
Mayasa,
Aku sadar kamu bukanlah wanita sempurna
Namun mengingatmu
Membuat diri ini serasa ingin menjadi sempurna
Bukan menyempurnakanmu
Tak lain hanya ingin mengiringi
Dalam nada rindu kalbu menatap padaNya
Dalam irama bersama
Bahwa kita tak berdaya
Tanpa kasih dan sayang dariNya
*ππ·
Mentari telah sempurna meninggalkan jagat raya. Menggapai petang, yang tak segan untuk menggantikannya. Menutup langit hingga tiada warna. Semua yang ada, hilang dalam bayang-bayang.
Semakin lama petangpun beranjak. Menyerah pada malam yang kian sempurna. Jangan tanyakan pada langit. Karena malam ini adalah miliknya.
Bila tiada purnama yang malu-malu menyapa. Diantara awan yang berjalan beringin. Kadang menutupi, kadang memberi sela.
Tiada lagi cahaya tersisa.
Dia yang memberi warna pada semesta. Gelapnya seakan memberi tanda, untuk sejenak beristirahat. Atas lelah dirimu menapak kehidupan.
Tapi bila jiwa gelisah. Ijinkan langit mendengar rintihmu. Dalam sepinya, dalam sunyinya. Dia akan membisikkan pada nuranimu. Akan siapa dirimu.
Ya siapa diriku?
Yang dengan angkuh berjalan, seakan-akan semua bisa tercapai dengan uang.
Hingga berlarut-larut melupakan keberadaan Sang Penguasa Alam.
Yang memberikan semua ini padaku.
Bahkan Mayasaku.
Engkau pertemukan lagi dia denganku.
Ijinkan aku memilikinya, Tuhan.
Sebagai istriku.
Maka aku mohon padamu.
Mudahkanlah aku dalam membaca dan menghafal ayat-ayatmu.
Sejak pulang dari rumah Mayasa, Fadly belum ingin beristirahat. Tanpa lelah, dia buka tutup membaca
juz ammah. Yang telah dilengkapi dengan cara membacanya, dalam bahasa Indonesia.
__ADS_1
Sesekali menyalakan hpnya. untuk menirukan bacaan dengan benar. Sambil menikmati suasana malam, di beranda rumah.
Sudah 2 surat yang sudah dia hafal. Menambah semangatnya untuk menyelesaikan surat yang ke tiga.
Beginikah rasanya saat membaca al Qur'an. Ada ketentraman dan ketenangan yang dia rasakan. Apalagi dibarengi dengan rasa cinta. Ternyata cinta bisa mengubah segalanya.
"Fadly, kamu tak tidur, Nak?"
"Sedang asyik nich, Ma?"
"Ma, mulai besok kita undang ustadz ke sini ya?" kata Fadly, "Fadly mau belajar."
Veronica menatap putra semata wayangnya dengan senyum bahagia.
"Ya, Nak. Mama juga mau belajar."
"Mama istirahat dulu."
"Ya, "
Bayang-bayang wajah Mayasa yang sedang tersenyum, sesekali melintas dalam angan Fadly membuatnya tersenyum sendiri.
Lalu dia beranjak pergi setelah 3 surat terhafal dalam kesendirian, di malam sunyi, yang ditemani oleh hembusan angin malam, yang membawa kehangatan, bagi jiwa yang merindu.
Berbaring tubuh lelah dalam kesepian menanti kekasih dalam pelukan. Entah dia akan berkenan datang dalam impian, membelainya penuh kemanjaan. Mengusir kegelisahan.
Ah ... mengapa cinta bisa membuat anganku menjadi gila. Adakah Engkau berkenan Wahai yang mengatur hati dan rasa. Bila iya adanya jangan Engkau buat waktu ini terasa lama.
Yang mengujiku dalam kesabaran dan kesetian dalam penantian. Aku takut, aku tak mampu.
Meski saat itu, engkau datang dengan derai air mata dan tangan berlumur darah. Namun aku tahu penyesalanmu begitu mendalam, karena dirimu bukan seperti itu.
Bukan pribadi yang kejam.
Justru semakin nyata bahwa engkau penuh kelembutan dan kasih sayang. Biarlah itu menjadi masa kelammu yang ku tak ingin mengingatnya. Karena kutahu engkaupun tersiksa dengan hal demikian.
Anganku melayang padamu di saat aku ingin mengatupkan mataku.
Ku ingin tidur, Sayang.
Fadly mengusap foto yang terletak di meja kecil dekat tempat tidurnya. Lalu merebahkan diri di pembaringan. Tak lama matanya terpejam. Membawa angannya dalam mimpi ....
