SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 53 : Penculikan


__ADS_3

Hari ini Zaidan akan bertanding dalam bidang mengolah bahan makanan, melawan kepala bidang-kepala bidang di perusahaannya. Benar-benar hal yang surprise banget buatnya.


Dengan kepala sedikit cemut-cemut, Zaidan akhirnya maju dengan senyum coolnya. Padahal hatinya teramat gemetar, mengalahkan getaran asmara orang yang sedang jatuh cinta. wkwkwk...


Baru kali aku dapat cobaan yang bikin panas dingin. Kalau mau pilih antara bekerja lembur seharian dengan memasak, aku pasti pilih lembur dech ....


Bagaimana coba?!.


Tak pernah masak sama sekali. Tahu-tahu sekali masak dengan menu hidangan lengkap. Eh tak jadi dech ...


Tega nian kau Layla, bikin kakakmu ini mati kutu.


Dan yang paling bikin sebel. Ternyata sistem lombanya adalah mengolah bahan yang dirahasiakan. Nach lo ....


Rasanya belajar semalaman dengan Humaira, tidak ada gunanya.


Dengan perasaan sedikit dongkol, Zaidan memakai celemek dan tutup kepala ala koki handal. Mempersiap diri, 10 menit lagi lomba akan dimulai. Tentu dengan dibantu oleh Dinda, yang dengan setia dengan senyumannya.


Chef Juna sudah berdiri di depan sebuah meja. Terdapat sebuah napan yang tertutup rapat. Tempat bahan makanan yang akan diolah dalam lomba kali ini.


"Baik, sekarang kita akan kita buka. Bahan yang akan kita olah kali ini adalah ...."


Cheff Juna berlahan membuka napan tersebut.


"Bismilallahir rohamanir rohimm"


Ternyata yang ada di dalam napan itu adalah Udang.


"Silahkan diolah dan divariasi menurut selera masing-masing."


Masya Allah, Udang. Apa yang mesti aku masak apa dengan udang ini.


"Semangat, Ayah."


Dinda dan Anya memberi semangat.


Masa bodoh dengan pembelajaran tadi malam. Hadapi dan olah.


Lihat udang, jadi terbayang wajah Humaira yang selalu merah merona. Haaalalaah ...


25 menit sudah diriku berkutat dengan hewan yang namanya udang. Dan akhirnya jadilah 3 menu masakan. Tak tahu namanya. Pokok mateng , beres.


"Pak Zaidan, masakan ini namanya apa?"


"Yang ini. Udang caus hitam ala ayah.


Yang ini. Sup udang ala ayah.


Dan yang terakhir adalah cah udang tahu ala ayah."


"Bagus. Pak direktur kreatif juga."


"Sudah kan cheff."


"Baik. Nanti Bapak tinggal tunggu hasilnya."


Setelah 30 menit tepat, lomba sudah dinyatakan selesai. Tinggal penjurian.


"Silahkan ibu-ibu untuk mencicipi dan berilah penilaian. Dengan memberikan poin pada kotak yang tersedia." Suara Layla menggema memanggil ibu-ibu untuk menikmati hasil masakan kami semua.


10 menit semua makanan telah habis. Kulihat kotakku masuk beberapa lembar kartu. Alhamdulillah, ternyata masakanku ada yang suka. Meski tak banyak.


"Bagaimana, Ayah."

__ADS_1


"Beres, selesai sudah. Sekarang Ayah dikasih hadiah, dong."


Jarinya menyentuh pipinya sambil melirik Anya dan Dinda.


Anya langsung memberikan ciumannya di pipi ayahandanya. Sedangkan Dinda hanya tertawa menatap Zaidan.


"Jangan tertawa ... Mana hadiahnya."


"Mas. Lihat itu." teriak Dinda sambil menunjuk ke arah langit.


"Apa?!" Zaidan segera mengarahkan pandangan pada arah yang ditunjuk Dinda.


Dinda dengan cepat memberikan ciuman di pipi kanan Zaidan. Lalu menyembunyikan wajahnya di balik lipatan kerudungnya.


Zaidan menatap Humaira dengan senyuman dan kebanggaan.


Ingin rasanya segera meraih tubuh mungil Dinda dalam dekapannya. Kalau tak ingat ini masih di pelataran kantornya.


Zaidan melihat Anya menguap, merasa putri sudah saatny beristirahat. Seharian telah menemani dirinya.


"Sepertinya putri bunda sudah lelah."


"Kamu tunggu di ruangan ayah dulu. Ayah menyusul."


