SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 79 : Untuk Si Kembar


__ADS_3

Fadly menghentikan mobilnya di jalan setapak yang berpaving. Lalu dia menghampiri Mayasa yang duduk lemah menanti dirinya.


"Kali ini biarkan diriku menggendongmu, jangan kau tolak." kata Fadly menginterupsi.


Mayasa diam, dan membiarkan Fadly mengangkat tubuhnya. Tanpa berani memandangnya.


"Kapan aku boleh memilikimu." kata Fadly tiba-tiba.


"Kak, saat ini aku tak berdaya mendampingimu."


"Diamlah kalau begitu, maafkan aku jika aku egois. Aku ingin menikahimu tanpa melihat kamu berdaya atau tidak."


"Maafkan aku, Kak."


"Aku ingin memiliku. Agar aku bisa merawatmu dengan baik. Sebagaimana kamu telah merawat mama selama ini."


Mayasa terisak di dada Fadly.


"Bukankah engkau menolakku saat itu karena kamu belum tahu keluargamu. Kini telah kau temukan keluargamu. Tak ada halangan lagi, kan?"


"Kak Fadly, Mayasa juga ingin bersama kak Fadly."


Begitu bahagianya Fadly mendengar kata-kata itu. Hingga hampir saja dia mencium bibir Mayasa, yang masih dalam gendongannya.


"Kak, jaga diri. Mayasa belum sah untuk Kakak."


"Terima kasih, Sayang. Kamu telah mengatakannya. Besok kakak akan datang untuk melamarmu.Agar jadi sah memilikimu."


Dalam diam, Fadly membawa Mayasa yang masih lemah ke mobilnya. Sambil menahan nyeri yang kian terasa.


Mama fadly keluar dari mobil. Menatap Mayasa yang kini ada di gendongan Fadly.


"Kenapa kamu, Nak?"


"Nggak apa-apa, Mama."


"Turuti Fadly, jangan menolak lagi."


Mayasa tersenyum menatap Fadly yang tak mau menatap dirinya. Bukan karena tak suka, hanya takut tergoda.


Berlahan Fadly mendudukkan Mayasa di kursi depan.


"Kamu nyaman?"


Mayasa mengangguk. Tak ingin menambah beban kekasihnya itu.


"Mama kangen sama kamu, Mayasa."


"Mayasa juga , Ma."


Mama Veronica memeluk Mayasa erat, hingga Mayasa merintih.


"Maafkan mama, Nak. Mama nggak tahu. Kita ke rumah sakit dulu ya ....?"


"Tak usah, Ma. Nanti dipijit juga sembuh."


"Fadly, telpon tukang pijit langganan mama. Kalau perlu kamu jemput."


"Oke, Mama." jawab Fadly gembira.


Mamanya sampai heran melihat perubahan wajah putra tunggalnya itu.


"Mama, kita mampir dulu ke toko ya ... untuk persiapan lamaran besok."


"Benar ... mama bahagia." Sekali lagi dia memeluk Mayasa, kali ini dengan hati-hati sekali.


"Bukankah itu Aris?"


Dari kejauhan terlihat Aris berjalan menghampiri mereka.


"Maaf, aku harus mengantarkan Anya dan Layla pulang dulu. Kak Zaidan ke kantor polisi lansung tadi."

__ADS_1


"Nggak apa-apa."


"Bagaimana keadaan Mayasa."


"Sudah aman bersamaku."


"Ya, sudah. Kalau begitu aku mau belanja, untuk melamar Layla besok."


"Lah ... kamu besok mau melamar Layla, tho?"


"Iya, kenapa?"


"Aku besok juga mau melamar Mayasa. Kita bareng dong."


"Memang mereka kembar. Minta dilamar bareng. Kita harus membiasan diri, nich. Menikahi orang yang kembar" Kata Aris sambil tertawa.


Mayasa yang mendengar di dalam mobil memasang muka cemberut. Bisanya kalian seperti itu. Awas nanti ....


"Kalau gitu kita ke toko bareng ya ..."


"Oke ...."


"Kak Fadly, kursi rodanya."


"Sudah, ditinggal saja. Nanti aku belikan yang baru."


"Mama, restui Fadly ya..."


"Mama sangat merestui kalian."


"Nggak apa, Ma. kita mampir untuk membeli cincin buat Mayasa."


"Boleh, nanti mama bantu."


"Mamaku tersayang," kata Fadly sambil mencium pipi mama Veronica. Sebelum menutup pintu mobil bagi mama dan juga Mayasa.


Sekarang tak lagi terlihat wajah Fadly yang menakutkan dan juga awut-awutan. Kini terlihat senyumnya tersungging ceria. Memperlihatkan suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga. Orang yang selama ini dia cari, telah ditemukannya kembali.


