SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 57 : Mas, Aku di Sini (Reza POV)


__ADS_3

Saat ini sedang libur perkuliahan. Alangkah senangnya dapat kembali ke kampung halaman. Yang ada di tepi hutan. Indah pemandangan yang terhampar. Dengan pohon-pohon yang menjulang menambah rasa rindu dalam dada ini. Suasana desa yang sejuk, jauh dari polusi menanti untuk dinikmati. Apalagi dengan kehangatan yang senantiasa hadir di tengah-tengah keluarga, membuatku ingin berteriak.


"Maaakkkkk .... aku pulang."


"Reza, kamu nggak bisa ucap salam dulu, apa"


"Assalamu'alaikum ... Makku yang cantik."


Kupeluk wanita pertamaku ... eh maaf... wanita yang melahirkanku, dengan bermanja. Tentu terlebih dahulu mencium tangannya yang lembut. Selembut serabut kelapa, dengan rasa berdosa. Karena tangan itulah yang bisa membuatku tumbuh besar seperti ini.


"Sudah makan?"


"Mak, masak apa?" selalu itu yang kuucapkan padanya. Namun tak pernah emak marah. Bahkan senyumnya yang kudapat.


Kubuka tudung saji di atas meja makan. Kudapati di sana ada dadar jagung, sayur bayam, tempe goreng. Tak ketinggalan sambal petai kesukaanku. Sederhana memang tapi asli dari huma. Tentu sehat dan halal.


Membuat selera makanku bangkit dengan segera. Lama tidak merasakan masakan emakku tersayang. Hingga tak sadar ku bergumam,


"Heemmm .... segar."


"Cuci tanganlah dulu."


"Ya, Mak."


Kulahap masakan makku. Hampir saja kuhabiskan sendiri. Kalau emak tidak bilang.


"Reza, untuk adikmu mana?"


"Oh ya, Mak. Masih Reza sisain, kok. Jangan khawatir."


"Bagaimana kuliahmu."


"Alhamdulillah baik, besok tinggal skripsi. Doain ya Mak. Biar cepat lulus dan wisuda."


"Aaamiiiin ... Kamu jangan macem-macam lho."


"Ya, Mak. Reza selalu ingat itu."


Setelah itu, aku mengistirahatkan badanku ini yang sudah remuk sehabis perjalanan jauh, dengan sepeda motorku, yang belum tergantikan. Masih setia menemani sejak aku memutuskan kuliah di kota.


Setelah istirahat beberapa saat. Hilang lelahku. Timbul kerinduan untuk melihat huma. Yang ada di tepi hutan. Agak jauh sich, tapi tak mengapa.


Menjelang asyar, aku mengeluarkan motor bututku dari rumah. Biarlah aku sholat di sana. Sudah terbiasa orang-orang di sini sholat di huma.


"Ke mana, Reza."


"Mau ke huma, Mak."


Aku sudah kangen sekali dengan pohon-pohon yang ada di sana. Sekarang musim buah-buahan. Beberapa buah-buahan mungkin bisa di petik untuk dinikmati.


Sudah lama aku tak merasakan lezatnya makan buah-buahan sambil duduk di atas dahan sebuah pohon. Dan menikmati semilir angin yang menerpa.


Benar ternyata dengan apa yang ada di pikiranku. Kulihat mangga dan rambutan terlihat menggoda. Segera aku memanjat pohon rambutan yang sudah tinggi menjulang. Entah berapa meter dari tanah. Tapi tak mengurungkan niatku untuk mencapai pucuknya.


Kuraih ujung dahan yang penuh dengan buah rambutan yang telah memerah. Dan memakannnya dengan santai di atas dahan, yang berbentuk kursi. Sangat nyaman untuk diduduki.


Aku terkejut ketika mendengar sebuah tembakan dari ujung hutan. Kulihat dengan jelas 5 orang pria menggiring 2 orang wanita.


Yang seorang menggendong seorang anak kecil yang tertidur pulas. Dan sama sekali tak terganggu dengan suara tembakan itu.


Sedangkan yang satunya terlihat berjalan di belakang wanita tadi. Kulihat bahunya terluka, tetapi dia dengan tenang berjalan. Seakan ingin melindungi wanita yang ada di depannya.


Semakin lama aku mengamati, semakin terlihat jelas siapa wanita itu.

__ADS_1


Subhanallah ....


Bukankah itu Adinda Humaira, adik kampusku. Yang sempat membuat hatiku terpesona. Tapi sayangnya saat ini dia sudah menikah. Sebelum ku mengungkapkan isi hatiku dengan sempurna.


Napasku terhenti, saat melihat ada darah yang keluar dari wanita itu. Ku amati mereka berjalan ke sebuah bangunan, yang cukup tersembunyi.


Oh ... ternyata di hutan ini, sudah dijadikan markas kejahatan.


Aku tak tahu apa yang mesti kulakukan. Aku turun dari pohon. Sejenak aku sholat asyar di tempat itu. Dengan berwudhu pada air yang mengalir di tepi humaku.


