SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 47: Kita Keluarga


__ADS_3

Zaidan tersenyum memandang Shaffa yang berlalu meninggalkannya, ketika dia ingin memperkenalakan istrinya.


Dinda dan Anya yang berjalan sambil bermain-main riang akhirnya tiba juga di sisi Zaidan. Yang menunggunya dengan senyuman.


"Anya, Sayang. Ayo ...."


"Lha ... mana penghuninya, sepi amat."


"Mungkin lagi istirahat."


"Itu kan pak Aldo ... nyaman kali dia tidur di sofa ruang tamu." kata Dinda.


"Udah , jangan diganggu."kata Zaidan, sambil menarik tangan Dinda.


"Mas, hafal banget dengan rumah ini?" tanya Dinda heran.


"Masa kecilku kuhabiskan di sini, Sayang."


"Heemmmm ...?"


"Pantas, akrab banget sama keluarga Layla."


"Cemburu ..."


Jari tangan Dinda langsung bersiap hendak mendaratkan satu cubitan kecil ke pinggang Zaidan.


"Eeeiiit ... that is not good ... " Zaidan berkelit. Membuat Dinda cemberut.


"Hai kalian, jangan bermesraan di sini." Suara yang tak asing ini ...


"Kak Lisa, mengagetkan saja." jawab Zaidan.


"Ya. Mentang-mentang pengantin baru. Tak tahu tempat."kata Lisa berterus terang. Dinda menundukkan kepala. Dan pipinya bersemu merah.


"Kak, dimana Mommy,"


"Di kamar tante Haydi, Dah ... deh ... kamu ke sana. Dari tadi menanyakan kamu."


"Menanyakan aku, mami Haydi."


"Itu ... tuh ... kamu. Panggil tante saja , pakai sebutan mami. Akhirnya begini jadinya. Layla terlalu mengharap kamu. Dulu tante Haydi tak setuju, kamu bisa tenang. Lha ... sekarang sudah setuju. Mau lari kemana kamu."


Dinda hanya diam membisu .


Ada sesuatu yang mengusik hatinya. Mungkin rasa hendak kehilangan.


"Sudah ... jangan didengarkan, Sayang. Sudah ayo menemui mereka." bujuk Zaidan.


"Aku nggak ikut masuk, Mas."


"Sudah ... jangan begitu. Belum tentu.mami ingin memisahkan kita. Mungkin ada urusan lain."


Dinda masih saja diam. Tiba di depan pintu kamar Haydi. Langkahnya terhenti.


"Yakin sama Mas .... Mas nggak akan ninggalin kamu , yang sudah membuat mas dan Anya bahagia. Oke ..."


Zaidan lalu mengecup pucuk kepala Dinda. Membuatnya tenang.


"Assalamu'alaikum wr.wb." Zaidan mengetuk pintu.


"Wa'alaikum salam, masuk Zai."


"Mami, sakit apa?"


"Ya sudah Nyonya ... ini saya beri resep obat. Jangan lupa untuk menjaga pola makan dan minum teratur. Terutama minum air putih."


"Baik, Dok."


Lalu Haydi menyandarkan kepala di tepi ranjang.


"Sakit apa, Dok."


"Perlu pemeriksaan labolatorium dulu, Zay .... Nanti kalau sudah ada hasilnya aku kabari."


"Makasih Dokter Herman."


"Ya, sama-sama. Aku pulang dulu ."

__ADS_1


"Baik. Saya antar Dokter." kata Dinda.


"Balik lagi lho, Say." kata Zaidan dengan lembut tapi dengan penekanan.


Dia sudah mulai hafal terhadap sifat istrinya. Kalau sedang tak nyaman, bingung, gelisah pasti maunya melarikan diri. Ah ... wanita memang sulit dimengerti. Mudah banget terbawa perasaan.


"Sinilah, Zai. Apa kamu tak ingin peluk mami."


"Maaf, Mamy."


Segera Zaidan menghampiri Heydi. Bersalaman dan mencium tangan Haydi dengan takdzim.


"Anya, sini Nak. Dekat Oma."


Zaidan yang melihat Haydi terduduk lemah, tak sampai hati untuk tak meluluskan permintaannya. Digendongnya Anya untuk duduk di sisi Haydi, meski dia masih bertanya-tanya. Mengapa sikap Haydi tiba-tiba berubah seperti ini.


"Kok lama ya ... Layla datang?"


"Kak Ana .... Tolong telpon dong, biar cepat datang."


"Tenanglah, Haydi. Mungkin sebentar lagi."


"Zay ... tolong telpon adik kamu itu. Kalau sama kamu pasti nurut."


Tak ingin membuat wanita-wanita yang sangat dia hormati itu gelisah, Zaidan segera mengangkat telpon, agar bisa menghubungi Layla.


Naas bagi dia, saat baru saja tersambung dengan Layla. Dinda masuk.


Terlihat Dinda cemberut sewaktu suaminya menyebut Layla dalam . Langkahnya terhenti. mau kembali keluar.


"Sudah dalam perjalanan, Mam."


Dia segera menghampiri Dinda.


"Sayang, jangan gitu dong ..."


"Zay, Itu istrimu ya ... kenalkan ke mami!"


"Sayang, kamu kenapa ... kamu tak percaya sama mas ... yakin dech, mas nggak akan melepaskan kamu."


Bingung juga dia mau menjawab. Ternyata susah juga menghadapi orang yang cemburuan.


"Sayang, apa perlu mas kecup di depan mereka agar kamu nggak terus-menerus mencurigai mas."


"Zay, ada apa?"panggil Haydi.


