
"Mungkin sudah saatnya kamu tahu semua tentang Zaidan. Berdosa kalau aku menyimpannya terlalu lama."
"Tentang Zaidan?" tanya Haydi
Hendiyana menaik napas panjang dan mengeluarkannya berlahan. Terlihan bulir -bulir bening keluar di ujung matanya. Dia sangat gelisah.
"Ada apa dengan Zaidan, Kak?" tanya Haydi. Melihat Ana yang tampak berat untuk bercerita."Kalau kakak tak menyukai dia, kenapa tidak kakak usir saja,"
Bulir-bulir air matanya semakin deras mengalir, tak bisa lagi dibendung, dia terisak. Ingin rasanya meluapkan amarahnya. Dia tak menyangka adiknya bisa bersikap seperti ini. Rupanya sifatnya tak banyak berubah sejak dahulu. Sering memandang rendah orang yang ada di sekitarnya. Tapi dia mencoba bersabar. Apalagi saat ini Haydi terlihat kurang sehat.
Haydi, tak ingatkah dengan apa yang dia perbuat pada masa mudanya dahulu. Atau kah sengaja menguburnya dalam sikap yang arogan seperti ini.
"Haydi. aku tak tahu , apa engkau ingat atau tidak dengan apa yang engkau perbuat pada masa lalu dengan Riyan."
"Kak Ana."Teriak Haydi sedikit membentak kakaknya dengan keras.
"Kak Ana tahu apa?"jawabnya dengan mendengus.Namun tergambar tipis kesedihaannya yang mendalam di wajahnya.
Terbayang peristiwa 30 tahun yang lalu, Tinggal jauh dari orang tua. Dengan fasilitas serba ada. Tanpa ada yang mengawasi. Membuat dirinya jatuh dalam pergaulan bebas.Semua tergambar jelas dalam ingatannya.
Hingga pada suatu hari dia mengenal seorang laki-laki yang sangat menawan hatinya. Yang tak lain kakak kuliahnya di kampus. Hampir 6 bulan mereka berpacaran. Semua baik-baik saja.
Pada bulan pebruari, dia datang ke pesta temannya bersama dengan Ryan , yang juga diundangnya juga. Pulang dari pesta, mereka mampir ke sebuah club malam hingga larut.
Setelah lelah, Ryan tidak langsung mengantarnya pulang. Dia mengajaknya ke sebuah villa milik keluarganya. Dan dia menurut saja.
"Haydi lama kita berpacaran. Tapi mengapa aku masih ragu denganmu." sambil merapatkan tempat duduknya.
"Maksud kakak apa?" Haydi menatap Ryan dengan gelisah. Namun dia tak tahu harus berbuat apa.
"Tidak apa-apa sayang." Kata-katanya yang lembut seakan membius kesadaran Haydi. Dan dia hanya mampu memejamkan mata manakala bibir Ryan mulai menyentuh tengkuknya.
Dan nafsu setan membakar hasrat membara keduanya. Hingga terlena dalam dosa.
Entah mengapa saat itu, Haydi menurut saja dengan kemauan kekasihnya itu. Hingga dengan rela menyerahkan milik satu-satunya. Yang seharusnya dia jaga hingga mencapai ikatan yang sah menurut agama maupun negara.
"Kak Ryan, apa yang telah kita lakukan?"tanya Haydi sambil menangis.
"Tenanglah, kalau terjadi sesuatu aku pasti bertanggung jawab." jawab Ryan dengan senyum kepuasan dan ringan. Dia menyeka tetesan air mata di sudut mata kekasihnya itu. Lalu meninggalkan Haydi dalam keadaan hatinya yang masih tergoncang.
Hari kedua di villa itu, Ryan melakukan hal yang sama terhadap dirinya. Dia hanya diam.
Hingga satu minggu di villa itu, mereka menikmati dosa seakan terbiasa dan membuat keduanya ketagihan. Hampir tiap akhir pekan keduanya akan menghabiskan waktu di villa itu, tanpa melewatkan perbuatan dosa mereka.
4 bulan kemudian baru dia sadar ada perubahan dalam dirinya.
"Heydi, akhir-akhir ini kamu kelihatan pucat. Apa kamu sakit." tanya Intan, teman kampusku.
"Tidak ada apa-apa. Kalau suka lelah, iya." Jawab Haydi.
"Atau mungkin kamu mau dapet."
Oh my God. Bukankah 3 bulan ini aku belum mendapatkan tamu rutinku. Teriak Haydi dalam hati. Jangan-jangan ....
__ADS_1
Pulang dari kampus segera dia mampir ke sebuah apotik untuk membeli tespect.
Dengan ragu dia memasukkan alat itu pada air seninya. Terlihat 2 garis merah di alat tersebut.
Dengah lesu dia duduk di tepi ranjang.
Tak mungkin...
Bagaimana ini...
Apa yang terjadi bila papa tahu...
Ah mungkin alat ini yang salah...
Besok aku caba lagi.
Sudah tiga kali dia mencoba, tiga kali pula dia mendapat hasil yang sama. Bahwa dia telah mengandung tanpa ikatan pernikahan. Hasil perbuatan dengan kekasihnya.
