SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 35 : Tidak malam ini


__ADS_3

"Sayang, tidurlah dengan tenang. Ayah dan bunda akan selalu menjagamu." bisik Zaidan di telinga putrinya yang sudah tertidur pulas. Diangkatnya pelan-pelan tubuh kecil mungil itu dengan kasih sayang. Untuk dipindahkan ke tempat yang lebih nyaman. Di sebuah kamar yang cukup luas. Dengan sebuah ranjang yang tidak begitu besar. Namun cukup untuk tidur berdua. Zaidan meletakkan putri kecilnya di tengah-tengah ranjang.


Anya yang tertidur pulas tampak menggeliat sebentar dengan mata yang masih sempurna terpejam. Zaidan berlahan meniup ubun-ubun putrinya dengan lembut disertai dengan doa.


Setelah Anya benar-benar nyenyak, Zaidan membuka jas dan bajunya, hingga tinggal memakai kaos putih tipis berlengan pendek. Baju dalam yang biasa dia pakai di rumah. Dan melepaskan pula celana panjang yang sejak tadi dipakai, berganti dengan selembar sarung yang disediakan Dinda dengan meminjam milik kak Alfathnya. Sejenak dia bersandar di pinggir ranjang. Memejamkan mata dan tersenyum sandiri, tentang apa saja yang baru saja dialaminya. Yang seolah-olah semua hanya mimpi.


Kini semua menjadi nyata. Dinda  menjadi miliknya seutuhnya dan sekarang putrinya sudah memiliki bunda yang sebenarnya. Untuk dia bermanja dan bermain bersama. Terima kasih Tuhan, telah mewujudkan impian kami.


Zaidan mematikan lampu kamar yang terang, menggantikan dengan cahaya lampu ligt warna hijau yang ada di sebelah kanan ranjang, di atas meja rias kecil milik Dinda.


Ingin rasanya memejamkan mata, karena lelah seharian. Tapi hati kecilnya menolak untuk itu. Ada yang masih dia tunggu. Yaitu pemilik kamar yang kini dia berada. Mengapa lama Dinda datang. Dia menunggu dengan sabar sambil menutup mata. Agar bisa sedikit mengurangi rasa lelahnya.


Dinda yang masih merasa takut tentang keadaan dirinya, yang sudah menjadi seorang istri terlihat mondar-mandir menyibukkan diri dengan pekerjaan beres-beres rumah. Haruskah dia tidur sekamar dengan seorang pria. Dirinya seolah-olah belum siap. Akhirnya Dinda menunggu penghuni kamarnya tertidur semua. Baik Zaidan maupun Anya.


Ketika dilihat lampu kamar telah berganti warna menjadi redup. Dia memberanikan diri  masuk kamarnya dengan berlahan dan hati-hati. Jangan sampai menimbulkan suara. Yang akan membangunkan seseorang yang ada di dalam.


Dinda membuka pintu kamar dengan pelan. Setelah sampai di dalam, Dinda merasa tenang. Anya telah tertidur pulas. Demikian juga dengan Zaidan meski dengan bersandar di pinggir ranjang. Dia kunci pintu kamarnya dengan pelan. Dinda mengambil selembar baju  tidur dari almarinya. Lalu menuju meja rias dekat Zaidan bersandar untuk melepaskan jilbab yang dia pakai. Dari balik matanya yang tertutup, Zaidan melihat tingkah laku istrinya dengan tertawa. Akhirnya dia tak tahan juga untuk tidak membuka mata.


"Aku bantu melepas jilbabmu, Sayang." kata Zaidan setengah berbisik di telinga Dinda. Membuat Dinda terkejut, tak sangka suaminya belum tidur.


Tanpa menunggu persetujuan dari Dinda, tangan Zaidan telah melepaskan satu per satu cemiti dan juga bros perak yang ada di jilbab Dinda. Dinda hanya bisa diam terpaku, jantungnya berdetak kencang ketika wajah suaminya berada teramat dekat degan wajahnya. Dinda terkesima dengan perilaku suaminya itu. Dan tak mampu melarangnya.


"Mas belum tidur."


" Jangan takut. Aku nggak ngapa-ngapain kamu sayang. Aku ini suamimu melihatmu dan memandangmu seutuhnya akan mengurangi dosa mas." kata Zaidan sambil melepaskan tali pengikat rambut Dinda. Hingga rambut Dinda terlihat teruarai indah.


