SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 85 : Paman Handoko


__ADS_3

Sore yang indah menyelimuti alam maya. semburat gradasi pelangi menghias cakrawala, sabagai sapanya pada berlalunya hujan yang baru saja.


Sejuk hembusan seruni, berbisik rindu pada kasih yang akan datang nanti. Mungkinkah kehangatan tercipta, pada dinginnya rasa yang menyentuh di kulit ari saat ini?


Berharap sangat bahwa, iya sebagai jawaban atas penantian selama ini. Karena aku rasa, cinta itu telah menyapaku. Tinggal menunggu waktu, untuk berani nyatakan isi hati . Hingga terbalas sempurna penghias kerinduanku selama ini. Bukan hanya mimpi semata.


Bersama langkah kaki menuju yang terkasih atas segala kasih. Agar tak salah arah ku mengambil jalan. Karena aku baru akan belajar, yang tiada guru dan tiada murid kecuali diri kami sendiri.


Apakah itu?


Rumah tangga.


Hanya saja, menjelang petang mengapa paman itu datang. Paman yang dulu yang kukenal di dunia hitam. Adakah kakak Zaidan tahu dan menyadarinya.


Ataukah kakak Zaidan buta tentang hal itu. Hingga tak sadar musuh sebenarnya ada di sampingnya.


Mayasa menyembunyikan dirinya di dalam kamar. Dari balik cendela, dia memperhatikan Handoko masuk ke rumah Haydi. Yang disambut Zaidan dengan ramah.


"Zai, Kamu di sini?"


"Ya, Paman."


"Tumben, Paman ke sini?"


"Kudengar Layla mau lamaran?"


"Ya, Paman. Malam ini."


"Benarkah?"


Sudah hampir 6 bulan dia tak pernah mengunjungi adiknya, Haydi. Dia tak mengetahui perkembangannya. Yang diurusi hanya dunianya saja dan dendamnya.


Dendamnya kepada keluarga Hendrawan. Orang yang telah membesarkannya dan mendidiknya hingga dewasa. Padahal mereka memperlakukannya layaknya keluarga sendiri.


Bahkan satu perusahaan yang dimiliki oleh Hendrawan diberikan padanya. Tapi dia terlalu serakah. Menginginkan semua menjadi miliknya. Bahkan perusahaan milik Haydipun ingin dia kuasai. Segala cara dia coba. Namun tidak berhasil. Karena suami Haydi saat itu sangatlah lihai dan pintar.


Kesempatan terbuka pada saat suami Haydi meninggal dunia. Secara berlahan perusahaan Haydi menjadi miliknya. Hanya satu perusahaan peninggalan ayah Layla yang masih tersisa, berkat campur tangan Zaidan.


Dengan membeli sebagian kecil saham perusahaan yang di atas namakan Hayana, putri kecilnya. Zaidan bisa leluasa menyehatkan perusahaan tersebut.


Namun demikian Haydi tak pernah sedikitpun menaruh curiga pada Handoko. Dia masih menganggap Handoko, sebagai kakaknya. Dan memperlakukan sebagaimana layaknya kakak kandung baginya.


Sebegitu rapi Handoko menutupi kebusukannya. Bahkan ketika dia menyembunyikan bayi yang telah dilahirkan oleh Haydi dan memberikan pada Ryan. Haydi tak menyadari Semua itu dilakukan untuk menyakiti keluarga Hendrawan, ayah Haydi.


Dia seolah-olah memberi perhatian pada Haydi. Tapi semuanya hanya untuk mencari celah untuk melumpuhkannya.


Satu yang tak bisa dia pengaruhi yaitu Hendiana. Kakak kandung Haydi. Dia merasakan bahwa Handoko bukanlah orang yang sebaik kelihatannya. Namun dia menyimpannya saja. Tak berani mengambil tindakan. Karena dia seorang wanita, dan sulit menemukan yang nyata atas kebusukkan hati Handoko. Hanya saja dia waspada. Dan sedapat mungkin bisa melindungi keluarganya.

__ADS_1


Hendiana sangat perhatian dengan Zaidan kecil. Mendidiknya dengan baik sejak dia masuk dalam keluarganya. Hingga mampu mandiri. Dan meninggalkan Zaidan yang sudah mampu mandiri di Indonesia untuk mengikuti suaminya ke Singapura.


Usaha Ana menampakkan hasilnya. Zaidan tumbuh pribadi yang tangguh dan mampu melindungi keluarganya, meski saat itu Haydi belum bisa menerimanya.


Handoko menyadari kalau Zaidan sangat kuat dan sangat trampil dalam mengembangkan bisnisnya. Beberapa perusahaan yang menjadi incarannya. Malah bekerja sama dengan Zaidan.


