
Indah pancaran mentari menyeruak menembus dedaunan lebat yang ada di pekarangan. Menyentuh bening embun yang bergelantungan. Hingga membawanya terbang menghilang dalam kehangatan.
"Ammah ... kejar aku," Suara riang Anya membuyarkan angan Dinda, yang sedang menari-nari melukis rasa, akan kebesaran Yang Kuasa. Penguasa alam nyata dan fana.
Ammah ... Dinda tertegun mendengar kata-kata Anya. Lalu meraih tangan Anya yang sedang berlari ke arahnya.
"Mana ammah, Sayang?"
"Itu..."
"Tante ...?"
"Bunda, tante Mayasa minta dipanggil ammah."
"Oh ..."
"Kakak ipar, maaf." Mayasa melirik Anya sambil senyum-senyum.
"Anya, Bunda boleh tanya. Tadi kamu bilang apa ke tante?"
Pasti ada sesuatu nich, pikir Dinda.
"Tante tanya ... Dimana ayah bertemu bunda."
Hemmmm ....
Jangan-jangan Anya cerita semua ke Mayasa. Dinda memejamkan mata. Tak mau membayangkan.
"Lalu ..."
"Anya cerita kalau bertemu bunda di taman bersama ayah. Ayah memanggil bunda ammah. Aku tak suka ... aku panggil 'bunda'. Kan memang bunda Dinda, bundanya Anya."
Nach kan ....
Mayasa menatap Dinda dengan senyum lebar. Dinda menjadi gemes sama putrinya. Lalu menyentuh hidung Anya sambil tertawa.
"Anya ..."seru bunda Dinda seakan menegur putrinya itu.
"He ... he ... he ... maaf, Bunda." Jawab Anya tertunduk. Dinda segera memeluknya dan mempermainkan hidung mereka berdua.
"Maaf, Kak. artinya ammah itu apa?"
"Ammah itu artinya tante dalam bahasa arab."
"Kukira nama untuk orang khusus."
Dinda hanya tersenyum.
"Bagus kalau kamu mau dipanggil ammah sama Anya. Suka?"
"Suka, Kak."
"Oke, ammah Mayasa."Kata Dinda dengan gembira.
"Sekarang, kita sarapan dulu. Kakak sudah bikinkan tadi, waktu di rumah mami Haydi."
Wajah Mayasa meredup seketika. Pandangannya menerawang jauh menembus batas angannya. Ingin dia berjumpa dengan orang yang melahirkannya. Tapi bagaimana .... Sedangkan sejak dilahirkan, sudah tak pernah melihatnya. Apakah dia putri yang terlupakan atau putri yang terbuang. Hingga sampai dewasa tak ada yang mencarinya.
Mungkinkah dia bisa bertemu dengan orang yang melahirkannya, maminya. Mayasa tak tahu ...
"Bersabarlah, nanti ada saatnya."
"Ya, Kak."
__ADS_1
Dinda mendorong kursi roda Mayasa, mengajaknya ke dalam. Yang diiringi Anya dengan berjalan sambil memegang kursi roda ammah barunya.
"Kak, bisakah aku kembali ke apartemenku, untuk ambil baju-bajuku."
Dinda baru sadar kalau Mayasa memakai baju yang telah dikenalnya.
Mayasa mengerti tatapan Dinda dan menjelaskannya.
"Iya, Kak. Ini juga baju yang diberikan bik Rahmah. Katanya milik bunda Anya. Apa ini punya kakak?"
"Iya."
Dinda tersenyum sendiri, mengingat baju itu.
Baju yang terlupa di mobil Zaidan, saat ke pantai dulu.
"Nggak apa-apa. Nanti kita bicarakan dengan mas Zaidan."
Rupanya Zaidan telah mengerti keadaan Mayasa. Sore harinya dia datang dengan setumpuk paper bag yang berisi pakaian. Bukan dari apartemennya, Tapi dia belikan.
Setiba di rumah, Zaidan turun dari mobil dan minta tolong ke bi Sari, untuk membawa seluruh paper bag ke dalam rumah.
Sedangkan dia, mencuci tangan dan wajah serta kakinya di sumur kecil yang ada di tengah-tengah kebun kecilnya.
Setelah bersih dan segar. Dia masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum semuanya ... "
Anya yang sudah rapi selesai mandi, sedang bermain ditemani Mayasa menoleh kearah sumber suara.
"Ayah pulang." teriaknya senang.
Dengan sedikit berlari, dia menghampiri ayahnya yang tersenyum lebar.
"Wa'alaikum salam, Ayah."
"Nach, gitu dong ..."Sambil memeluk dan mengecup pucuk kepala Anya. Lalu meraih dalam gendongannya.
"Ini oleh-oleh dari ayah." Zaidan memberikan 2 buah paper bag padanya.
Berlahan Anya turun dari gendongan ayahnya. Dan meraih 2 paper bag tersebut.
"Wow, baju baru ...."Matanya berbinar-binar melihat apa yang ada di dalamnya.