"Tuh kan mami sampai panggil 2 kali."


"Ini, mam. Menantu mami minta disayang dulu." jawab Zaidan gemas.


Hendiana dan Haydi tertawa. Ini jurus terakhir yang dikeluarkan Zaidan agar Dinda bisa tenang. Dan tak lagi menaruh curiga padanya.


"Zay ... Zay kamu itu ... dasar pengantin baru." kata Mommynya.


Haydi hanya tertawa melihat mereka.


"Ich ... malu-maluin."kata Dinda kesal.


Bergegas Dinda meninggalkan Zaidan di pintu. Duduk di pinggir ranjang. Memeluk Haydi.


Menemani Anya bermain dan bermanja pada omanya. Zaidan sekarang bisa sedikit lega


Kalau sudah menyangkut Layla. Kenapa mesti cemburu sich. Oh Tuhan ... beri aku jalan keluar. Bisikan lirih kalbu Zaidan.


Mungkin salahku juga. Nggak cerita sejak awal tentang Layla. Lebih parahnya lagi Humaira awal tahu Layla waktu sedang berkata yang nggak perlu itu.


Hari yang naas buat Zaidan. Saat pikirannya masih kacau, dari arah belakang, masuk Layla dan Shaffa secara bersamaan.


Mereka tak melihat Zaidan yang berdiri di tengah pintu, karena asyik mengobrol. Bertiga terjungkal. Jatuh saling bertindihan.


"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun." ucap mereka serempak.


"Kalian itu kalau jalan, lihat jalan dong ... main tubruk saja." kata Zaidan sedikit kesal.


Naas banget nasib aku. Dicemburui terus sama istri. Sekarang ketimpa bobot hampir 1 kwintal, habis napas.


"Kak Zaidan yang salah. Berdiri di pintu. Menghalangi jalan, tahu !" kata Shaffa tak mau kalah.

__ADS_1


Hendiana , Haydi, Anya dan Dinda tertawa melihat mereka. Yang bertengkar dan saling menyalahkan, seperti anak kecil.


"Sudah ... sudah, duduk semua. Ada yang ingin aku sampaikan." kata Haydi.


Mereka segera memisahkan diri menuju masing-masing tempat. Zaidan menuju ke sisi Mommynya. Sedangkan Shoffa dan Layla menuju ke sofa.


Haydi melirik pada Ana yang duduk di tempat dusuk dekat ranjang. Memohon pertimbangan, Ana menganggukkan kepala.


"Ada 2 hal penting yang akan aku sampaikan ke kalian. Agar hubungan kalian sebagai saudara menjadi sehat.


Mami bahagia sekali akhirnya kita bisa berkumpul bersama. Menjadi sebuah keluarga. Saling menyayangi dan melindungi.


Sebelum mami menyampaikan 2 masalah ini selesai, mami harap kalian tidak ada yang meninggalkan ruangan ini."


"Kak, mami ngomong apa sich. Nggak dong aku."


"Sama , Shof. Aku juga nggak ngerti. Tumben mami pakai bahasa seperti ini. Seperti orang berpidato saja."


"Yang pertama aku memperkenalkan menantu mami. "


Pastinya ini kak Zaidan yang akan mami ambil menantu. Pikir Layla dan Shaffa.


Tapi bukankah kak Zaidan sudah beristri. Wanita yang ada di sebelah mami itu. Oh mungkin kak Zaidan tadi bercanda.


"Anya mau ngomong, Sayang. Siapa yang di sampingmu itu." kata Haydi tiba-tiba.


"Ya , Oma. Ini Bunda Dinda. Bunda Anya sekarang."


"Makasih cucu oma," kata Haydi sambil mengecup pipi Anya.


"Itu yang pertama. Mami mau memperkenalkan menantu tante Ana, istri Zaidan."


Shaffa berdiri, mau meninggalkan ruangan itu. Karena dia sejak awal bertemu sudah tak menyukainya.


Sedangkan Layla terlihat wajahnya tegang tak mampu berkata apa-apa. Lalu berdiri mengikuti langkah Shoffa, adiknya.


Haydi terlihat sedih melihat sikap putri-putrinya. Ana segera melirik Zaidan.


Zaidan segera bangkit, menghampiri mereka berdua.


"Tolong, dengarkan mami bicara. Tak tahukah kalian mami sedang sakit."


Keduanya duduk kembali dengan enggan.


Haydi menarik napas. Mengumpulkan segala keberanian untuk bicara lagi.


"Mami mau cerita sedikit ..."


" Sebenarnya putra-putri mami tidak hanya kalian berdua. Layla dan Shaffa. Tapi ada yang lain, yang lama mami cari.


Sebenarnya dia sudah lama berada di dekat kita, tapi mami tak menyadari. Baru hari ini hati mami terbuka dan sadar bahwa putra mami senantiasa ada untuk mami dan untuk kalian. Entah kalian sadar atau tidak."


"Maksud mami, sebenarnya kami punya kakak."


"**Ya."


"Siapakah dia, Mam." tanya Shaffa dengan hati bingung.


"Apakah kakak kami ... kak Zaidan."Layla menimpali.


Dengan lemah Haydi mengangguk.


"Benar Layla, Shoffa. Zaidan itu kakak kandungmu."


Zaidan, Dinda, Layla dan Shoffa kaget dan bingung.


Benarkah ...


Mereka bersaudara.


Semua diam dengan pikiran masing-masing.


Tak tahu harus bahagia atau sedih.


Terlebih Layla. Diapun bangkit, berlari meninggalkan mereka semua.


Membuat Haydi menangis. Ana menghampiri dan memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2