"Gugurkan saja, kenapa sih!" itu yang dikatakan Riyan saat dia memberi tahu bahwa dirinya mengandung benih darinya. Hati ini teriris perih mendengar kata-kata yang tak pantas itu. Dia hanya mampu menangis menyesali perbuatannya.Tapi diturutinya juga kemauan Ryan.
Beberapa kali dia mencoba untuk menggugurkannya namun tak pernah berhasil. Akhirnya dia pasrah tak lagi berkeinginan untuk menggugurkannya. Apalagi Riyan saat itu menunjukkan itikad baik untuk bertanggung jawab atas anak yang dikandungnya. Bila anak itu telah lahir.
Ternyata semua itu hanya kedok belaka, untuk memeras dirinya dan Riyan dapat menggauli dirinya dengan bebas.Tapi dia sudah dibutakan oleh yang namanya cinta. Ya ....cinta yang salah.
Dan yang lebih menyakitkan, di hari-hari menjelang kelahiran anaknya, Ryan membawa seorang wanita yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Dengan ringan mengatakan bahwa esok akan menikah, Karena desakan orang tuanya.
"Kak Ryan, Bukankah setelah aku melahirkan. Kakak akan menikahiku ..."
"Maaf Haydi, siapa juga yang mau menikahi gadis yang sudah ternoda."
"Bagaimana mungkin aku bisa mengakui bahwa itu anak aku. Bisa jadi,kamu juga berhubungan dengan orang lain yang tidak aku ketahui." jawabnya ringan.
"Bukankah kakak yang mengambil keperwananku?"
Ryan hanya tertawa mengejek.
"Terima kasih. kamu dengan suka rela menyerahkannya padaku. Bukankah kamu menikmatinya."
"Tapi yang sekarang ada di rahimmu itu, mungkin benih orang lain. Bukankah kamu suka ke club malam. Dan kadang-kadang kamu juga suka mabuk."
"Kak Ryan, aku tak pernah berhubungan dengan orang lain selain kakak." jawab Haydi yang tak lagi bisa mengusai emosinya. Hingga dia berteriak sambil menangis.
"Tangismu tak bisa lagi membohongiku Haydi."
"Aku tak bohong, Kak."
"Tapi aku tak bisa Haydi. Malam ini juga aku harus ke Medan. Shella telah menungguku. Begitu juga orang tuaku."
"Shella ... "
"Ya , Shella. Kami telah dijodohkan."
Dunia seakan berhenti beeputar saat itu juga. Mendengar penjelasan dari mulut Ryan sendiri. Bahwa esok akan menikah dengan seseorang yang selama ini sudah dianggap sahabatnya. Lalu dia sudah tak ingat lagi apa yang terjadi.
__ADS_1
Hanya satu kata saja yang dia dengar sebelum dia hilang kesadaran.
"Haydi ... "
Lalu dia sudah tak ingat lagi apa yang terjadi.
💎
Dimana aku ini ...
Haydi menatap seluruh ruangan kini dia berada.
"Alhamdulillah, Mbak telah sadar. " Kata seorang perawat sambil tersenyum padaku.
Ah ... rupanya aku berada di rumah sakit. Siapa yang membawaku ke sini.
"Mbak kok bawa mobil sendiri sich ... mana lagi hamil tua lagi. Untunglah tadi ada pemuda baik hati yang mau mengantar Mbak ke sini."
"Ke mana dia sekarang, Mbak."
"Buru-buru pergi. Katanya ada urusan penting, takut ketinggalan pesawat."
Laki-laki baik?
Dasar laki-laki pengecut. Umpat Haydi dalam hati.
"Tapi barang-barang mbak diantarkan ke sini semua. Termasuk kunci mobil mbak ..., kalau bukan orang baik tentu mobil itu dibawanya." kata suster itu menerangkan. Namun tak sedikitpun digubris oleh Haydi. Pikirannya melayang. Menangisi nasibnya.
Baik apanya ...
Tidak bertanggung jawab...
"Accchhhh ... sakit." teriak Haydi sambil memegang perutnya yang buncit. Semakin lama rasa sakit itu makin menderanya. Dan dengan tempo yang semakin sering.
"Tenang , Mbak. Mungkin mau melahirkan." kata suster itu tenang.
"Menurut hpl bulan depan, Sus."
"Kadang maju kadang mundur itu biasa, Mbak. Mari saya periksa dulu." Dengan telaten dia memeriksanya.
"Sudah pembukaan lima."
"Ambil napas dan dorong bila yang di dalam sudah siap."
"Ngomong apa sich, Sus. Sakitnya ini bukan main tahu!"Rancau Haydi menahan sakit. Sekujur tubuhnya telah di basahi oleh peluh.
1 jam kemudian...
"Oèk ... oek ..." terdengar suara bayi yang menangis.
"Selamat, Mbak. Sekarang anda telah menjadi seorang ibu. Bayi itu sehat dan montok" kata suster itu gembira. Sambil memperlihatkan bayi yang masih merah oleh darah ke hadapan Haydi.
Haydi hanya memejamkan mata. Tak ingin melihatnya.
__ADS_1
"Ibumu masih kelelahan, Sayang." Lalu dia membawa bayi itu pergi.
Tak berapa lama, dia kembali dengan sebuah box yang sudah berisi bayi mungil.