
Semakin lama semakin rumit saja masalah ini. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana.
Layla dan Masaya. Sangat-sangat mirip. Mungkinkah dia saudara kembar Layla?
Setahuku, Layla tidak tak punya saudara kembar.
Tapi tak tahulah.
"Mam. Layla lahir sendiri atau kembar."
"Kembar, ada apa memang. Tumben kamu tanya Layla. Ingat dia adikmu, Zey."
"Ya ... Mami. Hanya tanya saja!"
Zaidan merasa terimidasi dengan pernyataan maminya. Tapi dia tak ambil pusing.
"Di mana saudara kembarnya?"
"Saat lahir sudah meninggal."
"Oh ..."
Aku tak berani lagi bertanya. Kulihat wajah mami jadi sedih.
"Ada apa, Zey?"
"Bagaimana meninggalnya?"
"Sudah lama, Zey. Mami sudah lupa. Yang mami tahu, mami melahirkan 2 orang. Mami sendiri tak tahu jenis kelamin apa. Karena sehabis melahirkan mami sudah tak ingat apa-apa lagi. Ketika mami sadar bayi mami tinggal seorang. Kata suster yang merawatnya, salah satu putri mami meninggal. "
"Ehmmm ...."
"Coba tanya sama pamanmu Handoko."
"**Kok"
"Saat mami melahirkan Layla, ayahnya di Jepang. Tak bisa menemani mami."
"**Oh..."
"Makasih, Mam."
"Ya ..."
Setiap Haydi menatap Zaidan selalu saja ada rasa bersalah yang menyelinap di hatinya.
Nak ... maafkan mami, yang telah menyi-nyiakan kamu.
"Hai, mengapa mami jadi sedih."
"Tak ada apa-apa. Maafkan mami, Zey."
"Tak ada yang perlu dimaafkan, Mam."
"Mam, jangan lupa obatnya."
"Terima kasih, Zey."
"Aku balik ke kamar, Mam."
"Ya ... kangen sama Dinda?"
"Mami tahu aja."
Meski tidak puas dengan keterangan maminya. Zaidan bersyukur setidaknya ada sedikit petunjuk untuk mengungkap jati diri Mayasa. Moga-moga Aldi bisa membantu.
Pikiran Zaidan masih fokus dalam bayangan Mayasa. Hingga tak menyadari Layla berpapasan dengannya.
"Kak, sudah bilang ke kakak ipar. Besok harus datang ke kantor."
"Astaghdirullah al adzim ... kakak lupa. Kalau besok lomba agustusan."
"Dan besok kakak harus siap lomba masak, lho .."
"Punya sekretaris kamu, bener-bener jadi bumerang buat kakak."
"Lho,"
"Habis kamu ngerjain kakak terus."
"He ... he ..."
"Bagian ibu-ibunya apa dong."
"Kasih semangat dan mencicipi.."
"Layla, aku minta tolong bilang ke bi Asih untuk menyiapkan kamar tamu."
"Siapa yang mau datang, Kak."
"Supirmu dulu."
"Pak Aldo?"
"**Ya ."
"Ada masalah apalagi sich, Kak!?"
"Sudah jangan banyak tanya. Bisa bantu tidak?"
"Ya ... ya ... nanti tak bilangin ke bi Asih?"
"Makasih, adik kakak yang santik."
"Halllah ... gayanya. Jangan lupa besok, jangan sampai kalah."
"Kalau kalah?"
"Malu-maluin kakak ipar saja."
"Kamu sekarang sudah mulai bersekongkol sama kakak ipar, ya!"
"Demi kebaikan. Kakak ipar punya restoran tho ...."
"Ya ... ya .... Sana pergi. Kakak masih punya urusan."
__ADS_1
"Urusan apa, paling juga sama kakak ipar."
"Hush ... masih kecil."
"Eh ... itu suara gitar Shaffa ya...?"
"Ya." jawab Layla singkat, "Kak, kapan kita main musik sama-sama lagi?"
"Boleh, tapi tidak malam ini. Kakak mau belajar masak dulu sama kakak ipar."
"Oke ... aku tunggu hasilnya."
