
Setelah beberapa waktu, membuat hati Zaidan menjadi sangat rapuh. Kini dia bisa tersenyum menatap 2 orang yang dicintainya, ada di hadapannya dalam keadaan selamat.
Zaidan tak bisa lagi menyembunyikan
kebahagiaannya. Tanpa memperhatikan pemilik rumah, dia melangkah masuk dan memeluk Dinda dengan sangat erat.
"Sayang, jangan tinggalkan mas lagi."
Dinda membalas pelukan suaminya dengan erat pula, seakan tak mau terpisah. Dan menumpahkan tangisnya di dada suaminya.
Masih ada guratan ketakutan di wajahnya.
"Mas, Anya ....."
"Moga-moga hanya karena terlalu banyak menghirup obat bius. Tapi sebaiknya kita ke rumah sakit."
"Ya, Mas."
Reza dan ibunya , menyaksikan hal itu juga ikut terharu. Dia melangkah pergi ke dalam rumah. Tak lama kembali dengan membawa napan. Yang berisikan teko dan beberapa cangkir.
Ibu Halimah menuangkan teh ke dalam cangkir. Lalu meletakkan di depan masing-masing tamunya.
"Mari bapak-bapak, silahkan diminum dulu."
"Terima kasih, Bu."
"Ayo, mbak Dinda juga."
Dinda masih diam menatap Anya. Zaidan tak tega lalu mengambil cangkir itu.
"Sayang, di minum dulu. Kalau Anya bangun, mendapatimu seperti ini, dia pasti akan sedih."
Lalu dengan berlahan Dinda minum teh, dengan dibantu Zaidan.
Setelah minum sejenak, 2 orang yang ikut mencari Anya dan Dinda berpamitan, undur diri.Mungkin ada hal yang ingin dilaporkan pada atasan atau satuannya.
Aldo dan Zaidan tak keberatan dengan hal itu.
"Terima kasih, Bapak-bapak."
"Sama-sama, assalamu'alaikum ...."
"Waalaikum salam." Reza mengantarnya hingga sampai pintu. Lalu kembali duduk menemani mereka.
"Maaf , Bu. Telah banyak merepotkan."
"Tak apa-apa, Pak ...?"
"Zaidan."
"Oh ya, pak Zaidan."
"Mas Reza sudah kenal mbak Dinda?"kata Aldo.
"Kebetulan satu kampus."
"Oh .... Terima kasih sekali, Mas Reza. Kalau tak ada mas Reza, kami tak tahu harus mencari kemana."
"Alhamdulillah saat kejadian, saya di sana. Dan punya kesempatan menolong adik kuliah saya."
Seeerrr ... hati Zaidan berdesir, mendengar kata 'adik' dari Reza. Ada rasa cemburu yang mengusik hatinya.
"Sayang, kuantar cuci muka dulu ya...agar nggak kusut-kusut amat wajahmu."
Dinda mengangguk, mengikuti Zaidan ke kamar mandi yang ada di belakang rumah. Tak lama mereka kembali dengan wajah yang sedikit ceria.
Reza tersenyum menatap Dinda telah kembali dengan wajah yang tak kusut lagi . Membuat Zaidan semakin cemburu.
Zaidan dengan lembut dan penuh perhatian, mengusap sisa-sisa air di wajah Dinda. Ingin menunjukkan bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah miliknya. Janganlah punya keinginan memandangnya dengan berlebihan.
Pak Zaidan ini bucin banget, pikir Reza.
Setelah mengusap wajah Dinda, Zaidan ikut bergabung bersama Aldo, Reza dan bu Halimah.
"Dik Reza sudah semester berapa?"
__ADS_1
"Tinggal skripsi."
"Saya merasa terhormat, bila dik Reza bisa datang ke kantor saya. Magang kerja sambil kuliah." kata Zaidan.
"Benarkah, Pak?"
"Kalau dik Reza berkenan."
"Dengan senang hati, boleh ya, Mak?"
"Itu terserah kamu, Reza."
Setelah mengobrol sebentar. Akhirnya mereka berpamitan pada bu Halimah dan Reza.
"Kami pamit juga, Bu. Jangan lupa dik Reza untuk ke kantor saya."
"Insya Allah."
"Assalamu'alaikum ..."
"Waalaikum salam ..."
Mereka memasuki mobil dan berlalu dari halaman rumah itu. Menuju jalanan yang lenggang, menembus hutan dengan hati yang damai. Sebelum memasuki jalanan ramai yang ada di pusat kota.
Zaidan memangku Anya. Sedangkan Dinda duduk di sisinya masih dengan isakan tangisnya.
"Sudah, Sayang. Habis ini kita bawa ke rumah sakit. Kalau kamu terus menangis, putrimu takkan tenang."
"Mas, aku takut ... tembakan, darah ..."
Dengan satu tangan, Zaidan meraih kepala Dinda dan meletakkan di bahunya. Lalu mengusapnya lengan lembut dan mencium pucuk kepala Dinda dengan terpejam.
"Sudah selesai, Sayang. Maafkan mas."
"Sekarang pejamkan matamu."
Berlahan Dinda memejamkan matanya yang sudah teramat lelah. Dengan menyandarkan kepalanya di bahu Zaidan.
💎
"Sayang, kita sudah sampai."