"Ayah mau menemui cheff dulu."


Dinda mengangguk. Dan berlalu sambil menggendong Anya yang matanya mulai redup, menahan kantuk yang sangat.


Baru melangkah hendak memasuki liff, dari arah belakang seakan ada yang menyentuhnya.


Spontan dia berbalik, "Siapa kau?"


Satu orang langsung mengambil Anya dari tangannya. dengan menutupkan sebuah sapu tangan di hidungnya.


Setelah itu Dinda tak ingat lagi apa yang terjadi.


💎


Tak lama setelah mengantar cheff Juna ke mobil, Zaidan segera menyusul ke ruangannya, yang ada di lantai 5.


Suasana kantornya sudah hampir sepi, hanya tinggal beberapa orang yang masih tinggal.


Dengan langkah ringan, Zaidan menuju ruangannya. Di depan pintu ruanganya dia tertegun, mengapa pintu ini terbuka. Tak ada orang di dalam. Mejanya seolah ada yang menyentuhnya meski terlihat rapi.


Perasaannya tak enak. Segera dia membuka ruangan satunya, hanya dia dan Dinda yang tahu. Namun tak ditemui.


"Humaira, Anya sayang. Dimana kalian."


Zaidan masih berusaha tenang. Dibukanya kamar mandi. Lalu dengan sedikit berlari dia keluar menuju ke ruangan cctv.


Dia amat terkejut mendapati kedua penjaganya dalam keadaan tertidur tak sadarkan diri.


Terlihat cctv semuanya dalam keadaan mati.


Segera dia ambil air untuk membangunkan penjaga cctv - nya itu. Agar segera tersadar.


Sementara sambil menunggu sadar, dia berlari keluar. Mungkin masih ada orang yang bisa menjelaskan keadaan ini. Namun mobil terakhir juga akan meninggalkan pelantaran kantornya.


"Layla ... Layla ... "


Namun suaranya tak jua bisa menghentikan laju mobil itu.


Zaidan terduduk lemas di depan pos jaga di lantai 2.

__ADS_1


"Humaira sayang, Anya sayang. Dimana kalian."


Dia ambil Hp-nya.


"Aldo, tolong segera ke kantor."


"Ada apa, Zey."


Namun dia segera menutupnya.


Lalu menghubungi nomor yang lain.


"Alfath, tolong ke kantor segera."


"Ya. Pak*."


Zaidan sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Hatinya benar-benar down. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bulir-bulir bening menyusup di sela-sela jari-jarinya.


"Pak, maaf. Kami tak tahu kalau bapak di sini?"


"Bersihkan diri kalian, dan hidupkanlah cctv-nya."


"Baik, Pak."


Dengan langkah gontai Zaidan meninggalkan mereka, kembali ke ruangannya.


Nak, putri ayah yang manis, kamu dimana?


Jangan tinggalkan ayah sendiri, Nak!


Kamu jangan jauh-jauh dari ayah.


Humaira , kamu ajak bermain dimana putri kita.


Humaira, baru kemarin kamu datang untuk kami.


Haruskah kamu pergi meninggalkanku.


Seperti Zahara meninggalkanku.


Jangan lakukan itu, Humaira sayang.


Setelah sampai di ruangannya. Zaidan terduduk lemas di sofa. Air matanya makin deras mengalir.


Lalu dia ambil lagi hpnya.


"Aldo, kamu sudah sampai mana?"


"Sebentar lagi, Zay."


"Sudah saatnya menggerakkan orangmu. Hubungi mereka."


"Jangan khawatir, Zay."


Dia menekan tombol pintunya dari dalam. Lalu menuju ke kamar pribadinya.


Dalam gelisah , Zaidan pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Menghadap pada yang Maha tahu, Mengadukan semuanya. Tentang keadaan yang kini dia alami.


Humaira, seharus saat ini kamu di kamar ini, menungguku. Dan Kamu akan memeluk putri kita, dengan mengabaikanku. Mengapa aku harus lalai menjagamu. Hingga dalam sekejap engkau menghilang.


Tuhan, Aku sepertinya belum sanggup bila saat ini harus kehilangan mereka berdua.


Mohonku Tuhan, Jagalah mereka dimana mereka berada. Langkahkan kaki ini, menuju yang kini membuat aku merindukannya. Engkaulah maha pemelihara dan penjaga.

__ADS_1


Robbana dholamna anfusana wa illam taghfirlana lanakunanna minadl dlolimiin.


__ADS_2