
"Grandfà, hari ini aku memdapat teman baru..."Jarinya menunjuk pada Arsyi yang baru saja keluar dari kamar. Dengan mata yang masih merah, belum sadar benar, masih sedikit mengantuk.
"Ajak sini, dong."
Anya menatap sesaat kakeknya dengan senang. Lalu berlahan turun dari pangkuan. Berjalan menghampiri Arsyi, yang sedang kebingungan.
"Anya, lagi ada pesta ya?"
"Ya, ammah dan tante mau tunangan."jawab Anya sambil mengandeng tangan Arsyi, mengajaknya ke tempat kakeknya.
"Siapa namanya?"
"Arsyi, Grandfa..."
Zaidan dan Syarif hanya tersenyum memandang putra-putri mereka. Baru saja berkenalan tapi sudah terlihat sangat akrab.
"Bagaimana, Rif"kata Zaidan. Syarif hanya tersenyum memperlihat giginya yang berjejer rapi.
"Masih anak-anak. Biarlah mereka sendiri yang menentukan kalau sudah masanya."
"Ada-ada saja ayah ini. Nggak tahu dech aku dengan pemikiran ayah." Dinda menyeletuk melirik tajam.
"Nggak apa-apa juga kok, Bun."
Ini pembawaan capek, atau pembawaan 'bumil' ya ....
Zaidan hanya bisa memandang istrinya dengan agak sedikit segan. Karena Dinda bicara, tapi mengalihkan pandangan. Tak mau menatapnya. Ditambah dengan wajah cemberut. Makin sempurna kalau senang kesal. Membuat Zaidan sedikit gelisah.
Sabar ....
"Kalian nggak mau ganti baju dulu. Nanti keburu tamunya datang lho." kata Dinda sambil menatap putrinya dengan mesra.
Anya menurut ketika bundanya mengajak pergi dari tempat itu. Anak sholihah ....
"Daddy, aku pergi dulu."
Kamal menganggukkkan kepala menatap menantunya. Yang terlihat sedikit agak lelah menghadapi Zaidan yang suka bercanda.
"Istrimu kenapa, Zay?"
"Tak tahu, Dad. Moga-moga saja benar, rencananya besok mau periksa."
"Maksudnya?"
"Do'anya saja, Dad."
"Ya ... ya ... hebat kamu Zay."
Terlihat, rombongan keluarga Aris maupun keluarga Fadly sudah mulai berdatangan. Zaidan beranjak dari tempat duduk, hendak menyambutnya. Meninggalkan daddy Kamal bersama Syarif dan juga Arsyi, putranya.
"Daddy, aku mau ke depan. Menyambut mereka."
"Ya. Nanti daddy menyusul."
Sedangkan Syarif dan tuan Kamal masih terlihat santai, berbincang-bincang.
"Maafkan tuan Kamal, apa tidak sebaiknya yang berbicara mewakili tuan rumah adalah anda?"
Kamal menatap Syarif dengan tersenyum kecil.
"Sudahlah. Aku serahkan urusan itu padamu. Yang lebih mengerti adat sini. Aku tak begitu mengerti bahasa sini. Malah membuat mereka akan binggung nantinya."
__ADS_1
"Terima kasih atas kepercayaannya."
"Sudah, ayo ke sana. Aku juga pingin menemui calon besanku."
"Mari, tuan Kamal."
Berdua mereka menuju ruang depan menyambut tamu-tamu yang sudah berdatangan. Sedangkan Arsyi berpamitan pada ayahnya hendak menemui Anya.
"Ayah, aku nggak ikut ya. Aku mau sama Anya."
Dia melihat Anya yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Ya, baiklah. Tapi nggak boleh nakal."
"Ya, Ayah."
Dia menghampiri Anya yang sudah berganti baju. Lalu Anya membisikkan sesuatu padanya sehingga keduanya tertawa
Apalagi saat beberapa hantaran mulai melewati keduanya.
"Kak, aku bantu ya ...." mohonnya pada salah satu pegawai ayahnya.
"Nanti tak kuat?"
"Kami kuat kok."
Mau tak mau mereka meluluskan permintaannya juga. Memberikan hantaran yang ringan pada mereka. Yang membawanya ke ruangan dekat dapur.
Setelah semuanya sudah dibawa ke ruangan itu. Anya membuka satu persatu hantaran. Dan memilih kue yang dia suka, membaginya dengan Arsyi. Setelah kenyang mereka pergi.
Bi Asih hanya geleng-geleng kepala. Menyaksikan putri majikannya mengacak-acak hantaran.
"Hai, Anya lagi dicari bunda lho." kata Shaffa yang kebetulan lewat di depan ruangan itu. Dia mendapatkan keponakannya sedang memegang buah anggur dan pir. Untuk dibagi dengan temannya.