Betapa geramnya Handoko pada Zaidan. Yang telah membuyarkan angannya selama ini. Jangankan untuk mengusai perusahaan milik satu-satunya keluarga Haydi. Perusahaannya sendiripun salah satunya sudah menjadi milik Zaidan.


Dia semakin marah dan dendam pada sisa-sisa keluarga Hendrawan. Namun dia ingin menyakitinya secara berlahan.


Salah satunya dengan membakar dendam Mayasa yang tak tahu apa-apa. Ditambah dengan ancaman Ryan pada nenek Yasmin yang telah memeliharanya sejak dia bayi. Membuatnya gelap mata dan menuruti saja kemauan mereka berdua.


Sayang rencana itu berakibat sebaliknya. Menyebabkan Mayasa mengetahui siapa dirinya. Yang telah dengan mudah diperdaya oleh orang-orang yang membenci keluarganya.


Saat inipun langkah kaki Handoko ke rumah Haydi, juga dalam rangka memenuhi dendamnya yang tersembunyi.


Hanya saja dia tidak menyangka kalau musuh utamanya ada di sana. Dia memandang penuh selidik pada Zaidan yang menyambutnya dengan baik dan tenang, tanpa ada prasangka sedikitpun.


"Kamu di sini, Zei?"


"Ya, Paman. Untuk persiapan nanti malam."


"Sejak kapan Haydi menerimamu?"


Zaidan tersenyum menanggapi pertanyaan Handoko, pamannya. Mungkin karena jarang mengunjungi Haydi, maka Handoko tak tahu kalau Zaidan adalah anak kandung dari Haydi.


"Maksudmu?"


"Mami Haydilah ibu kandung Zaidan."


"Tak mungkin ..."


"Tes DNA-nya demikian, Paman."


Memang, setelah ada pengakuan dari Haydi bahwa dirinya adalah putra Haydi, Zaidan melakukan tes DNA. Agar dia mendapat bukti yang bisa dipertanggung jawabkan. Karena Haydi tak mau cerita apapun tentang dirinya, mengapa dia bisa terpisah dari keluarganya.


"Oh .... Dimana mamimu?"


Dahi Handoko tetlihat berkerut memandang Zaidan. Terlihat tak senang, tapi senyumnya mampu menyembunyikan suasana hatinya yang kecewa.


"Di dapur sama istri saya, Paman."


"Kapan kamu menikah, mengapa paman tidak kamu undang."


"Resepsinya aku undang , Paman."


"Kapan?"

__ADS_1


"5 hari lagi."


"Oke, paman akan datang. "


Dan akan membuat kejutan untukmu, yang tak penah kamu pikirkan. Gemuruh dendam mengusai jalan pikiran Handoko.


Setelah duduk sejenak di ruang tamu, Haydi menemuinya.


"Hai, Kakak. Tumben jenguk Haydi."


"Ya, kakak kangen sama kamu. Ini mau ada acara ya..." sekedar basa-basi Handoko, namun bibirnya terlihat tersenyum mengejek.


Sayangnya Haydi dan Zaidan tidak memperhatikannya.


"Ya, Kak. Insya Allah Layla dan Mayasa ada yang melamar."


"Mayasa?"


Kali ini Handoko benar-benar terkejut dengan nama yang baru disebut oleh Haydi.


"Iya, Kak. Akhirnya anak-anakku sekarang bisa berkumpul bersamaku. Aku sangat gembira."


"Kakak juga ikut gembira mendengarnya."


"Tapi kenapa kakak tak pernah diberi tahu?"


"Maaf, Kak. telpon kakak sering tak bisa dihubungi."


"Oh .... masak?"


"Kakak ke sini, untuk itu, Kan?"


Handoko terlihat terdiam lama. Yang sebenarnya dia ke rumah Haydi bukan untuk itu. Tapi ingin menikahkan Layla dengan koleganya. Agar dia bisa leluasa berbisnis dengan orang tersebut.


"Maafkan kakak. Sebenarnya kakak ke sini untuk menyampaikan wasiat ayah dulu untuk Layla."


"Maksud Kakak?"


Handoko seperti menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan berat.


Setelah itu berlahan-lahan berkata dengan Haydi, yang menatapnya dengan tanda tanya besar di pikirannya.


"Dulu sewaktu papa Hendrawan masih segar, mempunyai seorang sahabat. Namanya Jalal. Beliau mempunyai putra yang hampir sebaya dengan Layla. Lebih tua sedikit."


Hati Haydi dan Zaidan menjadi berdebar-debar, kalau-kalau ...


"Maafkan kakak, Haydi. Baru sekarang, aku sampaikan wasiatnya."

__ADS_1


__ADS_2