SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 83 : Bertukar Peran


__ADS_3

Menyukai si kembar ternyata unik. Entah ini


sengaja atau tak sengaja. Aku dan Aris kembali bertemu lagi di malam ini.


Aris sudah nongol duluan saat aku datang. Mungkin dua menit lebih dulu. Karena dia baru menutup mobil saat aku mau masuk ke pelataran rumah bunda Mayasa.


"Hai Bro ...."


"Hai juga , he ... he ...."


"Ho ... oh."


"Bareng lagi."


Sejenak aku memarkir mobil. Menghampitinya, kita berjalan beriringan.


"Sehati."


"Yang di dalam."


" Kita hanya digerakkan."


"Sepertinya begitu."


Belum lagi langkah ini sampai. Dari dalam rumah, terlihat si kecil Anya berjalan cepat menghampiri kami.


"Stop."


Sambil berkacak pinggang, hendak menghentikan langkah kami.


Duh ... kamu itu gemesin sekali Anya. Mana kami lagi rindu berat lagi.


"Adik Anya yang manis ."


Aris meraih tubuh Anya ke dalam pelukkannya dan mencium pipinya.


"Aku bukan adik, Om. Aku kakak Anya."


"Benarkah?!"


"Kita akan dapat keponakan lagi."


"Sepertinya."


"Oke, kakak Anya."


"Kok, om Aris dan om Fadly tak boleh masuk, kenapa?"


"Pokoknya nggak boleh."


"Om berdua hanya pingin ketemu sama tante sama ammah."


"Untuk apa?


Kecil-kecil pandai introgasi nich. Mungkin sudah keturunan kali.


"Ya, pingin jenguk ammah."


"Tak, tak boleh. Sebelum ammah mengijinkan."


"Nah, itu siapa?"


Terlihat Mayasa melambaikan tangannya ke arah Anya.


"Baiklah, sekarang boleh."


"Om Aris, mana oleh-olehnya?"


Nach lho ... terlupa kalau punya keponakan.


Ekor mata Aris melirik ke arah Fadly. Yang juga senyum-senyum.


Cepat-cepat Fadly pesan kue pizza melalui aplikasi hp-nya


"Sabar ya, sebentar lagi datang. Kita tunggu di rumah. Ammah sudah manggil tuch."


Masih dalam gendongan Aris, di mengangguk. Karena Aris juga nggak mau menurunkan Anya.


"Assalamu'alaikum, Mayasa."


"Sayang, udah baikan."


"Wa'alaikum salam ... Alhamdulillah sudah jauh lebih baik."


"Anya turun sayang. Kasihan om Aris."


"He ... he ..."


Berlahan Anya turun dari gendongan Aris. Menghampiri Mayasa.

__ADS_1


"Tante tugasku sudah selesai."


"Tugas?!" berdua kami bergumam. Agak bingung juga dengan apa yang baru saja dikatakan Anya.


"Aku temenin tante, nggak apa-apa ya, Om."


sambil menatap Fadly, yang pandangannya tak lepas dari Mayasa.


"Boleh. Dengan senang hati."


Fadly meraih Anya dalam pelukannya. Lalu tangan yang satunya mendorong kursi roda Mayasa. Menuju ke beranda , meninggalkan Aris yang sedang menemui Layla.


Tumben Layla tak beranjak dari tempat duduk di ruang tamu. Meski tahu bahwa Aris datang. Dia hanya tersenyum menatapnya.


"Kak Aris, maaf aku lagi baca buku, tanggung tinggal sedikit."


"Ada saja kamu. Memang calon istri gue manja banget rupanya." Layla tersenyum tak peduli.


Aris berlahan meletakkan tubuhnya di samping tempat duduk Layla.


"Baca apa sich, serius banget."


Aris mencoba menengok isi buku yang sedang dibaca oleh Layla. Dengan sigap Layla menghindarkan bukunya dari Aris.


"Suka novel ya."


"He ... eh."


"Sudah sholat?"


"Sudah, tadi jamaah sama mbak Dinda."


"Sudah mengaji?"


"Mbak Dinda keburu pergi. belum sempat."


"Layla, adikku yang manis, jujur! ... kalau mengaji nunggu mbak Dinda dulu?"


Ups ... aku harus jawab apa.


"He ... he ... he ..."


Melihat Layla seperti ini, sepertinya aku ragu bisa menyelesaikan tugas Zaidan.


Aneh-aneh saja Zaidan ini. Mau melamar adiknya saja, pakai tes-tes segala. Mana sulit lagi. Suruh mengajari Layla membaca surat Al Ahzab.


"Boleh Novelnya ditutup dulu. Bantu mas."


"Bisakah Layla membaca surat al Ahzab."


"Kakak bawa Al Qur'an."


"Pakai hp saja."


"Baiklah."


Dengan percaya diri, dia membaca tulisan yang ada di hp. Sedangkan Aris mendengarkannya dengan geleng-geleng kepala. Sesekali dahinya berkerut.


"Stop ... stop."


"Salah ya ... Kak."


Aris bingung harus jawab apa. Hampir semuanya salah. Karena yang dibaca, bahasa Indonesianya.


