SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 31 : Khitbah


__ADS_3

Indah lembayung senja yang menghias langit di ufuk barat. Tak seindah rasa gundah hati Dinda di saat ini.


Dia hanya mampu menatap misteri yang akan menyelimuti langkahnya kali ini. Tak jarang dia menyendiri untuk mencari jawaban yang dia tak mengerti. Tentang hatinya, tentang langkahnya, tentang harapannya. Yang semua menjadi tanda tanya. Bukan hanya kepuasan dan kebahagian yang dia pikirkan. Tapi juga rahasia dibalik itu semua.


Terlihat jalan ini tak mudah, tapi langkah ini telah menariknya ke sana. Sadar atau tidak sadar telah menuntunnya berjalan jauh ke dalam  persolan Zaidan dan Anya. Hingga dia terjebak dalam kerinduan pada mereka. Dalam mengisi hari-harinya. Terbuai akan kasih yang tumbuh, seiring bisa ungkapkan sayang pada Anya. Akhirnya dinikmatinya jua.


Banyak yang telah dia temukan, yang dulu  sekedar harapan. Kini beralih pada kenyataan yang ada. Namun seiring dengan itu, muncul banyak pula persoalan.  Sehingga membuatnya takut untuk mengambil keputusan.


"Dinda, apa kamu sudah mantap dengan pilihan hatimu. Pernikahan ini bukan main-main. Kalau bisa sekali untuk selamanya."


Nasehat dari kak Alfath, membuat diri ini berfikir ulang tentang hal yang ingin kuputuskan.


"Menurut kakak, aku mundur atau aku terima?" aku balik bertanya. Karena aku sendiri tak tahu, harus memutuskan bagaimana.


"Kalau itu yang kamu tanyakan. Kakak tak punya jawaban. Karena kamu yang menjalaninya."


"Kak. Apakah kakak merasa ada ketidakbaikan kalau diriku dekat dengan pak Zaidan?"


Alfath hanya  tersenyum mendengar kata-kata Dinda. Lalu dia menatap adiknya.


"Ketidakbaikan yang bagaimana?"


"Aku tak tahu."


"Ketidakbaikan yang terlihat oleh kakak itu hanya satu. Kamu mulai jatuh cinta."


"Ah, Kakak. Jangan menggodalah ...."


"Aku tak menggoda. Ini kenyataan.  Kakak merasakannya sejak kakak melihat kamu dengan pak Zaidan di kafe itu."


"Tapi saat itu aku belum punya rasa sama dia."


"Tapi Zaidan sudah menunjukkan itu."


"Kalau itu ketidakbaikan, mengapa kakak tak mencegahnya?"


"Kamu sudah dewasa. Apa yang tak baik menurut kakak. Belum tentu tak baik untuk adik kakak."


"Lalu?"


"Terserah kamu."


"Apa Kakak sebenarnya tak setuju?"

__ADS_1


Alfath lalu mengalihkan pandangan ke pohon mangga. Daun-daunnya yang lebar, telah memberi keteduhan bagi orang yang duduk di bawahnya.


"Kakak hanya takut kehilanganmu."


"Apa karena dia boss Kakak."


"Jika alasan hanya itu. Kakak terlalu egois."


"Lalu?"


"Sudah kakak ungkapakan."


"Berarti kakak setuju?"


"Kakak akan mendukungmu jika itu baik menurutmu. Dan kakak akan selalu mendoakannmu."


"Terima kasih, Kak. Atas dukungannya."


Itu pembicaraan yang selalu kuingat. Antara aku dan kakak. Diwaktu senja setelah Zaidan mengungkapkan isi hatinya di pantai itu.


Kini seakan waktu berjalan teramat cepat. Zaidan secara resmi akan datang bersama keluarganya. Untuk khitbah atau lamaran. Ini berarti satu langkah menuju ikatan yang sesungguhnya. Tapi tetap saja aku bingung dengan diriku.


Apakah aku terpaksa, kurasa tidak.


Apakah aku cinta, aku akan belajar untuk itu.


Kekayaan?!


Ku akui Zaidan punya itu. Tapi akupun tak ingin menggantungkan itu padanya. Cukup bagiku apa yang ada. Karena Tuhan telah memberiku lebih dari yang kuminta.


Kebanggaan karena keluarga?


Kita sama-sama yatim piatu. Bahkan Zaidan belum pernah menceritakan ayah bunda kandungnya.


Ataukah karena gelar yang akan didapatnya setelah menjadi istri seorang direktur?


Itu apa-apaan juga.


Aku selama ini bisa dekat dengannya, karena aku percaya.


Dengan segala kegelisahan yang ada, seakan mengumpat ketidak berdayaanku. Atas semua pertanyaan-pertanyaan yang melintas dalam anganku. Yang muncul pada saat yang genting ini. Membuat diriku terdiam lama.