Tapi dia masih mencari-cari sesuatu. 2 paper bag itu dibuka lalu ditutupnya kembali. Tidak hanya sekali. Sepertinya ada yang dia cari.
"Ada apa, Anya."
"Ayah, mana kuenya?"
"Hari ini, ayah tak bawa kue. Takut dimarahi sama bundamu!"
Tampak wajahnya sedikit kecewa. Tapi kemudian dia tertawa, ketika tangan kiri Zaidan, keluar dari persembunyiannya. Memperlihatkan kotak kecil kue coklat kesukaannya.
Dengan hati gembira Anya meraih kue itu, dari tangan Zaidan.
"Bawa kesana, nanti ketahuan sama bundamu, Dimarahi." bisik Zaidan yang disambut tertawa oleh Anya.
"Ayah ..."
Tanpa disadari Zaidan, Dinda sudah ada di ujung tangga. Menatapnya dengan tersenyum meski kesal. Ups ... ketahuan dech.
"He ... he ... he .... Assalamu 'alaikum, Bunda Anya." Mata Zaidan berbinar menatap istrinya yang sudah rapi dan segar.
__ADS_1
Dinda sedikit kesal. Meski begitu dia menjawab salam itu dengan senyuman.
"Wa'alaikum salam ... Ayah." Dinda meraih tangan Zaidan dan menciumnya dengan ta'dzim. Zaidan memuluknya dan mencium pucuk kepalnya.
"Maafkan ayah, Bunda. Karena dengan memberikan oleh-oleh kecil pada putriku, aku merasa berarti, Dan aku bahagia."
Dinda terdiam.
"Ya, Ayah. Maafkan bunda, selama ini nggak mengerti itu."
Zaidan mengangguk dan mencium dahi Dinda sekali lagi. Hampir saja dia juga akan mencium bibir Dinda, kalau saja Mayasa tidak berdehem mengingatkan. Dengan enggan Zaidan melepaskan Dinda dari pelukannya.
"Dan ini untuk bunda."
Zaidan memberikan 2 paper bag padanya. Dinda terlihat gembira menerimanya.
"Itu untukmu, Mayasa. Semoga kamu suka." Zaidan menunjuk 8 paper bag yang di bawa oleh bi Sari.
"Makasih, Kak."
"Mayasa, aku bingung dengan Fadly. Setiap hari nanyakan kamu."
"Kak, aku mau tenang dulu. Dan belum tentu dia mau menerimaku yang sekarang cacat."
Zaidan terlihat sedih mendengar jawaban Mayasa, begitu juga dengan Dinda.
"Jangan begitu, Mayasa."
Mayasa berlalu dari tempat itu menuju kamarnya. Di samping kamar Hayana. Dengan membawa paper bag dari kakaknya.
"Mas!?" Dinda menatap Zaidan sedih.
"Biarkan dulu. Dia perlu waktu."
"Sekarang tunjukkan kamar kita!"
"Lalu siapa yang menemàni putrimu?"
"Baiklah, ayah mengalah." sambil berlalu meninggalkan Dinda dan Anya. Menuju kamarnya yang ada di lantai atas.
Tak ayal Dinda mengirinya dengan membawa tas Zaidan dan paper bagnya ke atas. Namun sesaat kemudian telah kembali menemani Anya menghabiskan oleh-oleh dari ayahnya.
💎
Adanya Mayasa di rumah ini, benar-benar menambah keceriaan Anya.Apalagi Anya merasa cocok dan nyaman bersamanya.
Kadangkala Mayasa meminta pada Dinda, untuk menggantikan membacakan dongeng sebelum tidur. Dan Anya menerimanya tanpa sedikitpun mengingat pada kenangan kelamnya. Membuat Mayasa semakin merasa berdosa.
Di rumah kakaknya ini, Mayasa sering menghabiskan waktu dalam kesendirian. Hanya berteman kanvas, untuk mengusir rasa, yang sering membuatnya menangis.
Satu yang menjadi penghibur laranya dan sekaligus menjadikan ia menyesali jalan hidupnya. Anya kecil ....
Ya Anya kecil ....
Yang sekarang bermain-main dengan kitty, kucing kecil yang manis.
"Anya sini, mau ammah lukis?"
Anya hanya tersenyum menatapnya. Tak mengatakan iya ataupun tidak pada Mayasa. Lalu bermain dengan kitty kembali. Kadang dia usil dengan kucing itu, hingga terkadang kitty hendak mencakarnya. Karena merasa terganggu. Tapi dengan segera tangan kecil Anya membelainya hingga tertidur di kakinya.
"Oke Anya, posisi itu ya...."
Anya hanya mengikuti kata hatinya, tak mengerti maksud ammahnya. Masih asyik dengan kitty. Cukup lama dia bermain, hingga dengan leluasa Masaya dapat melukis Anya dengan pose seperti itu.
__ADS_1
Setelah mendapatkan sketsanya, Mayasa asyik untuk menyempurnakan lukisannya. Hingga tak menyadari kalau Anya telah pergi.