Ya, jaga adikku. kembali dalam keadaan utuh. Tak boleh kurang sedikitpun. Ingat ... kalian belum SAH!" kata Zaidan menggoda, tapi dengan mimik yang serius.
Aris tertawa. Sepertinya Zaidan masih meragukannya.
"Kecuali, kalau aku selalu digoda ... Jangan salahkan." jawab Aris tak kalah santai. Karena tiba-tiba dia merasa, sebuah tangan menyentuh lengannya. Menggandengnya dengan mesra.
Hemmmm ... Layla.
Mau dilepas ... takut menyinggung perasaanya. Nggak dilepas ... membuat hati ini berdebar-debar. Pikiran jadi benar-benar kacau. Seperti terkena sengatan mahnet yang bertegangan tinggi.
Takut kalau-kalau iman ini keluar dari dalam dada. Aris hanya bisa berbisik' inna lillahi wa inna ilaihi rojiun ' untuk menyadarkan hatinya, agar tak tergoda.
Layla tersipu dengan pipi yang memerah. Lalu tangannya turun berlahan. Kebiasaan bermanja pada kakaknya.
"Kak, aku ke kamar sebentar. Ambil tas."
"Jangan lupa, membawa mukena."
"Ya, Kak."
Tak lama dia telah kembali, dengan tas kecil yang digantungkan di bahu. Wajah terlihat lebih cerah. Pancaran dari hati yang sedang berbunga-bunga.
Mayasa yang melihat Aris dan Layla berjalan beringin, tersenyum bahagia.
Semoga Tuhan segera menyatukan kalian dalam ikatan yang sah. Bisik hati kecil Mayasa.
Meski saat ini dia tengah tersiksa, akan sebuah keputusan. Yang sedang dinanti seseorang, yang ingin menggapai hatinya.
💎
Hampir setengah hari, mereka menyebarkan undangan.
"Tinggal berapa undangannya?"
"2 buah, untuk bapak/ibu Hamdan dan bapak Fadli."
"Alhamdulillah, sekalian aku perkenalkan dirimu pada mereka. Bapak ibu yang telah mengasuhku waktu kecil."
"Merek itu Bapak/Ibu asuh Kakak."
"Ya, kakakmu juga."
"Oh ...."Layla termangu.
"Kelihatannya sudah dhuhur. Kita cari masjid dulu, sholat. Baru Kita lanjutkan perjalanan."
"**oke."
__ADS_1
Tak berapa lama mereka menemukan sebuah masjid. Aris segera mamarkirkan mobilnya di pelataran. Berdua mereka keluar dari mobil, menuju ke dalam masjid hendak melaksanakan sholat dhuhur.
Aris telah telah tiba terlebih dahulu, di parkiran mobil mereka. Dengan wajah yang lebih segar. Karena air wudhu yang masih tersisa. Meski telah terjeda oleh sholat.
Tak lama kemudian, terlihat Layla keluar dari ruangan sholat wanita. Dengan tangannya sesekali membenarkan letak kerudungnya. Maklumlah, Layla baru saja belajar memakai jilbab. Jadi masih merasa kikuk dengan penampilannya.
Aris senyum-senyum.
"Layla, adikku. Kita cari makan dulu ..."kata Aris sambil menghidupkan mesin mobil.
"Kak Aris, kenapa panggil Layla pakai sebutan adik sih?"
"Karena kakak suka." jawab Aris dengan tetap fokus pada kemudinya. Dan pandangannya tetap mengarah di jalanan.
"Tak suka?"
"Aneh saja."
"Kakak panggil begitu karena ... kakak ingin melihat kamu, hanya bermanja dengan kakak, tidak dengan yang lainnya."
Mata Layla melotot. Tangannya bereaksi, hendak memukul gemas di bahu Aris.
"Eeeiiittt ... jangan lakukan sekarang, nanti kalau sudah menikah." Aris mencoba menghindar, dari serangan mendadak Layla, . Sering membuat dirinya kuwalahan.
Layla menghentikan aksi tangannya, yang mulai liar. Dia senewen atas sikap Aris, yang sering kali menggoda dirinya.
"Kita mampir di sini saja."kata Aris sambil membelokkan mobilnya ke Hayana Restaurant.
"Gitu dong ...."
"Sudah laperkah?" Aris mengeryitkan dahi.
"Bukan gitu, aku lagi pingin banget es cream."
"Sudah sebesar gini, masih suka es crram?"
"Aneh ya ....?"
Aris tersenyum.
"Untuk adik Layla yang manja, tak aneh buat kakak."
Wajah Layla melengos, mengabaikan Aris yang berjalan di sampingnya. Aris hanya senyum-senyum menatapnya. Terlihat jelas rona merah di pipi Layla.
Lalu, dia mencoba meraih tangan Layla.
"Maafkan kakak. Jangan marah" Layla masih tetap diam.
"Kita duduk di sana ya ..." Layla mengikuti langkah Aris. Menuju meja kosong yang ada pojok.
Aris membuka buku menu, sambil melirik Layla, yang masih dengan aksi diamnya.
"Benar, hanya pingin es cream saja?"Layla tak menjawab.
"Pesan apa, Pak,Bu?"
"Nila bakar komplit. 1 makan sini, 1 pakai box. Minumannya jeruk hangat dan es cream dua mangkuk."
"Kak Aris, pesan es creamnya banyak amat." akhirnya Layla buka suara juga.
"Lha, kamunya diam saja. Kakak jadi nggak tahu harus pesan berapa."
Tak berapa lama, pesanan mereka datang. Mata Layla berbinar, melihat es cream yang sudah ada dihadapannya.
Aris akhirnya bisa tersenyum lega. Dia bisa menikamati makanannya dengan tenang. Sambil melihat Layla yang makan es cream dengan rakus.
Sesekali Layla menarik kerudung yang mulai berantakan. Karena mengikuti gerakan wajah, yang sibuk makan es cream.
Aris yang sudah selesai terlebih dahulu, menatapnya dengan senyum-senyum. Melihat sekitar mulut Layla yang blepotan. Lukisan es krim ,yang tak sempat masuk ke mulutnya
Jari telunjuk Aris berputar-putar di sekitar mulutnya. Memberi isyarat pada Layla.
Tapi sayang, Layla tak mengerti akan isyaratnya. Dia sibuk melahap es cream
_________________________
Maaf masih banyak tiponya.
__ADS_1
Readers yang budiman. Mohon dukungannya, saran positif, like atau vote. Agar author bersemangat dalam berkarya.
Moga-moga karya ini bisa menjadi bàcaan favorite readers