"Nggak baik kekenyangan. Apalagi nanti Anya katanya mau main piano."
Anya diam dan sedikit merajuk.
"Ya ... ya... sekarang tante tunggu di depan. Sudah nggak boleh ambil lagi, lho"
"Baik tante Shaffa." ujar Anya
💎
Alhamdulillah hampir semua tamu sudah datang. Termasuk mama Veronika dan keluarga dekatnya.
Demikian juga dengan rombongan keluarga Aris. Tak lama kemudian Bapak dan ibu Hamdan sudah hadir juga.
Hampir semua sudah hadir, tinggal satu orang yang belum nampak batang hidungnya.
Siapa lagi kalau bukan Fadly.
Sedangkan Layla dan juga Mayasa sudah keluar dari kamar yang ditemani oleh Haydi dan Ana.
"Kak, sini sebentar."
"Ada apa, May?" Layla mendekati kembarannya itu.
Mayasa berdiri, merapikan bros yang ada di jilbab Layla.
Meski Mayasa baru mengenal jilbab. Tapi dia sudah lebih rapi dalam berjilbab. Demikian juga dalam memakai hiasan-hiasan yang ingin dia padukan dengan jilbabnya.
__ADS_1
"Tante aku pingin berjalan tanpa kursi roda."
"Nggak apa-apa.?"
"Ngak, Tante."
"Tante ikut senang. Tapi hati-hati,"
"Ya, Tante."
"kalau capek boleh pakai lagi."
"Ya, Tante."
Dia berjalan berlahan mengiringi Layla yang berjalan terlebih dulu, ditemani Haydi , maminya.
Tiba di ruangan depan, Mayasa menundukkan pandangan, merasa jadi pusat perhatian. Sibuk mengatur detak jantungnya. Hingga tak begitu memperhatikan sekeliling.
Masih dengan menunduk dia duduk di samping Ana. Yang menyapa tamu-tamunya dengan ramah.
"Mana yang namanya Fadly, May?" tanya Ana penasaran.
Baru kemudian Mayasa berani mengangkat wajah. Mencari sosok yang dinantikannya, di antara para tamu.
Setelah melayangkan pandangannya ke seluruh ruangan, baru dia sadari Fadly tidak ada di antara mereka.
Dengan wajah sedih, dia menatap Hendiana.
"Tidak ada, Tante?" jawabnya cemas.
Hendiana bangkit dan menatapnya dengan senyum.
"Jangan cemas. Mana mamanya?"
Mayasa menunjuk seorang wanita paru baya dengan baju abaya warna putih motif, berjilbab motif yang sama dengan bajunya.
"Tenanglah di sini. Tante akan menanyakan pada mamanya."
Dengan menyapa setiap tamu yang dilaluinya dia mendekati Veronica. Setelah berbisik sebentar, Veronica mendekati Mayasa. Sedangkan Hendiyana melangkah mencari-cari Zaidan dan Aldo, di antara tamu pria.
Tak lupa Mayasa mencium tangan mama Veronica ketika mereka sudah saling berhadapan. Veronica menyambutnya dengan pelukan hangat.
"Mama, kak Fadly mana ... mengapa belum datang?"
"Jangan khawatir, dia pasti datang." jawabnya. Sambil menepuk bahu Mayasa dan membiarkan senyuman menghias bibirnya. Meski hatinya sendiri agak cemas.
Jawaban itu tak membuat hatinya menjadi lega. Terlihat sekali kalau sedang gelisah. Duduknya menjadi tidak tenang. Sebentar berdiri, lalu duduk lagi.
Ketika melihat Hendiyana, Aldo dan Zaidan keluar. Mayasa bangkit dan berjalan meninggalkan Veronica yang sedang berbincang-bincang dengan tamu yang ada di sampingnya.
Dengan langkah pelan meski tak lagi tertatih, Mayasa mendekati Hendiyana yang sedang berbincang-bincang di luar dengan kakak Zaidannya dan juga pak Aldo.
Langkahnya terhenti manakala mendengar kakaknya mengangkat telepon.
"Diikuti?"
"Pak Aslam?"
"Syukurlah, Baiklah. Tunggu kita menyusul."
"Serlok!"
__ADS_1
Zaidan segera menutup telepon. Dan bergegas pergi bersama Aldo, meninggalkan nyonya Ana sendiri.
Mayasa diam bersandar di dinding. Dia telah mendengar semua meski samar. Naluri yang dia punya sewaktu di dunia hitam, penuh kekerasan, dapat menyimpulkan bahwa terjadi sesuatu dengan Fadly, orang yang dinantikan kehadirannya saat ini.