
Dinda yang mendengar bahwa Layla dan Shaffa memintanya ke ruang musik, terbengong-bengong. Adik-adik suamiku ini ada-ada saja. Apa sich yang mereka rencanakan ....
Dinda melanjutkan aktifitas seperti biasa. Lalu mengeringkan rambutnya, yang kini harus basah lagi. Karena pesona yang selalu Zaidan hadirkan, di rindu jiwa akan sentuhan lembut akan cinta. Kan sudah halal. Mau bilang apa ... nikmati saja dengan bahagia.😊😊
Ini kalau diterus-teruskan, menikmati bahagia sendiri. Bagaimana putriku kecil yang menggemaskan itu. Masak harus buru-buru punya adik. Rasanya egois dech ....
Meski sekarang Hayana Mardhiata Finnufus sudah jauh berbeda, dari saat pertama ku bertemu dengannya. Bayangan ketakutan dan kesedihan tak tampak lagi, dari aura wajahnya. Dia sudah lebih ceria. Meski ketakutan dengan orang baru masih tampak. Tapi itu wajar terjadi pada siapa saja, apalagi anak kecil.
Coba nanti aku bicarakan dengan ayahnya. Apalagi sudah saatnya dia sekolah. Berkumpul dengan teman-teman seusianya. Untuk bermain dan mengembangkan diri secara wajar.
Nach ... orang yang mau diajak bicara tentang putrinya. Belum keluar juga dari kamar mandi. Kacian ... diriku punya angan, tapi tak dapat mengungkapkan. Ku tunggu dirimu dengan kemarahanku penuh cinta. Marahnya untukmu, cintanya bukan untukmu tapi untuk putrimu. Mata Dinda melirik ke arah pintu kamar mandi yang belum terbuka.
Ceklekk .... Akhirnya keluar juga. Dinda memalingkan muka. Menatap lekat kaca bening yang ada di hadapannya. Menahan keinginan bibir untuk menyungging senyuman.
Zaidan yang baru saja keluar dari kamar mandi, menatapnya gemes, dengan tingkah laku Dinda. Duduknya yang tidak bisa diam, di kursi meja riasnýà .
Matanya yang hitam, dengan alis yang sempurna, dan lesung pipitnya. Kulitnya yang putih bersih senantiasa terlindung. Membuat dirinya rindu untuk selalu memeluknya. Apalagi saat ini, tak segan Dinda menyapanya dengan cinta.
Ku teringan saat pertama mengenal dirinya. Betapa malunya dirimu tersentuh dengan orang lain. Hingga kau biarkan hatimu gersang untuk nantikan imam yang sesungguhnya. Beruntung diriku mampu membuka pintu cintamu dengan syahadah yang nyata.
Setelah kini telah terbuka, engkau tunjukkan taman hatimu yang penuh kasih pada putriku. Dan tak terbilang cinta untukku. Ach ... pengisi relung hatiku. Mengapa saat ini engkau tak sepolos dulu. Tapi aku suka ....
Mungkinkah karena hadirku yang tak punya malu, dengan segala cinta. Hingga dirimu terbuka menerima diriku apa adanya.
Berlahan dia menghampirinya,
"Ada apa, Sayang."
Dinda melepaskan tangan Zaidan yang menyentuh pundaknya.
"Jangan katakan kalau mas mau lagi."
Zaidan tertawa,
"Ya ... ya ... istriku. Tidak saat ini."
Dia tetap memegang pundak Dinda dan menikmati semerbak wangi rambunya, yang mulai mengering. Membuat Dinda agak sedikit risih. Membalikkan badan menatap suaminya, dengan wajah sedikit kesal.
"Layla dan Shaffa menunggu Mas."
"Lalu, kenapa kamunya yang bingung dan marah seperti itu?"
"Aku hanya kepikiran saja."
"Takut dikerjain lagi ya ... maafkan adik-adik mas. Bawa happy saja."
"Bukan itu, ini soal putri kita."
"Ada apa dengan dia?"
"Sudah masanya masuk sekolah."
"Ya, mas mengerti. Dan sudah mas daftarkan. Cuma sekarang pakai sistem daring. Ya .... dibawa santai saja.
Bukankah sekarang sudah ada guru yang baik dan selalu memperhatikannya."
"Ya ... aku lega, kalau Mas sudah memikirkannya."
__ADS_1
"Lalu apakah kamu tak memikirkan dirimu."
"Tentang?"
"Apa kamu nggak pingin mengadakan resepsi untuk pernikahan kita. Apa nunggu ini ada adik dulu."
Sambil menyentuh perut istrinya. Lalu memaksa Dinda untuk berdiri agar dia dapat memeluk tubuhnya dengan leluasa.
"Terima kasih, Mas. Aku telah lama menantikannya. Agar aku tak ragu lagi untuk berjalan di sampingmu. Terutama di depan pegawai-pegawai di kantormu."
Zaidan hanya tersenyum menatap sikap manja istrinya itu.
" Kita itu paham banget keinginanmu. Maaf selama ini mas nggak cerita. Kalau urusan itu sudah aku serahkan ke Layla dan Aris."
"Lalu. Apakah kita ... tidak mengatur kehadiran adik Anya. Aku takut nanti kurang bisa memberikan kasih sayang padanya."
"Mas percaya padamu. Mas yakin kamu pasti bisa memberikannya kasih sayang sama."
Dinda membiarkan dirinya dalam dekapan Zaidan. Yang memeluknya dengan sayang tanpa hasrat. Ada rasa nyaman yang dia coba resapi.
"Ayo pakai kerudungmu, Layla dan Shaffa sedang menunggu."