Begini kalau punya sekretaris cewek. Kita bapak-bapak siap dikerjai habis-habisan.
Dulu paling lombanya bikin tumpeng. Untuk ibu-ibu, kita kebagian menghabiskan hasil lomba.
Sekarang kita bapak-bapak yang lomba. Ibu-ibu tinggal menikmati. Sepertinya aku menyesal mengangkatnya jadi sekretaris.
Tapi demi HUT RI , kurela dikerjai. Sekali-kali buat ibu-ibu di kantorku senang dan bahagia.
Kulihat bunda telah selesai menidurkan Anya. Dia asyik membaca novel sambil bersandar di ranjang. Tangannya yang satunya membelai lembut rambut putriku. Sebenarnya aku tak tega mengganggunya. Tapi bagaimana lagi. Tinggal hari ini untuk mempersiapkan diri.
"Bun, "
"Ada apa, Ayah."
"Bunda capek?"
Tumben kali, suamiku bersikap seperti ini.
Seperti ada maunya. Tapi bukan yang biasanya.
"Ya , sedikit."
"Kalau gitu, masih sanggup untuk ..."
"Untuk apa, Ayah Anya!?"
"Ajari aku masak, buat lomba agustusan di kantor."
Terus terang aku ingin tertawa mendengarnya. Apalagi melihat mimiknya yang mengiba seperti itu.
"Boleh."
"Alhamdulillah, ayo sekarang ke dapur, Bunda!"
"Sekarang?!"
"Iya, lombanya besok."
Ya ... ini ganguan tidak pada tempatnya. Lagi seru-serunya ini bab, masak harus dihentikan.
Tapi biarlah demi suami ....
Tak tega aku melihat wajahnya yang memelas.
"Baiklah."
"Ayah ke dapur dulu. Aku pakai kerudung."
Wajahnya terlihat ceria, seceria Anya kalau diberi es cream.
Ku tak ingin ayah Anya menunggu lama. Segera kusambar kedurung kaos dan mengenakannya. Lalu menyusul ke dapur.
Kulihat dia hanya duduk di kursi sambil memandang kompor. Lha ... ternyata sejak tadi hanya bengong, belum mulai juga.
"Ayah, pingin masak apa?"
"Nggak tahu, Bunda?"
"Ayah sudah pernah bikin apa?"
"He ... he .... bikin mie instan."
"Makanya badannya cenderung gembrot."
"Besok, lombanya bikin apa sich, Yah."
"Nasi putih, sayur dan lauknya terserah."
"Oke, kita belajar bikin nasi dulu. Untuk berapa orang?"
"Sepuluh."
"1 kg, sudah lebih dari cukup. Kita masak secukupnya saja kali ini. Silakan dicuci berasnya. 3 x saja, agar kandungan gizinya tidak hilang. Siapkan air secukupnya, dimasak hingga mendidih. baru masukkkan beras yang sudah bersih tadi. Tunggu hingga air mengering.Lalu angkat. Tinggal ditanak lagi pakai dandang. Hingga masak.
"Oke ayah bisa, Ini sudah ayah siapkan."
"Untuk lauknya apa ya, Bunda?"
"Lihat di kulkas ada apa?"
"Alhamdulillah, ada guramie, tahu, tempe, udang, telur. ayam."
"Sayurnya?"
"Mentimun, tomat, cabe, cambah, terong, yang lainya aku nggak tahu namanya. Daun-daun hijau, ada kacang panjang juga."
"Pinginnya ayah bikin apa?"
"Guramie goreng,tempe tahu yang ada rasa manisnya itu lho, Bunda. Biasa kita dapat di kota Yogja."
"Tempe tahu bacem, maksud Ayah."
"Iya ..."
"Baik kita siapkan bumbunya.
untuk guramie goreng; bawang, kerumbar, kunyit, garam. haluskan."
"Ketumbar sama kunyit itu yang mana, Bunda?"
"Itu ..."
"Ya ... ya..."
__ADS_1
"Untuk tempe dan tahu bacem; bawang
merah, bawang putih, ketumbar, asam jawa, lenkuas, daun salam, gula merah, kecapa manis, garam dan air. Kalau ada air kelapa."
