SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 43 : Sesal Tak Berarti


__ADS_3

Kemana aku harus pergi ...


Itu yang terpikir pertama kali saat bisa ķaki Haydi menginjak lantai. Hendak beres-beres, mengemasi barang-barangnya dan bayinya.


Dengan linglung Haydi meninggalkan rumah sakit itu seorang diri. Untunglah Ryan sudah meninggalkan uang untuk pembayaran persalinannya. Dia sedikit bisa bernafas lega.


Lalu bagaimana dengan anak ini...


Haruskah aku membawa bayi kecil ini pulang.


Dan kemana aku harus pulang. Kembali ke rumah papa ...


Rasanya aku tak punya keberanian. Alangkah malunya keluargaku. Mungkin mereka akan mengusirku ....


Kembali ke rumah kontarakanku dekat kampus. ..


Aku teramat malu bagaimana kalau teman-teman tahu dan mencemoohku. Dengan adanya bayi ini.


Sudah 4 bulan, diriku meninggalkan kampus tanpa seorangpun mengetahui. Tinggal di villla Ryan hingga perutku membesar dan sekarang telah terlahir pula.


Dan untuk kembali ke sana lagi, rasanya menyakitkan ... tak akan. Dan tak ingin. Dan Bila keluarga Ryan mengetahui pasti mereka akan marah dan mengusirku pula.


Dia diam termangu lama, sambil memegang setir mobil yang tak jua dihidupkan. Bulir-bulir bening menetes dari sudut matanya yang sayu. Hingga tak sanggup lagi menyangga kepalanya. Dia rebahkan kepalanya pada sandaran di belakang kemudi. Dia lepaskan tangannya dari memegang kemudi. Rasanya ku ingin menghilang untuk selamnya. Haydi hanya menelangkupkan kedua tangannya pada wajahnya yang telah basah oleh air mata.


Dalam diamnya, dia mendengar suara lirih dari bayi mungil yang tertidur di sampingnya. Seperti kehausan. Dipandanginya dengan rasa jengah dan kecewa. Namun tak sampai hati untuk membiarkannya. Berlahan dia raih bayi mungil itu lalu memberikan asinya. Agar jangan sampai orang di sekitarnya mendengar tangisan bayi mungil ini.


Setelah terlihat kenyang, bayi mungil yang belum diberi nama itu , tertidur tenang dengan mata yang tertutup sempurna. Dengan hati-hati Haydi meletakkan kembali ke tempatnya semula.


Haydi menarik napas berat dan membuangnya begitu saja. Dikumpulkan semua keberaniannya untuk menatap tujuannya. Tapi kemana ....


Sampai dengan detik ini , dia belum menemukan jawaban.


Dengan berlahan dihidupkannya mobil itu. Berlahan meninggalkan pelataran rumah sakit bersalin itu. Tanpa tujuan pasti.


Sudah satu jam Haydi berputar-putar di jalanan. Hingga tak tahu dia sudah terlalu jauh meninggalkan kota Malang. Hingga memasuki kawasan hutan.


Membelah hutan seorang diri pada jalanan sepi, membuat dirinya lelah. Apalagi sejak pagi perutnya belum terisi. Haydi berhenti sejenak di pinggir jalan.


Tetesan bening tak terasa mengalir di sudut matanya semakin lama semakin deras. Tapi apa yang perlu ditangisi. Semua telah terjadi. Sungguh sesal kemudian tak lagi berguna.

__ADS_1


Lama dia termenung. Tersadar ketika bayi di sisinya menangis lirih. Seperti kehausan. Dipandangi wajah bayi kecil itu dengan seksama. Tampak menggeliat sejenak. Matanya masih tertutup rapat. Mulutnya terbuka dan menjulur-julurkan lidahnya seperti mencari-cari sesuatu. Timbul kemarahan dalam hatinya.


Dia membiarkannya. Bahkan ketika tangisnya semakin terdengar. Haydi sudah tak peduli.


"Kenapa kamu menangis terus sih ..."bentak Haydi pada bayi mungil itu. Membuat tangisnya makin keras. Seakan jiwanya mengerti akan kasarnya kata tersebut pada dirinya.


"Kalau kamu nggak berhenti menangis, kamu ku tinggal di sini. Lagian aku sudah cukup sulit melahirkanmu. Ayahmu tak peduli. Haruskah aku peduli padamu?!" kata-kata kesal yang keluar begitu saja dari mulut Haydi.


