SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 64 : Mengikuti Imamku


__ADS_3

"Assalmu'alaikum, Sayang."


Suara Zaidan berbisik lembut, di telinga sang kekasih yang sedang tertidur pulas di sebelah putrinya.


Hembusan angin yang menerpa di telinganya, hanya membuatnya menggeliat sejenak. Lalu melanjutkan mimpinya yang sempat terjeda.


Lalu diambilnya air yang ada di gelas, di meja kecil, di samping ranjangnya. Dipercikkan air itu di wajah dengan seulas senyuman. Dan berucap lirih dalam hati, sebagai do'a.


Makmunku tersayang, bangunlah.


Tak ada arti seorang imam bila tak ada pengikut di belakangnya.


Karena yang kuingin, ainun mardiyah di surgaku itu adalah dirimu. Meski di sana ada bidadari-bidadari yang lainnya.


Sekali lagi air itu dipercikkkan di wajah ayu milik Dinda. Membuat nya merasa ada tetes yang dingin tersentuh di wajahnya. Sehingga dia tersadar dan membuka mata.


"Mas ..."


"Sudah waktunya, kutunggu."


Dinda segera beranjak dari tempat tidurnya. Menuju kamar mandi untuk bersuci, agar bisa memenuhi ajakan sang imam. Untuk mengungkap kerinduan pada Yang Kuasa.


Dia mengambil mukena dan memakai dengan sempurna. Untuk membuka harinya dengan ketawadhuan, kerelan, serta kepasrahan hati dan jiwanya, pada kodrad dan irodatNya. Dengan takbiratul ihrom sebagai awalnya. Dan salam sebagai akhirnya.


Usai sudah kerinduan itu, dalam bingkai sholat tahajud, bersama istri tercinta.


Setelah memberikan kecupan kasih di kepala istri. Zaidan duduk sejenak , menatap Dinda yang hendak bersiap melepas mukenah.


Namun tak lam, dia meraih tubuh istrinya ke dalam pangkuannya.


""Kamu sudah siap bertemu Mayasa?"


"Insya Allah, Mas."


"Alhamdulillah. Mas harap kamu bisa membimbingnya ketika mas tak ada."


"Ilmu Dinda masih sedikit."


"Mas percaya. Yang sedikit itu terlalu istimewa bagi mas. Dan itu yang nggak bisa mas lakukan."


"Mas terlalu memuji."


"Tidak. Mas sudah melihat, bagaimana kamu membimbing Anya mengaji. Hingga sekarang sudah lancar. Padahal baru sebentar bersamamu. Dan aku dengar kemarin juz 30 sudah hafal."


"Itu juga karena selalu ada yang mengingatkan. Mas-lah yang membuatnya demikian."


"Tapi mas mau berterima kasih. Nanti kita berangkat pagi-pagi. Mas pingin menunjukkan sesuatu. Sebelum kita pulang.


Semoga Humaira suka."


"Aku jadi penasaran kejutan apa itu."


"Rahasia dong .... Dan maaf, kalau mas nanti hanya sebentar di rumah. Karena banyak pekerjaan di kantor, yang perlu ditangani."


"Ya ."


"Sekarang bolehkah mas melanjutkan pekerjaan."


"Hemmm ..., Mas. Dinda juga mau berkemas."


Dinda bangkit dari pangkuan Zaidan. Mengambil sebuah koper yang atas di atas almari. Untuk tempat pakaiannya dan yang lainnya.


"Tak usah dibawa semua, nanti juga kita ke sini lagi."Kata Zaidan sambil menatap laptop, di depannya.


"Ya, Mas."


Setelah selesai, Dinda menuju ke dapur.

__ADS_1


Menyiapkan makanan, untuk penghuni rumah dan juga bekal untuk suaminya di kantor. Hingga adzan subuh terdengar.


Dinda menghampiri putrinya yang terlihat menggeliat.


" Anya, bangun sayang. Sudah subuh."


Dengan malas Anya mengikuti bundanya, menuju musholla keluarga. Telah menunggu seluruh keluarga, dan juga Zaidan.


Meski setelah tiba, tertidur lagi di sajadah, yang Dinda gelar di belakang. Tak menyurutkan untuk senantiasa membangunkannya, saat sholat subuh di kerjakan.


Setelah semua berlalu meninggalkan musholla itu, Zaidan mengangkatnya kembali ke kamar. Dan meletakkanya di atas pembaringan.


Lalu melanjutkan pekerjaan di sisinya. Yang ditemani secangkir minuman hangat kesukaannya, secang. Yang sudah Dinda suguhkan.


Beberapa saat kemudian, Dinda kembali. Menyiapkan air hangat untuk Anya mandi. Karena ini masih terlalu pagi. Udara masih terasa dingin sekali.


Baru kemudian membangunkan Anya.


"Putri bunda ... ayo mandi. Kita mau pulang."


Anya mengeliat dengan malas. Tapi tetap mengikuti kata bundannya. Yang menuntunya berjalan menuju ke kamar mandi. Meski matanya belum sempurna terbuka.


Tak lama kemudian, dia sudah kembali ke kamar itu dengan tubuh yang dililit handuk.


Dengan telaten Dinda memakaikan bajunya.


Lalu meninggalkannya di atas ranjang.karena diapun perlu membersihkan diri.


Tak sangka, tak lama setelahnya, Anya tertidur kembali.


Zaidan yang sudah seleaai dengan pekerjaannya segera meraih handuk, akan masuk ke kamar mandi. Sejenak tertegun menatap putrinya tertidur lagi. Dia lalu menghampiri sambil tersenyum sendiri.