π
Saat mentari menyapa dalam senyum pagi. Membangunkan angan yang terpatri dalam hati. Membisikkan rindu akan rasaku pada Mayasaku, yang menanti pula dalam rindu. Kuharap begitu ....
Aku menatap hariku dengan segala harap untuk menggapai mimpi. untukmu dan untukku, kita bersama.
"Assalamu'alaikum , Mama. Aku berangkat dulu."Ucap Fadly mencium tangan Veronica dengan manja.
"Wa'alaikum salam, Nak. Hati-hati!" kata Veronica mengeryitkan dahi hingga alisnya terangkat. Hatinya bertanya-tanya namun suka. Sejak kapan putranya berpamitan dan mengucapkan salam kalau akan bepergian.
Sudahlah tak usah dipikirkan. Toh aku senang menikmati perubahan dirinya, menjadi hangat dan tak lagi arogan.
Semenjak ditinggal ayahnya, dia telah bekerja keras. Hingga diusianya yang lebih dari 30 tahun, belum memikirkan untuk berumah tangga. Kesemuanya itu demi bisa merawat diriku yang sakit-sakitan.
Beruntung sekali Mayasa datang, yang merawat diriku dengan suka rela. Hingga mencapai kesembuhan. Ada kebahagian dalam senyum putraku, yang lama tak pernah mengembang. Ketika diriku kembali bisa berjalan, meski masih tertatih-tatih.
__ADS_1
Dialah Mayasa yang mampu membuka hatinya pada wanita. Dan membuka dirinya dengan sempurna hingga dia jatuh cinta. Dia tak mampu menutupi itu. Dan aku amat merestui itu.
Meski dia baru mengenal tak lebih dari 5 bulan yang lalu.
Aku tatap kepergiannya dengan bahagia. Tak lupa kulantunkan doaku untuknya dalam hati. Agar dengan selamat ketika kembali.
π
Sore itu ketika kamu kembali. Dan tergesa-gesa mandi. Lalu mengambil juz amma yang tadi malam kau beli. Membukanya kembali, dan samar-samar kudengar bibirmu mengucap ayat per ayat dengan merdu.Sungguh mamamu tak mengerti apa yang terjadi denganmu.
"Baca apa, Fadly?"
Fadly menatap mamanya dengan menyungging senyum. Terus terang apa tidak ya ...
"Ini Ma ... baca qul a'udzu birobbin nass, qul a'udzu birobbil falaq, qul huallahu ahad."
"Kamu sekarang pinter mengaji, Nak."
"Malu, Ma. Masak sudah mau berumah tangga tapi belum bisa mengaji. Nanti bagaimana Fadly mau bimbing Mayasa dan anak-anak Fadly."
"Ah ... maafkan mama, Fadly. Mama dulu nggak pernah memikirkan itu."
"He ... he ... he .... Sekarang doakan Fadly, agar nanti di hadapan kak Zaidan, Fadly bisa lancar."
"Eh ... ternyata kamu mengaji hanya ingin dapat restu dari kakak ipar, gitu?"
"Aku bersyukur , Mam. Dapat kakak ipar seperti kak Zaidan. Bisa bimbing aku."
"Syarat itu hanya mengingatkan tentang kewajibanku saja." kata Fadly dengan senyum yang masih terus mengembang.
"Syukurlah, mama jadi ikut senang. Siapa tahu, mama ikut kecipratan pahalamu."
"he ... eh."Fadly mengangguk.
"Udah, Ma. Aku mau hafalin, biar lancar setorannya."
Nyonya Veronica pun berlalu ke dalam rumah, meninggalkan Fadly. Dia sekarang sudah lebih baik. Dan tubuhnya merasa ringan untuk melangkah, begitu dia bisa bertemu Mayasa lagi.
Setelah sholat maghrib bersama satpamnya, Fadly menemui Verinica yang sedang duduk bersama mbok Iyem di ruang tengah.
"Ma, Fadly mau ketemu Mayasa dulu. Doakan lancar bacanya. Agar kak Zaidan mengizinkan kita untuk melamar Mayasa besok."
"Jadi itu syarat melamar, tho."
"Iya, Ma."
Untuk apa berbohong. Toh aku tak keberatan melakukannya.
"Ampuni diriku Tuhan, niatku membaca ayatmu masih kotor. Aku malu. Aku berpasrah padamu. Untuk mencari kerindhoanmu. Maka bersihkanlah hatiku." Bisik hatiku sebelum melangkah pergi.
_________________________
Maaf masih banyak tiponya.
Readers yang budiman. Mohon dukungannya, saran positif, like atau vote. Agar author bersemangat dalam berkarya.
Moga-moga karya ini bisa menjadi bΓ caan favorite
__ADS_1