"Baiklah ..."
Dia menyambar kerudung yang sudah dari tadi disiapkannya. Meraih tangan Zaidan yang terbuka menyambutnya. Menggemgam erat, menuntunya melangkah menemui Shaffa dan Layla. Yang telah lama menanti di ruang musik.
Ehheemmm ... ehheeemmm ....
Shaffa melirik Layla, ketika kakak Zaidan menghampiri mereka, sambil menggandeng Dinda dengan mesra.
"Kabuuuurrrr ...., Kak Layla."
"Mas, malu .... dilihat adikmu !"
"Biarkan saja ."
Dinda menarik tangannya dari genggaman Zaidan. Tertunduk, malu sendiri.
"Shaffa, ini sudah kakak ajak kakak ipar ke sini. Kalian mau apa, bilang sama kakak ipar. Jangan malah di tinggal kabur."
Sambil tertawa lebar Shaffa meraih tangan Dinda dan mendudukannya di kursi. Dan mengibas-ngibaskan tangannya, ke arah Zaidan.
"Huusss ... hhuusss ... kak Zaidan sana dulu, nggak boleh dekat-dekat."
"Baiklah, Ayo Anya kita main piano."
Zaidan meraih putrinya dalam pangkuannya. Karena sebelum dia datang, Anya telah sibuk sendiri dengan piano yang ada di sana. Meski tangannya mungil, tapi sudah mampu membunyikan tuts-tuts dengan baik.
Hemmm ... apalagi yang mereka rencanakan. Dinda mencoba untuk mengerti, terhadap yang mereka bicarakan.
Dengan penuh perhatian dia mendengarkan penjelasan-penjelasan adik-adik iparnya.
"Kak, ini tentang rencana resepsi pernikahan kakak ...."
Panjang lebar Shaffa dan Layla menjelaskan rencana prosesi resepsi pernikahan mereka. Dari tempat, baju, undangan, riasan, adat yang dipakai, fotografer, sampai menu masakan. Namun tak mampu menarik perhatian Dinda, yang sudah terpesona oleh permainan piano kakak Zaidannya.
Suara piano, yang dimainkan oleh Anya dan ayahnya, telah merusak konsentrasi Dinda. Alunan iramanya lebih menarik perhatian dan pendengarannya. Matanya sampai tak berkedip, memandang suami dan putrinya, yang sedang memainkan piano.
__ADS_1
Beberapa kali Shaffa harus melambai-lambaikan tangan, di depan mata Dinda. Untuk memutuskan arah pandangan kakak iparnya itu. Namun tak berhasil
Walhasil, hingga kata-kata Layla berakhir, tak ada yang nyangkut di kepala Dinda sedikitpun.
"Kak Dinda, paham nggak sih?"
"Serah kalian. Kakak ikut saja."
Layla dan Shaffa yang begitu bersemangat menyiapkan segalanya, hanya geleng-geleng kepala. Menyaksikan kakak Zaidan dan kakak iparnya itu.
"Kak Zaidan bisa berhenti sebentar. Ini tentang kalian berdua." Kata Layla sambil mendekati meja piano.
Dengan terpaksa Zaidan menghentikan permainannya. Memperhatikan adik-adiknya.
"Gini Kak, mulai sekarang kalian berpisah dulu. Setuju nggak setuju harus nurut." kata Layla lembut.
"Kalau nggak mau nurut, aku bilang sama mami.Ini aturan dari mami." Shaffa bicara berapi-api sekali, semangat 45.
Glek ....
Zaidan terduduk dengan manisnya, begitu nama mami disebut.
Layla lebih bisa menguasai diri untuk tidak tertawa di hadapan Zaidan maupun kakak iparnya. Tapi Shaffa sampai keluar ruangan, melihat sikap Zaidan yang demikian. Dia sudah tak bisa lagi menahan ketawa.
"Sebentar, kalian nggak main-mainkan. Terus hubungannya apa dengan pisahan sama resepsi."
"Kakak tanya mami sendiri lah, mene ketehe ..." kata Shaffa ringan.
"Kata mami itu tradisi pingitan."kata Layla menjelaskan.
"Lha itu kan bagi yang belum sah menikah." kata Zaidan membela diri.
"Sedangkan kita ini sudah resmi lho ..."
"Mau ... apa tak ..." kata Layla memberi penekanan.
"Tak!."
Singkat, padat dan mengena.
"Zaidà n ..."
Ternyà ta Haydi sudah hadir di situ, tanpa mereka sadari.
Zaidan menoleh dan menundukkan kepala.
"Mi ... masa harus sih?"
"Nggak harus. Tapi biar Dinda bisa merasakan masa-masa menanti seperti gadis sebagaimana wajarnya. Nggak perlu dari sekarang. Cukup 3 hari sebelum resepsi. Bagaimana?"
Zaidan melirik pada Dinda, yang diam terpaku. Menyaksikan adegan, yang dianggap drama dari keluarga Zaidan.
Dinda mengangguk saja. Menuruti orang tua apa salahnya kalau hal-hal yang sepele itu. Dari pada berdebat, yang akan jadi perang dunia nantinya.
"Kamu itu beruntung banget. Melamar lansung menikahi." Kata mami Haydi lembut
"Baiklah, cuma 3 hari. Dan besok sampai 3 hari sebelum resepsi, ijinkan Zaidan membawa Anya dan Dinda pulang ke rumah Zaidan dulu. Sejak menikah kami belum pernah pulang." kata Zaidan memohon pada maminya.
__ADS_1
"Ya, sudah. Mami ijinkan."