Lalu meninggalkannya. Tak tega untuk membangunkannya.


Dia menuju ke kamar mandi, tak sadar kalau Dinda masih ada di dalam. Tangannya meraih ganggan pintu dengan membelakanginya. Pandangannya masih menatap Anya.


"Mas ...." Tak berani Dinda berteriak. Segera dia memakai baju, sebelum Zaidan menyadari kalau dia ada di dalam. Lalu keluar melewati Zaidan.


Dinda hanya menundukkan kepalanya, sambil melirik Zaidan kesal.


"Ketuk dulu, kenapa sich!"


"Ya ... tahu tak dikunci. Aku masuk dari tadi." guman Zaidan lirih, agar tak didengar. Sayangnya didengar juga oleh Dinda, membuatnya makin kesal.


Tangan jahilnya meraih Dinda, dan memberikan ciuman kecil di bibirnya.


"Bikin gemes." Lalu menutup pintu kamar mandi sebelum Dinda mendaratkan cubitannya. Sejenak dia terpaku merasakan apa yang diperbuat Zaidan.


Lalu pandangannya menatap putrinya yang tertidur lagi, setelah dia mandikan. Membuat dia senyum sendiri, melupakan rasa yang Zaidan berikan.


Sebaiknya dia mempersiapkan dirinya dulu, sebelum Anya. Dinda duduk sejenak di meja riasnya. Dengan riasan tipis, sekedar untuk menyegarkan wajahnya agar tidak terlihat pucat dan kusam. Sekaligus memakai kerudung santai yang lebar. Serasi dengan pakian yang dia pakai saat ini. Santai tapi anggun.


Tak lama Zaidan juga sudah keluar dari kamar mandi. Dan memakai pakaian yang sudah dipersiapkan oleh Dinda.


Entah mengapa, hatinya selalu ingin menggoda istrinya.


"Bun, minta tolong kancingkan lengan ayah."


Dinda tanpa ragu membantu mengancingkannya. Tanpa ada prasangka apa-apa.


Maka, dengan leluasa Zaidan menatap wajah istrinya. Terletak teramat dengan wajahnya.


Tak ayal dengan cepat dia mengecup bibir Dinda yang terlihat memabukkan dalam pandangannya.


"Mas."


"Kamu cantik banget, membuat suamimu ini gemes."

__ADS_1


Ingin Dinda menjauh, tapi tangan Zaidan terlanjur memeluknya , tak mau melepaskan. Hingga membawa angan Dinda melayang.


Mengapa matahari enggan untuk menampakkan diri. Bukankah hari ini, aku harus meneruskan langkah ini. Kemana tuan membimbing.


Jaring-jaring kepercayaan yang mulai tertata, dalam ikatan atas keridhoaanNya. Membuat diri ini nyaman dan teduh, dalam dekapan kasihnya. Aku menyerah, pasrah, atas keangkuhan yang selama ini terpendam. Untuk menutupi kelemahanku bahwa selama ini aku menginginkanmu.


"Mas, katanya mau berangkat pagi-pagi."


"Hem ...terima kasih, kamu sudah mengingatkan, mas."


Lalu Zaidan melepaskan pelukannya dengan lembut. Diapun merapikan dirinya sendiri.


Sedangkan Dinda sibuk merapikan Anya yang masih tertidur.


"Bunda, pakaian ini di letakkan di belakang ya..."


"Bunda saja,Yah."


"Nggak apa. Aku bantu."


"Makasih, Yah. Nanti tolong juga ambil rantang yang ada di meja."


"Baiklah."


Zaidan keluar sambil membawa pakaian kotor. Tak lama kemudian telah kembali dengan membawa rantang besar dan kecil.


Sedangkan Dinda juga sudah selesai merapikan rambut dan pakaian Anya. Mendudukkanya di kursi rias. Lalu dia merapikan tempat tidurnya.


"Bun, hanya ini yang dibawa."


"Ya ."


"Ya sudah, aku bawa ke garasi dulu. Menghidupkan mesin. Aku tunggu. Segera ke depan ya ...."


"Makasih, Yah."


Zaidan membawa koper kecil dan juga rantang berlalu dari hadapan Dinda.


Sebentar kemudian, menyusul Zaidan dengan menggendong Anya .


Dinda sudah menyiapkan diri untuk meninggalkan rumah mertuanya, mengikuti kemana Zaidan mengajaknya.


Di depan, terlihat mami Haydi sedang berjalan-jalan ringan melepas alas kakinya. Ditemani Layla. Shaffa entah kemana...


"Mam, kami pulang dulu."


"Ya, Zei. Jaga baik-baik menanti dan cucu mami."


Dia memberikan ciuman di pipi Anya, yang malas untuk bangun.


"Jangan lupa balik 3 hari sebelum resepsi."


"Layla ..."


"Aturannya begitu kan, Mi?"


"Kakakmu itu sudah menikah."


"Ya ... , Mami." Layla melirik Haydi .


"Ya, Layla. 3 hari sebelum resepsi kakak ipar akan kakak balikkin. Jangan gondok gitu. Atàu aku panggil Aris, agar kamu nggak cemburu pada kakak terus."


"Kakak!"


"Siapa dia, Zay."


"Tanyalah Layla sendiri."

__ADS_1


"Sudah , Mi. Kami berangkat."


Zaidan dan Dinda memasuki mobilnya. Lalu mengemudikan berlahan meninggalkan Mami Haydi dan Layla yang melambaikan tangan.


__ADS_2