"Baiklah Kalau itu membuat suamiku senang."Zaidan lansung memeluk Dinda dalam dekapannya. Menatap wajah Dinda dengan sangat dekat. Wajah yang selama ini  dirindukannya. Dan hanya bisa dilihat melalui fotonya saja. Ada beberapa helai rambut yang menutupi, dia sibak agar leluasa menikmati wajah istrinya itu.  Tampak cantik di bawah cahaya remang lampu kamar. Membuat getaran jantungnya menjadi tidak beraturan. Apalagi Dinda hanya diam dan memejamkan mata. Semakin membangkitkan keinginan untuk menyentuhnya.

__ADS_1


Sesaat mereka terbuai dalam lautan asmara yang mulai tercipta. Meski hasrat hati ingin sekali. Tapi tak ingin melakukannya saat ini. Menanti ketika Dinda lebih siap.


"Ya sudah, ganti sana geh." kata Zaidan sambil melepas pelukannya. Dinda tersenyum. Lalu mengambil baju yang dia letakkan di sisi ranjang, tapi kini sudah berpindah tempat, di bawah. Dalam keadaan lipatan yang sudah tak rapi lagi.


"Boleh sekarang aku menjauh dulu ..."


"Ya, Sayang. Nanti mengganggu Anya kita. Jangan goda Mas dulu."


"Mas kan yang memulai. Aku jadi terbawa."


Dinda segera memakai baju tidurnya. Lalu duduk di kursi rias menyisir rambutnya yang berantakan karena ulah Zaidan.


Terlihat Zaidan bangkit dari tepi ranjang dan berjalan mendekati Dinda dan menatap wajah Dinda di cermin sambil berjongkok memegang pundak Dinda. Lama dan sangat lama. Setelah puas diapun melepaskannya.


"Mas mau sholat 2 rakaat dulu sebelum keterusan. Sayang, kamu benar-benar menggoda mas yang lama berpuasa."


"Istri sholikah." bisik Zaidan sambil mendaratkan satu ciuman sayang di dahi istrinya. Lalu menggandengnya keluar kamar. Menuju kamar mandi yang ada di luar. Maklumlah kamar Dinda tidak dilengkapi dengan kamar mandi. Sehingga bila ada apa-apa dia harus keluar. Entah mengapa dia pilih kamar yang demikian. Bukankah 2 kamar yang lain, ada kamar mandinya. Yaitu kamar yang ditempati Alfath dan satu lagi kamar yang kini ditempati mommy dan kak Lisa.


💎


Assalamualaikum warohmatullah, Assalamualaikum warohmatullah


Kuucap salam dan kutengokkan wajahku ke kanan dan ke kiri. Lalu kusap wajah dengan kedua telapak tangan untuk mengakhiri shalat dan do'aku.


Terlihat makmumku mengikutiku tanpa ada keluhan, bahkan terlihat senang dan bahagia. Ku ulurkan tangan kananku, disambutnya dengan tangan kanan pula. Bersalaman bersama dalam kemesraan, dengan mencium punggung tanganku. Hingga ku menghadiahi dirinya dengan pelukan dan ciuman sayang di ubun-ubun.


"Sayang, terima kasih telah menerima mas sebagai suamimu."

__ADS_1


"Sama-sama, Mas. Aku juga bahagia bisa mendampingimu."


Ku tatap wajahnya yang keibuan, menyimpan keteduhan dan kenyamanan bila aku berada disisinya.


Dalam temaram sinar lampu ligt di kamar


Masih kulihat senyumannya,  hingga ingin menggapainya dan berpulang padanya.


Tapi kulihat bayangan kelelahan menutupi wajah ayunya. Hingga ku tak tega ingin menjamahnya.


Malam ini biarlah berlalu dalam kedamaian. Hanya pelukan hangat sebagai tanda sayang yang hendak kusampaikan. Tanpa harus kuucapkan kata-kata rayuan.


"Sayang, tidurlah. Kamu tampak lelah."


"Mas juga."


"Ayo ..." kata Zaidan sambil melipat sajadahnya. Demikian juga Dinda yang melepaskan mukena yang dipakainya, serta melipatnya dengan rapi lalu meletakkannya di almari kecil.


Zaidan menuju kanan Anya yang tertidur pulas. Sedangkan Dinda mengambil tempat sebelah kiri Anya. Sebelum tidur tak lupa Zaidan mengecup kedua wanita di sampingnya dengan kasih sayang.


Tak lama kemudian, mereka telah sama-sama terbuai dalam alam mimpi. Dengan tangan erat bertautan di atas tubuh putri kecilnya, memeluknya bersama.


______________________________________


Terima kasih readers atas masukkannya. Semoga episode mendatang, akan lebih baik.


Mohon dukungan dan saran-sarannya.😘😘

__ADS_1


__ADS_2