"Apalagi itu, Bunda. Aku nggak ngerti. Bunda saja yang menyiapkan bumbunya."
Hem ... akhirnya aku juga. Direktur kok diajari, adanya malah dikerjai.
"Ya sudah, ayah potong-potong dulu tempe dan tahunya. Tempenya di goreng dulu sebentar."
"Sebentarnya seberapa, Bunda."
Iya kan ....hafal kalau gaya kaya gini.
"Sudah, Ayah ambilkan air saja di panci kecil itu kita bacem tempe dan tahunya."
"Bunda, nasinya ini gimana, airnya sudah habis. Dimatikan."
"Ya ."
Sepertinya lebih mudah mengajari Anya dari pada ayahnya. Ya ... aku harus maklum. Kalau bakatnya itu menghabiskan makanan bukan membuat masakan. Sabar ...
45 menit sudah kita berkutat di dapur. Dan semua makanan hampir masak semua. Tinggal cah kangkung yang belum masak.
Tapi kudengar suara lirih Anya memanggil-manggil dari dalam kamar.
"Ayah, sepertinya Anya bangun. Aku ke kamar dulu."
"Lho ini gimana, Bunda?"
"Tinggal beri garam secukupnya."
Ya ... bunda sudah melarikan diri. Secukupnya seberapa ya ....
Oke sudah. Hidangkan ...
Dengan bangga Zaidan menghidangkan masakan yang dibuatnya di atas meja makan.
Ada nasi, guramie gireng, tahu tempe bacem, sambal, lalapan, cah kangkung. dan minuman jeruk lemon.
Lalu mengundang Shaffa dan Layla untuk menikmatinya.
"Assalamu'alaikum ..."
terdengar bel rumah berbunyi.
"Wa'alaikum salam ..." Zaidan membukakan pintu.
"Hai Aldo, kebetulan kamu datang. Aku sedang masak besar nich. Silahkan dicicipi"
"Wah ... kebetulan sekali. Aku juga lagi laper."
"Kutunggu di meja makan, sama adik-adik aku."
"Ya. Aku letakkan dulu barangku."
Tak berapa lama Aldi sudah memenuhi panggilan Zaidan di meja makan.
Makanan yang mengundang selera.
Bertiga mereka mencicipi masakan itu. Dan menikmatinya dengan lahap tanpa bersuara. Zaidan menunggu hasil penilaian.
"Ini masakan kakak atau kakak ipar."
"Kakaklah ..."
"Oh ..."
"Kalian kok gitu sich."
"Percaya, apalagi yang ini." kata Shaffa menunjuk cah kangkung dihadapannya. Yang hampir tak tersentuh.
"Ya ... rasa pengantin baru."Aldo menimpali.
sambil melempar senyum pada Shaffa dan Layla.
"Iya."Layla tak mau kalah.
"Maksudnya apa sich."
Zaidan bingung dibuatnya.
"Hai sudah kalian cicipi." Dinda ikut nimbrung setelah selesai menenangkan Anya.
"Kakak ipar, berhasil. Masakan kak Zaidan enak."
"Alhamdulillah."
"Tapi belum tentu kalau besok dinilai oleh chef Juna."
"Jurinya chef Juna?! akhirnya aku hisa ketemu dengan beliau."
"Cuma ini,sepertinya pernyataan hati kak Zaidan ke kakak dech ..." kata Layla sambil menunjuk cah kangkung.
"Makanya kami sisakan untuk Kakak." Shaffa ganti menimpali.
"Dicoba, Kak." Layla menyemangati.
"Baiklah."
Tanpa curiga Dinda mengambil satu sendok cah kangkung. Lalu memasukkkannya ke dalam mulutnya.
"Mas," Dinda segera mengambil satu gelas air putih. Dan meminumnya.
"Ya, Sayang."
"Berapa garam yang kau taburkan."
"Satu sendok makan penuh."
"Pantesan ..."
"Mbak Dinda, artinya Zaidan punya keinginan terpendam." Aldo sudah tak bisa menahan tawanya lagi. Demikian dengan Layla dan Shaffa.
Zaidan hanya bengong, sedangkan Dinda makin merah merona pipinya.
__ADS_1
.