Setelah aku sholat, kutetapkan untuk menuju bangunan itu. Bagaimanapun wanita-wanita itu harus diselamatkan. Mereka orang-orang yang kejam. Membunuh tanpa ampun seperti yang baru kusaksikan. Bagaimana mereka memperlakukan perempuan yang tak berdaya.


Dengan mengendap-endap, aku menuju bangunan itu.


Aku tak bisa lagi mendekat. Kulihat banyak lelaki yang berbadan besar dan terlihat otot-ototnya, banyak berkeliaran di sekitar rumah itu.


Aku terhenti dengan bersembunyi di balik semak-semak, yang dilindungi sebuah pohon besar.


Mungkin kalau hari gelap, aku bisa memasuki rumah itu. Maka dengan sabar aku menunggu di situ.


Baru sejenak kegelapan menyelimuti hutan ini. Kulihat Dinda dan wanita itu keluar dari bangunan.


Bicara sejenak, kemudian Dinda lari dengan menggendong putrinya yang masih tertidur lemah.


Sesaat kemudian ....


Aku melihat wanita yang mengantarnya terjatuh di atas rumput. Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya.


"Din, sini!"


"Kakak kok di sini!"


"Sudah jangan banyak tanya. Ikuti aku.


Reza segera mengambil Anak itu dari gendongan Dinda. Dan membimbingnya berlari menembus gelapnya hutan yang mulai turun.


"Dinda, apa kamu masih kuat."


"Ya, Kak."


300 meter sudah Dinda dan Reza lari dari rumah penyekapan itu. Meski wajahnya terlihat sangat-sangat letih tapi dia tak merintih.Dia terus mengikuti Reza yang berlari dengan menggendong Anya.


"Alhamdulillah, itu motorku."


Kulihat wajahnya pucat, kuberikan putrinya yang entah mengapa, tak ada reaksi sama sekali, tapi napasnya teratur.


"Segera naik, melangkah saja. Biar nyaman." Dia mengikuti ucapanku tanpa banyak tanya.


Ku hidupkan motorku. Melaju sedikit kencang. Tapi aku tak tahu harus dibawa kemana.


Kudengar isakan lirih dibelakangku.


"Sayang, bukalah matamu."


Akhirnya aku putuskan untuk membawanya pulang ke rumahku.


"Siapa yang kau bawa itu, Reza."


"Adik kuliahku, Mak."


"Kamu jangan bawa orang sembarangan. Nanti jadi masalah."


"Mak, kelihatannya dia sedang kesusahan. Lihat wajahnya lesu."

__ADS_1


ibuku mendekati Dinda yang masih terisak dengan memeluk putrinya.


"Nak, apa yang terjadi?" Dia membelai lembut jilbab Dinda yang berantakan.


"Sayang, bangunlah." Kelihatannya Dinda tidak memperdulikan sapan ibuku.


"Reza, coba kamu hubungi keluarganya."


"Baik, Mak."


Sayangnya hp - ku sedang habis batereinya.


Nunggu 10 menit supaya terisi. Dan dapat digunakan.


"Din, nomor suamimu!" Dia segera mengambil hp yang kusodorkan. Dan mengetik nomornya. Lalu mengembalikannya padaku.


Saat dibutuhkan seperti ini, lha kok paketanku habis.


"Mak, aku keluar dulu. mau beli paketan."


"Cepat, nanti keluarganya mencari."


Selepas isya baru hp ini benar-benar dapat di gunakan.


Beberapa kali menghubungi, namun belum juga diangkat. Akhirnya hp itu aku berikan pada Dinda. Mungkin dengan ini bisa langsung terhubung.


Benar juga. Begitu Dinda yang pegang langsung terhubung.


"Hallo ...."


"Mas, Dinda dan Anya di sini. Cepat datang."


"Ya Allah, terima kasih. Engkau kembalikan istri dan anakku."


"Di mana?"


"Sebentar."


Hp itu dia kembalikan padaku. Aku mengerti


"Ini di kampung Asri, dekat hutan. Rumah ibu Halimah."


"Terima kasih."


"Asaalamu'alaikum ..."


"Waalaikum salam ...."


Tapi kulihat wajah Dinda masih gelisah sambil memeluk putrinya.


"Bukalah matamu , Sayang."


Tak berapa lama sebuah mobil datang. Keluar 4 orang laki-laki dari dalamnya.


Mungkinkah itu suami Dinda. Dia berlari ke dalam rumah tanpa peduli aku dan ibuku yang menyambutnya. Memeluk Dinda dan mencium putri yang ada dalam dekapan Dinda.


Ah sudah ....Kurelakan saja, Dinda pada orang yang sangat mencintainya.


___________________________


Readers yang budiman.


Mohon dukungannya. Berupa like , saran dan vote. Agar author semangat dalam berkarya.

__ADS_1


__ADS_2