Dinda membuka matanya. Kemudian duduk dengan tenang, mengejap-ngejamkan mata agar kesadarannya segera kembali.
"Maaf, Mas."
Di sana mereka sudah ditunggu Layla dan Aris yang sedang membersamai Alfath. Mengeluarkan proyektil di bahunya.
Layla memeluk kakak iparnya dengan terharu.
"Kakak. Alhamdulillah."
"Ya, Layla."
Dinda sudah lebih tenang sekarang.
"Kenapa keponakanku?"
"Dia tidur."
Zaidan membawanya ke ruang UII, dengan diiringi Dinda. Meninggalkan Layla dan yang lainnya. Agar Anya segera mendapatan perawatan. Tak berà pa lama kemudian, sudah dipindahkan ke ruang perawatan.
Tak lama kemudian Shaffa datang menemui mereka di ruang perawatan Anya. Dia memeluk Dinda setelah meletakkan tas kecil di atas sofa.
"Kakak ipar. Alhamdulillah."
"Alhamdulillah, Shaffa. Tuhan melindungi mbak dan Anya."
"Makasih ya, Dik. Sudah mau mengantarkannya untuk mbak.,"
"Ini, baju Anya sampai sobek begini. Bagaimana peristiwanya."
Dinda menghentikan langkah kakinya, untuk mengambil baju Anya. Dia meraih tangan Zaidan dan menyandarkan kepalanya di bahunya dengan membelakanginya.
Zaidan merasakan tangan Dinda bergetar hebat.Dia segera meraih tubuh Dinda dalam pelukannya.
__ADS_1
"Tak usah takut, ada Mas. Semua sudah berlalu."
"Sudah, biar mas yang mengganti baju Anya. Kamu mandilah dan ganti pakaianmu. Mas ingin melihatmu cantik malam ini."
Dinda melepas pelukan Zaidan, mengambil baju dan handuk menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Shaffa yang menyaksikan itu terdiam.
"Maafkan aku, kak Zaidan."
"Ngak apa-apa, Shaffa. Perlu waktu."
"Ya, Kak."
"Maaf, ini air hangatnya." seorang suster menyadarkan mereka, akan apa yang harus dilakukan.
"Shaff, bisa bantu kakak ganti baju Anya."
Shaffa tersenyum. Lalu mengambil baju yang berwarna merah jambu pastel, untuk keponakannya itu.
Sedangakan Zaidan membasuh tubuh Anya dengan telaten. Seperti yang dia lakukan sebelum mendapatkan Dinda. Lalu mengganti baju putrinya.
Sekarang Anya sudah terlihat segar dan sangat cantik dengan baju itu. Bahkan Dinda yang baru saja keluar kamar, dibuat tersenyum ketika menatap putrinya itu.
Dia meletakkan baju bekasnya di atas sofa dan meraih putrinya. Mencium dengan hangat. Meski Anya sedang tidur pulas.
Tanpa sepengetahuan Dinda, Shaffa mengambil baju itu dan memasukkannya dalam tas plastik beserta baju Anya dan membawanya keluar. Sesuai perintah kakaknya untuk segera membuangnya jauh, sesaat yang lalu.
Zaidan yang melihat istrinya, melintas di depannya, dengan baju senada dengan Anya, dengan hiasan motif bunga ungu muda, tampak segar. Dia tersenyum dan memeluknya dari belakang.
Moment hangat seperti ini yang Dinda rindukan untuk melepaskan lelah jiwanya.
"Terima kasih, Mas."
"Aku yang harusnya berterima kasih, Sayang."
"Sekarang lanjutkan tidur kalian. Mas keluar sebentar."
"Mas, laper ...."
"Ya, tunggulah sebentar. Kalau sudah datang akan mas bangunkan.Oke....!"
Dinda merebahkan tubuhnya di samping Anya. Memeluknya dan membelainya dengan lembut. Hingga tanpa sadar dirinya tertidur.
💎
Zaidan menyusuri koridor rumah sakit, menuju ruangan yang masih dijaga seorang intel.
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Masih belum sadar, banyak darah yang keluar. Karena mengalami luka tembak 2 tempat. Punggung dan juga betisnya. Stok darah hampir habis."
"Baiklah. Ambil darah saya."
"Mari ikut saya. Kita tranfusi sekarang."
Zaidan mengikutinya dan merebahkan diri di ruangan sebelahnya, yang hanya dibatasi oleh selambu.
Tak kurang 30 menit proses itu dilalui. Dan kini Zaidan sudah duduk di tepi ranjang.
"Terima kasih, Pak Zaidan."
"Sama-sama."
Zaidan menyibak selambu itu dan berjalan menghampiri seseorang yang berbaring lemah. Dia mencium keningnya sambil meneteskan air mata.
Jika semenjak kecil aku tahu Layla ataupun Shaffa. Tapi aku tak tahu sama sekali tentangmu, dari kecilmu hingga kita bertemu. Siapa yang mengukir dirimu hingga engkau seperti ini.
Lalu Zaidan berlalu dari tempat itu dengan nafas sesak dan berat ....
__________________________________
Readers yang budiman, untuk memberi dukungan pada author, berupa like, saran dan vote. Agar author semangat dalam berkarya.
Semoga novel ini menjadi salah satu novel favorite readers semua. aamiiin.
__ADS_1