
Sekarang menghubungi Aldo.
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikum salam wr. wb."
"Besok jadi kemari?"
"Pasti dech ..."
"Sama istri?"
"Tidak, istriku nyusul di hari H. saja. Tapi tolong penginapannya."
"Tenang. mau hotel mana?"
"Okelah kalau gitu , Sip."
"Assalamu'alaikum wr.wb."
Setelah lelah dan menguap beberapa kali, akhirnya Zaidan menyerah juga dengan rasa kantuknya. Dia tertidur di sisi kedua wanita yang disayanginya.
15 menit sudah cukup untuk menghilangkan lelah tubuhnya. Berlahan dia bangkit meninggalkan Anya dalam pelukan ayahandanya. Kini Dinda bersiap kembali pada aktifitas semula.
Sejenak dia membersihkan muka di toilet kamar mandi. Namun tak lama kemudian, kumandang azan asyar terdengar.
Dia mendekati Zaidan dan berbisik berlahan di telinganya.
"Sayang, ... sudah asyar."
Zaidan berlahan membuka mata dan mendapati wajah istrinya teramat dekat dengannya.
"Hayo ... hendak ngapain. Mencuri ciuman ya ...."
Hem ... suamiku ini lagi mabuk kali ya ...
Pikirannya kok masih ngelantur.
Dia ulangi lagi ucapannya.
"Ayah Anya tersayang ... bangun ... sudah asyar."
Zaidan menatap lekat wajah istrinya yang tak berjarak dengannya. Sambil tersenyum nakal. Dan menyentuh hidung istrinya yang mancung ukuran orang Indonesia.
"Iya, Sayang. Mas sudah bangun. Bahkan keseluruh tubuh mas juga bangun."
Tangan kekar Zaidan meraih tengkuk Dinda. Menyebabkan wajah Dinda terjatuh sempurna di wajahnya. Tak membuang kesempatan Zaidan ... hingga Dinda gelagapan menghadapi serangan Zaidan yang tiba-tiba. Hingga dia tak bisa bernapas. Dinda berusaha melepaskan diri dari dekapan Zaidan.
"Mas, nanti Anya bangun." kata Dinda setelah berhasil melepaskan diri darinya.
"Iya ... ya ... mas tahu kok. Tolong bangunkan sekalian."
"Tapi mas sana dulu geh!" sambil mengibaskan tangannya.
Zaidan segera bangkit. Duduk di tepi ranjang. Membiarkan Dinda melewati dirinya. Sambil bergumam dalam hati. Kalau tak ada Anya sudah kuterkam dirimu sayang ....
Lalu bangkit meninggalkan Dinda yang sibuk membangunkan putrinya menuju kamar mandi. Untuk membersihkan diri dan bersuci.
Dinda menyentuh wajah putrinya dengan lembut.
"Anya sayang, waktunya bangun. Nak."
Tak memerlukan waktu lama, Anya sudah duduk meski dengan mata terpejam.
"Sudah asyar ya, Nda."
"Ya sayang. Kita sholat dulu yuk." sambil menuntut putrinya turun dari ranjang, menuju kamar mandi.
"Aku tunggu di Musholla."
"Ya, Mas."
__ADS_1
Setelah mengganti baju Anya dan memberikan rukuhnya. Dinda membiarkan Anya mengikuti ayahnya menuju ke musholla. Dan dia secara cepat juga bersiap menyusulnya.
Di sana telah menunggu seluruh adik dan maminya. Tak lama kemudian Zaidan mengumandangkan iqomah, untuk melakukan sholat asyar bersama-sama.
"Habis ini kita melukis, yuk."
"Bener?"
"Benar ..."
"Oke, Ammah. Bunda, Anya nitip rukuh ya ..."
"Hemmmm ... tak. Silahkan diletakkan sendiri dengan cepat."
Wajahnya sedikit merajuk, tapi menurut juga. Dengan berlari dia meletakkan rukuh di kamar. Lalu kembali menunggui amma Mayasa yang sedang tertatih-tatih menuju kursi rodanya. Dinda yang berjalan melewatinya memberikan kecupan sayang pada dirinya.
"Putri bunda yang rajin, terampil dan sholihah."
"Makasih, Bunda." Dia membalasnya dengan ceria.
"Nach sekarang siap."
ucap Mayasa yang sudah sampai di kursi rodanya.
"Kita ke depan atau ke belakang." tanyanya pada Anya.
"Ke belakang saja, Anya ... Mayasa."
Zaidan masih khawatir kalau-kalau Anya lari keluar dan terjadi apa-apa dengan mereka. Meski di sana sudah ada 2 satpam.
"Oke, kita ke belakang. Sesuai saran ayah Zaidan." ujar Mayasa sambil memutar kursi rodanya, mengajak Anya ke halaman belakang.
"Bunda mau kemana?"
