SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 89 : Masuk Tol saja


__ADS_3

Ada saja hal yang terlewatkan. Mengapa bisa sampai tidak kepikiran sejak awal. Siapa yang akan menjadi wakil keluarga dalam acara lamaran ini. Dia sampai menepuk dahinya.


"Astaghfirullahal adzim. Ayah lupa."


" Ada apa, Yah."


"Itu, yang ngomong nanti siapa?"


"Nach, Ayah." jawab Dinda sedikit kesal.


"Bunda, ayah pergi dulu ya ...?"


"Cepat lho. Keburu tamu datang."


"Akan ayah usahakan. Kamu bisa urus ini sendiri?"


"Insya Allah."


"Anya ikut ayah, boleh"


"Oke."


"Biar untuk Tata ruangnya, May yang atur, Kak."


"Nach ... betul sekali May."kata Zaidan menimpali.


"Ayo Anya, kita pergi dulu!"


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam."


Dengan sedikit terburu-buru, Zaidan mengemudikan mobilnya, menuju Islamic Center menemui Syarif, sahabatnya. Usaha terakhir dalam waktu injury time untuk menyempurnakan acara yang akan dia laksanakan.


Sayang senja sudah mulai turun dan mendekati waktu maghrib. Mau tak mau dia harus menunggu Syarif yang sudah bersiap akan mengumandangkan azan di masjid, komples Islamic Center.


Tapi tak mengapa. Mungkin dengan kita bersabar dan sholat Tuhan berkehendak yang terbaik untuk kita. Zaidan mengikutinya meski belum sempat menemuinya.


Setelah selesai melaksanakan sholat sunnah ba'diyah maghrib, Zaidan mencoba mendekatinya.


Alhamdulillah, sàat itu Syarif juga selesai sholat dan hendak beranjak dari tempatnya.


"Tumben mampir, Zay?"


"Ya, kangen. Dan untuk memenuhi undanganmu tempo hari."


"Kalau gitu, ayo ke rumahku!" kata Syarif berdiri dan berjalan berlahan meninggalkan tempat sholat.


"Emm ...baiklah."


"Hai Anya, bagaimana hafalannya."


" Sekarang sudah juz 29, Om Syarif."


"Hebat."


Tak berani Zaidan mengutarakan maksudnya. Sehingga mereka sampai di rumah Syarif. Yang ada di sekitar kompleks itu.


"Nich ... rumahku."


"Nyaman ..."


"Syarif, boleh aku ganggu dirimu."


"Nach kan bener ... ada udang di balik batu. Tak mungkin boss sesibuk kamu, mampu meluangkan waktu untuk sekedar mampir."


"Jangan begitulah."


"Tapi nggak apa-apa. Aku paham dan maklum. Setidaknya kamu tak melupakan tempat ini. Aku sudah bersyukur banget."

__ADS_1


"Sekarang kosong?"


"Ada apa?"


"Adikku mau lamaran, kamu bisa bantu?"


"Kapan?"


"Sekarang?"


"Selalu saja mendadak." jawab Syarif dengan sedikit bersungut.


"Maaf dech." Zaidan tak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya.


Syarif menyandarkan kepalanya di kursi sambil bernafas panjang. Sahabatnya yang satu ini memang selalu bikin senewen. Kalau ada acara, selalu mendadak. Tapi ...


"Baiklah."


"Terima kasih, Rif."


"Aku siap-siap dulu."


"Baiklah."


Sementara Syarif ke dalam, Zaidan baru sadar kalau Anya yang ada di pangkuannya sedang menggerak-gerakkan tangannya, seolah-olah sedang memanggil seseorang yang ada di balik tirai.


"Hai sini ... "


Dengan malu-malu dia memperlihatkan wajahnya. lalu sembunyi lagi di balik tirai.


"Sini yuk." ajak Zaidan. Ketika tampak kepalanya yang nongol malu-malu.


Tak jua dia beranjak dari tempat persembunyiannya.


"Arsyi, ada apa sayang. Kok di situ." ucap Syarif yang mendapati putra nomor duanya sedang mengintip tamunya.


Syarif menatapnya bingung.


"Ajak saja, Rif. Nggak apa-apa."


"Baiklah."


"Ummi sayang, bisa ambilkan baju ganti Arsyi. Arsyi mau aku ajak!"


"Ya Abi. Tunggu sebentar." suara jawaban dari dalam.


Mesra juga sahabatku ini memperlakukan keluarganya. Zaidan senyum-senyum menatap Syarif yang membalikkan wajahnya dari tatapan Zaidan. Karena ingin menghampiri istrinya. Yang sudah membawa tas kecil, berisi baju ganti Arsyi, putranya.


"Arsyi, disana nggak boleh nakal ya ..."