Sejenak dia menatap wanita yang duduk di sampingnya dengan senyum bahagia. Sebelum menghidupkan mesin mobilnya. Mengikuti mobil Aris yang terlebih dulu berjalan keluar taman.


Hampir semua benda mereka beli dengan keadaan yang sama. Hanya kadang warna atau detail tertentu yang berbeda.


Untunglah Mayasa bersama mereka, hingga sangat membantu Aris maupun Fadly untuk memilih benda bagi dirinya maupun kembarannya.


Ditambah saran dari mama Fadly tentang pernak-pernik yang harus dibawa waktu lamaran. Hingga tak perlu waktu lama untuk mempersiapkan itu semua.


"Mayasa, kamu suka ini." kata Fadly sambil menunjukkan cincin emas putih pada Mayasa.


"Maaf , Kak. Jangan emas putih. Nanti Anya takut."


"Lah, yang emas kuningnya sudah dibeli sama Aris."


"Motif yang beda saja."


"Oke, aku balikin. kamu di sini saja."


Tak berapa lama dia kembali dengan membawa cincin berhias berlian yang sangat indah.


"Bagaimana dengan ini."


"Ya, itu. Mayasa suka."


Setelah itu, Fadly kembali ke toko perhiasan itu dan menyelasaikan pembayarannya.


"Ma ... Apalagi yang kurang."


"Insya Allah, sudah lengkap. Untuk yang lainnya biar mama yang mengurusnya. Kan tinggal telpon."


"Mayasa, kamu nggak ingin sesuatu. mumpung kita masih di sini."


"Kak, baju yang macam gini, Mayasa baru punya dikit." Sambil menunjuk baju muslimah yang dia kenakan.

__ADS_1


"Oke , tunggu sebentar, kakak akan belikan."


"Mama juga, Fadly."


"Baik, Ma."


Balik lagi dia mall itu dan memilih baju yang Mayasa pesan.


Sewaktu sedang memilih baju, Aris menepuknya dari belakang.


"Pilih baju, Bro."


"Ya, Mayasa minta model muslimah seperti ini."


"Kenapa yang kau pilih selalu sama dengan apa yang kupilih. Bisa-bisa kita nanti bingung lho."


"Aku juga nggak tahu. Kamu juga kenapa harus sama dengan yang kupilih?"


"Ah ... sudah. Nanti kalau jadi istri kita pasti akan tahu perbedaan mereka berdua."


"Iya."


"Dah, aku duluan." kata Aris sambil mendorong troli yang berisikan belanjaanya.


"Ya, aku menyusul."


Tak berapa lama Fadky juga selesai dengan acara belanjanya. Kembali ke mobil dengan membawa banyak paper bag. Lalu dia letakkan ke dalam bagasi mobilnya.


"Sudah selesai semua, kakak merasa senang.


Moga-moga besok bisa langsung menikah, kayak kakak kamu." ujar Fadly sambil menyandarkan punggungnya di belakang kemudi.


"Maunya ..."


"Kenapa?"


"Aku kan belum sembuh."


"Ya ... ya ... kakak akan sabar."


Mayasa tersenyum lebar.


"Sekarang kembalikan diriku ke kakakku dulu."


"Oke ."


Mama Veronica menyaksikan putra yang bercanda dengan Mayasa, ikut merasa bahagia.


Sekarang matahari sudah hampir sempurna meninggalkan alam ini. Hanya goresan-goresan merah saga, menghias di langit yang mulai kehilangan warna. Karna berganti gelapnya malam menjelang.


Mobil Fadly sudah memasuki pelataran rumah Haydi. Terlihat Layla, Shaffa, Dinda dan Anya menyambutnya.


Berlahan Fadly menghentikan mobilnya. Lalu dia keluar terlebih dahulu. Kemudian membuka bagasi mobilnya untuk mengeluarkan kursi roda.


Baru kemudian, membuka pintu di samping Mayasa. Membantu Mayasa untuk duduk di kursi rodanya. Dinda dan Anya menghampirinya.


"Ammah ...." peluk Anya


"Kamu bagaimana, Sayang."


"Anya berhasil lepas, Ammah."


"Anya, kita ajak ammah ke dalam dulu, yuk. Nanti ceritanya."


Dinda menghampiri Mayasa. Mendorong kursi roda Mayasa. Mereka membawanya ke dalam rumah.


Fadly hanya senyum-senyum sambil membuka pintu untuk mama Veronica.


_________________________


Maaf masih banyak tiponya.

__ADS_1


Readers yang budiman. Mohon dukungannya, saran positif, like atau vote. Agar author bersemangat dalam berkarya.


Moga-moga karya ini bisa menjadi bàcaan favorite


__ADS_2