"Ke dapur sebentar."
"Belum selesai?"
"Bikin apa tho, Bun."
"Macam-macam. Ada puding, ada juga kue ringan lainnya."
"Bun, ayah pingin cicipi. Boleh?"
"Boleh."
"Tolong bawakan. Aku tunggu di kamar. Malu di sini nanti ketahuan Anya. Malah habis."
"Ya, Ayah."
Zaidan menunggu dengan sabar di dalam kamar dengan membuka laptopnya. Karena hari ini dia hanya beberapa jam saja ke kantor. Memeriksa email dari Abid sekretarisnya.
Cukup lama juga dia menunggu, Dinda tak jua menyusulnya. Hingga selesai dia memeriksa semua email yang masuk.
Saat meletakkan lapton di meja. Bertepatan mendengar langkah Dinda mendekati kamarnya. Dia segera bersembunyi di balik pintu.
Dinda terheran-heran, tak mendapati seorangpun di dalam kamarnya. Dia mengurungkan niatnya untuk meletakkan makanan kecil itu di atas nakas. Dan berbalik ingin membawanya kembali ke dapur.
Ketika berbalik, berlahan pintu menutup dan ada Zaidan di sampingnya. Yang menatapnya dengan senyum menggoda.
"Ayah, bikin bunda kaget saja!"
"Kok, dibawa balik?"
"Aku kira ayah nggak ada."
Lalu Dinda meletakkan makanan kecil itu di atas nakas.
Zaidan berlahan mengunci pintu, mendekati Dinda yang sedang duduk manis di pinggir ranjang.
"Kok lama?"
__ADS_1
"Ya, ada sedikit yang harus dipersiapkan. Agar bi Asih bisa melakukannya sendiri."
"Membiarkan suami menunggu?"
"Maafkan Dinda, Mas."
"Sekarang sudah semua, kan?"
"Insya Allah."
"Kalau gitu, sekarang temani mas."
"Huuuaalllah ... kirain apa. Bikin Dinda takut saja."
Zaidan membuka mulutnya, sedang matanya melirik pada makanan di atas nakas.
Dinda mengambil sepotong kecil puding dan memasukkannya ke mulut suaminya.
"Bunda, kalau Anya melakukan kesalahan. Dihukum atau dibiarkan?"
"Tidak dua-duanya."
"Lalu?"
"Diberi hadiah."
"Bunda kereeen, salah di beri hadiah."
"Sesuai amal perbuatan hadiahnya."
"Tapi yang pasti dengan ciuman meski dengan sedikit marah. Agar dia tak merasa terintimidasi. Kan dia masih kecil. Perlu belajar."
"Berarti ayah boleh menghukum bunda kalau bunda melakukan kesalahan."
"Kok gitu."
"Biar adil."
Dinda tertunduk, tak berani menatap mata suaminya.
Membuat Zaidan tertawa dalam hati. Tapi pandangan tertuju pada Dinda dengan penuh hasrat.
"Hukumannya, kata bunda adalah ciuman meski dengan marah."
"Mas ...."teriak Dinda sambil memukul gemas suaminya.
"Hus .... jangan berisik kedengaran orang." sambil menangkap tangan Dinda yang hendak memukulnya. Membuat wajah mereka teramat dekat hampir tanpa jarak.
Sesaat itu telah membuat detak jantung Dinda terhenti.
Apalagi Zaidan mendekapnya dan memberi ciuman mesra di bibirnya. Membuatnya terbuai dalam angan hasrat bercinta bersama.
"Mas tak akan menghukummu, Sayang. Karena kamu ada dalama hati mas. Dan mas berharap ini untuk selamanya."
"Mas hanya kangen, Sayang."
"Dinda juga." mata Dinda menatap suaminyanya dengan manja. Untuk apa rasa ini disembunyikan. Kalau dengan itu kami bisa memupuk cinta ini semakin berbunga-bunga.
Membuat Zaidan tertawa mesra dan semakin erat memeluk istri dengan segenap rasa kasih sayang yang dia punya.
"Mas suka dengan kejujuranmu."
Berbisik lembut di telinga sang istri dengan penuh kerinduan. Ungkapkan hasratnya yang semakin meronta-ronta mencari sandaran dalam cinta.
Dinda dapat merasakan kelembutan dalam permainan cinta Zaidan. Hingga dia dapat menikmati tanpa ada rasa tertekan apalagi terimidasi. Bahkan jiwanya merasa nyaman dan bahagia. Saat bisa melakukan untuk suami tercinta.
"Terima kasih, kasihku tersayang." Zaidan mengecup dahi Dinda di akhir aktifitas cintanya.
_____________________________
Sekali lagi maaf readers, author sudah berusaha menggambarkannya. Maaf kalau tak dapat memenuhi ekspetasi semuanya.🤗🤗💗💗🎶
__ADS_1