Entah bisikan dari mana, tangannya dengan kasar meraih bayi itu. Membawa keluar mobil dan berjalan masuk ke dalam hutan.


Namun Haydi tak menyadari, sedari tadi ada yang mengikuti ketika dia baru saja meninggalkan perkotaan menuju jalan yang mengarah ke hutan.


"Bukankah itu mobil Haydi, Mau kemana dia." Ana khawatir. Dia terus mengikuti mobil itu berjalan. Mengambil jarak yang aman agar tidak diketahui.


Namun dia terkejut ketika melihat mobil Haydi berhenti. Tak lama kemudian tampak Haydi keluar sambil menggendong seorang bayi mungil yang terlihat menangis. Tarlihat wajahnya kesal dan memancarkan kebencian. Dia melihat Haydi terus berjalan hingga masuk ke hutan.


Dia terus mengikutinya dengan sembunyi-sembunyi.


"Haydi, apa yang kamu lakukan. Mengapa engkau menggendong seorang bayi. Bayi siapakah itu?"


💎


Dan kini Ana teramat rindu untuk bertemu. Tapi ketika tiba di rumah yang ditempati adiknya. Dia tak menjumpainya.


"Mbak Marni, kemana Haydi?"


"Tak tahu Den ... sejak empat bulan yang lalu dia tak pernah kembali ke rumah ini. Saya kira Den Haydi pulang ke Jakarta." jawab mbak Marni. Orang yang selama ini yang diberi kepercayaan untuk mengurus rumah itu. Semenjak menjadi milik keluarga Hendi.


"Hampir 6 bulan dia tidak pernah pulang. Kami pikir dia sibuk dengan kuliahnya."


"Dia sudah tak pernah kuliah lagi semenjak 6 bulan yang lalu."


"2 bulan sebelum itu Den Haydi jarang juga pulang. Hanya sesekali mampir ke sini. Namun tak lama pergi lagi."


"Kira-kira ke mana anak itu selama ini." gumam Ana lirih. Namun Marni dapat mendengarkannya pula.


"Mungkin dia bersama teman laki-lakinya."


"Maksud mbak Marni?"

__ADS_1


"Semenjak dia mengenal laki-laki itu. Den Haydi sering pulang malam. Kadang mabuk. Sering juga tidak pulang. Hampir tiap libur atau akhir pekan, Den Haydi tak pernah tidur di rumah."


"Terima kasih, Mbak. Mungkin mbak Marni tahu rumahnya?"


Marni hanya menggelengkan kepala.


"Mas ... ini gimana."tanya Ana pada lelaki yang duduk di kursi tamu.


"Ke sinilah sebentar, Sayang."


Ana berjalan menghampiri dan duduk di sisinya dengan gelisah. Lelaki itu mengecup dahi Ana dengan lembut. Ana sedikit tenang.


"Mas, kok tenang-tenang saja sich. Adikku itu gadis. Tanpa penjagaan. Aku takut kenapa-napa ..."


Ana diam untuk berapa lama. Hatinya teramat khawatir pada keadaan Haydi. Ana bersandar di bahu lelaki itu dengan lesu. Lalu menangis dalam pelukannya. Lelaki itu terlihat sedih namun tetap tenang.


"Mas mengerti, Sayang. Kita sholat dulu yok... supaya tenang. Sekarang sudah mendekati waktu sholat dhuhur. Kita cari masjid dan juga makan. Lalu kita akan cari Haydi."


"Ya. Mas." Ana menurut saja ajakannya.


"Bi Marni, nanti kalau Haydi pulang tolong telepon kami ya .... Ini nomor telponku." Kata Ana sebelum berlalu meninggalkan rumah itu.


"Baik, Den Ana."


Belum sampai mereka menemukan sebuah masjid. Sebuh mobil melintas, dari arah yang berlawanan. Mobil itu tak asing bagi Ana.


"Mas. itu mobilnya Haydi."Teriak Ana senang.


"Baik , kita ikuti saja." jawabnya.


"Kemana dia?"


"Tenanglah sayang."


Kenapa mobil Haydi berhenti di tengah hutan begini?


"Mas, kenapa Haydi ke hutan dengan menggendong bayi. Aku ikuti ya."


"Tunggulah di mobil. Biar mas yang mengikutinya."

__ADS_1


" Baik, Mas."


__ADS_2