"Bagaimana mbak Dinda. Apakah lamaran untuk saudara kami Zaidan,  diterima?" kata Syarif yang mewakili keluarga Zaidan.

__ADS_1


Dan kini semua memandangiku,  menunggu jawaban yang terucap dari bibirku.


Aku hanya diam dan menunduk. Tak tahu harus menjawab apa. Oh Tuhan, tolonglah hambamu ini.


Kurasa aku hanya punya satu tujuan dalam mewujudkan impian rumah tangga. Dekat senantiasa dengan yang memberikan kasih dan menumbuhkan rasa sayang di hati. Hingga diriku bisa merasakan getar ayat-ayatnya dalam meniti kehidupan.


Menjadi seorang makmun dari imam hatiku. Agar ada yang membimbing jiwa ini melewati perjalanan kehidupan.  Suka maupun duka  bersama dalam pengertian yang sama.


Dan sosok imam itu, apakah Zaidan. Atau ini hanya tipu daya belaka. Ya Tuhan tunjukilah aku agar aku mengerti akan rahasia di balik ini semua.


"Diamnya seorang perawan adalah ya menurut agama. Tapi untuk memastikan, kita menunggu jawaban dari mbak Dinda." kata ustadz Arifin yang mewakili kami dalam acara khitbah ini.


Pada akhirnya aku hanya bisa menyembunyikan wajah ini dengan diam. Sehingga tanpa sadar mengganggukkan kepala.


"Alhamdulillah." ucap mereka serempak. Membuat diriku sadar dan mengangkat kepala. Dan tersenyum, mentertawakan diri yang tak bisa menjelaskan perasaan yang ada di hati ini.


"Sekarang Zaidan boleh memberikan tanda ikatan, silahkan."kata ustadz Syarif kepada Zaidan yang mewakili keluarga Zaidan. Yang disambut anggukan oleh ustadz Arifin. Seorang takmir masjid kompleks ini. Yang kebetulan dia adalah penghulu di kantor KUA. Sehingga kak Alfath tak salah untuk meminta bantuan padanya. Sebagai wakil keluarga yang menerima lamaran.


"Ayah, boleh aku yang pasangkan." kata Anya tiba-tiba.


Sewaktu melihat ayahnya mengeluarkan kotak kecil yang berisi 3 buah cincin di dalamnya. Zaidan hanya mencubit hidung putri kecilnya sambil tertawa. Lalu melihat mommynya meminta persetujuan.


Melihat cucu yang disayanginya itu gembira, Nyonya Hendiyana hanya bisa menganggukkan kepala dan tersenyum bahagia. Dengan langkah kecil , Anya mendekati Dinda yang duduk di pojok, dekat  pintu yang terhubung dengan ruang keluarga. Zaidan mengikuti  di belakangnya dengan berlahan.


Tak hentinya Anya tertawa. Menampakkan gigi-giginya yang berbaris rapi dan bersih. Dia mengambil satu cincin emas untuk disematkan pada jari manis Dinda. Dindapun memberi hadiah kecupan sayang. Lalu dia ambil cincin yang berwarna silver yang terbuat dari apa (aku tak tahu), disematkan pada jari manis ayahnya tersayang. Hanya tinggal satu cincin yang tersisa. Terlihat Anya bingung. Tapi dia tahu kalau cincin itu untuknya.


"Ada apa, Anya." tanya kaka Lisa.


"Sebentar tante." jawabnya serius. Sambil merapalkan lagu cap cip cup untuk memilih siapa yang akan menyempatkan cincin itu untuknya.


Semua tertawa melihat tingkah lucu putri Zaidan itu. Namun membuat Dinda dan Zaidan semakin gugup. Jadi pusat perhatian semuanya. Terlihat keringat dingin muncul di tangan Dinda. Sedangkan Zaidan banyak bisa memejamkan mata sambil tertawa.


Hitungan terakhir, jarinya menunjuk pada Zaidan, ayahnya.


Ternyata dia belum puas juga. Dia merapal lagu cap cip cup sekali lagi. Kali ini jarinya menunjuk pada Dinda. Dia bingung dan menggaruk-garuk kepala walau tidak gatal.


"Sudah Anya, biar ayah yang pasangkan di jari manismu. Ammah Dinda yang memangku. Bagaimana?" kata kak Lisa yang melihat Dinda semakin gugup dalam permainan Anya.


"Boleh, Tante." jawabnya riang.


Dengan tersenyum manis dia menatap Dinda berdiri mematung karena gugup.


Melihat tatapan putri kecil itu Dinda tersenyum. Kemudian meraihnya dalam pelukan. Dengan senang hati, dia melompat ke dalam pelukan Dinda.

__ADS_1


Dan Zaidan menyempatkan cincin kecil itu pada jari putri kecilnya. Serta memberi tambahan hadiah, berupa kecupan sayang di kedua pipi putrinya. Yang dibalas dengan kecupan pula, di pipi ayahnya.


Clik ....


__ADS_2