"Nanti kalau sudah menikah, kakak akan ajari kamu."


"Alhamdulillah, berarti sekarang aku boleh meneruskan membaca novel ini?"


"Nggak."


"Kok"


"Kak Zaidan kasih syarat, kalau mau melamarmu. Harus bisa ngajari kamu baca surat ini."


"Bagaimana, siap?"


Seketika dia terdiam dan wajahnya terlihat pucat.


"Sudah, nggak usah kagetan gitu."


Tahu gini, aku tadi nggak akan tukar peran dengan kak Layla.


Itu kak Layla asyik banget, hanya dengerin kak Fadly membaca. Dia diam saja. Surat yang dibaca kelihatannya juga lebih mudah.


"I .. iya Kak. Harus bisa sekarang?"


"Kalau kamunya lama bisa. Terpaksa lamarannya ditunda. Padahal kamu kan juga sudah tahu. Bapak/Ibu Hamdan sudah bersedia melamarkanmu besok. Nggak enak kalau menundanya."


Bagaimana ini, Nggak mungkin aku bisa. Kemarin aku baru selesai al Fatihah doang. Itupun masih terbata-bata.

__ADS_1


"Sudah, simak dan tirukan bacaan kak Aris." kata Aris membuyarkan keresahan Mayasa, yang disangka Layla oleh Aris.


Dengan gemetaran, Mayasa mengikuti bacaan Aris. Terbata-bata mengucapkan kata perkata. Sampai-sampai keringat dingin keluar, membasahi telapak tangannya.


Melihat itu Aris merasa nggak tega. Lalu menghentikan bacaannya.


"Tenanglah, nggak usah dipaksakan. Kalau tak bisa. Nggak kan mungkin kakakmu membatalkan rencana kita." sambil memegang tangan Mayasa.


Namun berlahan Mayasa melepasnya.


"Tidak, aku pingin bisa."


Mayasa melihat hp dengan penuh keseriusan. Mencoba kembali mengucapkan apa yang sudah diucapkan oleh Aris. Tapi belum juga berhasil.


"Minum dulu, Layla." Aris merasa iba.


"Kak Aris pasti kecewa, Ma ... Layla nggak bisa baca."


Ma .... kata-kata yang baru saja keluar dari bibir Layla, membuat Aris berfikir. Tapi tak mau menduga terlalu jauh.


"Kamu meragukan kak Aris ya ...." kata Aris sambil tersenyum.


Kak Layla beruntung sekali punya kak Aris, penuh perhatian. Seharusnya kata-kata itu kak Layla yang mendengarnya. Aku jadi tak enak hati sama kak Layla. Mengapa aku tadi merencanakan ini. Jadi bumerang untukku.


"Sudah sekarang ikuti bacaanku. Seperti Fadly ucapkan. Oke!"


"Berarti gagal dong."


"Nggak ada kata gagal. Bukan saatnya kamu mengaji surat itu. Dan lagian kak Zaidan kasih tantangannya kok berbeda. Tak adilkan?"


Kata-kata Aris menentramkan hati Mayasa. Dengan berlahan-lahan kembali dia mengikuti bacaan surat al Ikhlas.


Setengah jalan dia membaca, kak Zaidan keluar menemui mereka.


Sejenak dia tertegun menatap mereka berdua. Dalam batinnya dia bertanya. Mengapa Mayasa yang bersama Aris. Bukan Layla. Apakah Aris menyadarinya?


"Hai, Ris. Bagaimana?"


"Zay, kamu curang. Masak Fadly kasih ayat pendek. Sedangkan Lalyla surat panjang. Kasihanlah ....Tega bener kamu sama adik kamu sendiri."


Zaidan yang tahu bahwa yang ada di samping Aris itu Mayasa, hanya senyum-senyum. Salah sendiri kalian bersandiwara.


"Bagaimana?"


"Aku ajarin yang mudah saja. Kasihan."


"Okelah, kutunggu 15 menit lagi."


"Gimana, masih sanggup Layla."


"Nggak apa-apa, Kak."


"Mana Fadly?"


"Di luar."


Dilihatnya Layla asyik sendiri bermain dengan Anya. Tidak peduli Fadly yang tengan tekun menghafal ayat-ayat itu.


"Anya, sini!"


Anya menghampiri Ayahnya sambil membawa satu kotak pizza.


"Dari siapa?"


"Om Fadly."


"Anya, bisa wakili ayah nyimak bacaan om Fadly dan ammah?"


"Kenapa, Ayah?"


"Ayah mau temenin bunda. Bunda agak sakit."


"Oke."


Zaidan meninggalkan mereka semua, menuju ke kamar. Menemui Dinda yang sedang berbaring lemah di atas kasur.


"Bagaimana, masih mual."


"Udah enakkan."


"Besok kita ke dokter."


"Terserah Mas saja."


"Semoga ini bertanda baik buat kita."


Dinda hanya tersenyum tipis.


"Bagaimana dengan tantangan mas untuk mereka."

__ADS_1


"Kusuruh Anya menyimaknya."


"Aku pingin lihat cara Anya mengatasi mereka."


__ADS_2