"Ya, Ummi." jawabnya senang. Lalu berlari menghampiri Anya yang sedari tadi memangil-manggil dirinya. Lalu keduanya tertawa bersama. Entah apa yang mereka bicarakan. Kurasa baik Zaidan maupun Syarif tak mengerti.


"Abi pergi dulu. Nggak usah tunggu abi. Habis isya kunci saja rumahnya. Abi sudah bawa kunci serep."


"Baik, Abi."


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa'aliakum salam ..."


Tak lupa syarif memberikan kecupan di dahi istri, sebelum meninggalkannya.


Zaidan amat bersyukur, Syarif bisa menolongnya lagi. Karena dia tak tahu harus kemana, seandainya Syarif tak bisa.


Anya yang merasa punya teman baru, terlihat senang sekali. Keduanya berjalan beriringan sambil bicara dengan bahasa mereka. Kadang Zaidan maupun Syarif dibuat bingung .Tapi sepertinya mereka nyambung. Buktinya keduanya bisa tertawa.


Mereka tak berhenti mengobrol meski sudah di dalam mobil.


"Kelihatannya putrimu sekarang sudah banyak perubahan."

__ADS_1


"Alhamdulillah. Ini tak lepas dari campur tangan Yang Kuasa, yang mengirimkan Dinda padaku. Dia banyak membantu terhadap perubahan Anya."


Zaidan melaju dengan kecepatan sedang, karena di jalanan yang dia lalui, teramat sibuk. Tiba di perempatan, Zaidan menghentikan mobilnya karena lampu merah. Ada seseorang yang mengetuk kaca mobilnya.


"Pak Zaidan, tolong jangan lewat jalan yang kanan. Lebih baik bapak belok ke kiri. Ada seseorang yang yang menginginkan nyawa bapak."


Lalu orang itu pergi menaiki motor melaju kencang hilang entah kemana.


Zaidan tertegun sejenak, menatap Syarif yang ada di sampingnya.


"Menurutmu bagaimana?"


"Kamu kenal?" tanya Syarif


"Tidak."


"Bisa jadi itu benar, ingin menyelamatkanmu. Tapi bisa jadi itu hanya jebakan."


"Aku tak mau resiko. Apalagi ada mereka." kata Zaidan sambil melirik putra-putri mereka yang sedang gembira bermain bersama.


"Lalu?"


"Kanan maupun kiri sama-sama melewati jalanan yang kurang pencahayaan. Dua-duanya punya resiko. Lebih baik kita berputar-putar dulu. Lalu masuk jalan tol. Semoga pak Aslam sudah menyambut kita ketika sudah sampai keluar jalan tol."


"Pemikiran yang bagus, Zay." kata Syarif.


Zaidan mengangkat telpon, selagi lampu perempatan belum berubah warna.


"Siap?"


"Oke."


"Sambil tolong temeni mereka berdua. Aku mau mematikan lampunya."


"Oke." Syarif segera berpindah ke belakang.


"Anak-anak diam dulu ya ... lampunya mau ayah matikan. Gantian dengan lampu depan. Agar ayah bisa lihat jalan."


"Oke ayah ..." jawab Syarif menggantikan jawaban Anya. Agar putra-putri mereka tenang. Tidak terkejut, apalagi berteriak ketakutan saat lampu dimatikan.


Alhamdilillah mereka tenang dan diam. Lalu keduanya rebahan di kursi masing-masing. Memperhatikan Zaidan yang sedang mengemudi.


"Kalian boleh tiduran. Abi kedepan dulu. Nemeni ayahnya Anya."


"Ya."jawab Arsyi lirih.


Syarif segera memasang sabuk pengaman kembali, begitu bisa kembali duduk di samping Zaidan.


"Zay, sepertinya kita diikuti."


"Ya, aku tahu. kulihat di sebelah kanan ada 1 mobil dan 4 motor."


"Aku juga melihat yang lain, Zay."


"Kita harus tenang. Sebentar lagi kita masuk tol."


"Tolong hubungi pak Aslam lagi untuk tambah personal."


"Oke." Jawab Syarif yang menerima lemparan hp Zaidan.


Zaidan segera berbelok ke arah jalan tol. Tak menuruti anjuran dari orang tadi.


Dari balik spionnya dia melihat, ternyata 2 mobil yang menguntitnya tetap mengikuti, meski sudah masuk jalan tol.


Tak ayal mereka beradu kecepatan di jalan bebas hambatan tersebut. Hingga Zaidan akhirnya dia keluar dengan tidak mengurangi kecepatan sedikitpun.


Alhamdulillah setelah dia keluar, 2 mobil yang dikomandoi oleh pak Aslam mengirinya mereka dengan rapat dan berjalan melambat menghalangi laju mobil penguntit tersebut.


Sedangkan mobil Zaidan sendiri tetap melaju dengan kencang hingga sampai di rumah. Meninggalkan mobil-mobil pengiringnya yang mendadak harus berhenti karena ada hadangan dari depan.

__ADS_1


__ADS_2