SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 72: Ini Untukmu


__ADS_3

Setelah Nisa memindahkan semua barang boss ke dalam mobilnya. Dia berlalu meninggalakan Aris seorang diri.


Sejenak Aris mematung menatap 3 peper bag yang ada di mobilnya. Ada sedikit keraguan yang tiba-tiba melintas dalam angannya. Lebih baik dicoba dari pada tak pernah. Bila berhasil , alhamdulillah. Bila belum berhasil, tak perlu kecewa. Bukannya semua sudah ada yang menentukan.


Ah, mengapa aku sampai lupa menutup dan mengunci mobil Zaidan. Baiklah kebereskan dulu mobil itu, sebelum langkahku mengarah pada yang dituju oleh hatiku.


Selesai sudah yang jadi penghalangku di parkiran ini. Bismillah ... moga ini langkah awal untuk mendapatkan halalmu.


Biarlah kaki ini melangkah dengan tenang. Karena setiap langkahnya, ku ingin sisipkan sebuah do'a untuk bayangan yang setiap saat melintas di anganku. Hingga ringan kusebut dalam alunan lirih di setiap penghujung malamku.


Entah engkau merasa atau tidak. Tak mengurangi rasa ini untuk tetap tumbuh bersemi dalam taman hati penuh kasih. Cukuplah bagiku menyebutmu saat ini agar tersampaikan oleh hembusan seruni membawa yang kerinduan tuk menggapai bayang dirimu dalam nyata.


Ku tenteng bawaan penghias raga. Agar engkau terlihat cantik di hadapanNya. Dan kuingin engkau menjadi yang tercantik di taman yang ingin kubangun di hamparan kehidupan nyataku agar lebih sempurna.


Aku, kamu dan kita.


Ku masuk ke dalam lift. Biarlah ku artikan sebagai kata life, kehidupan. Kehidupan dari dasar hingga ke tingkat lima. Aku tak tahu apa di tiap tingkatnya, untuk apanya, dan mengisinya dengan apa. Yang ku tahu engkau berada di tingkat lima.


Ah ... kini kutahu, di tingkat awal. Bukan kah telah tercipta bayangan dan khayalan tentangnya hingga hatiku berbisik akan sebuah niat dan harapan. Yang berpadu sempurna dalam sebuah do'a. Bagaimana ku bisa lupa ....


Dalam diam telah ada daya yang mendorong anganku hingga di capaian ke dua. Apa yang telah ada dari capaianku sebelumnya. Dirinyakah ... atau sekedar suaranya ... tak, belum tercipta, apalagi ada dalam nyata. Hanya rasa ini bertalu-talu mengetuk rasa yang kian terasa damai untuk mengingatnya. Adakah ini telepati dalam diammu untuk menjawab rasaku yang terpaut padamu ....


Tak terasa sudah di tangga ke tiga, raga ini terangkat. Biarlah ku berdiam sejenak. Ku kosongkan anganku darimu. Agar aku lebih bisa melihat yang dikendaki olehNya untukku. Karena nafsu ini selalu berpacu melewati anganku jika tak karenaNya, ku takut akan membuatmu dan aku terluka.


Sudah semakin dekat raga ini untuk melangkah. Namun masih terhalang. Karena belum waktunya terbuka. Apanya ku tak tahu. Mengapanya yang ku tahu. Maka ku tengok paper bag pilihan warna hatiku untuk yang ku tuju. Moga berkenan dengan segenap pesona rasa yang tersimpan dalam jiwanya.


Tak sangka, kini aku akan melangkah, bebas dari ruang yang membelengguku, dalam angan dan khayal belaka.


Kini ku ditakdirkan untuk nyatakan sesutu. agar menjadi terang apa yang tersimpan dalam mimpi seorang hamba pada kasih yang dinanti. Hingga bisa ku gapai mimpi. Menjadikan dirimu halal untukku.


Ku rangkum dulu 5 tingkat yang telah kulalui dalam diamku, dari tingkat dasar hingga tingkat lima ini.


tingkat satu , bayangan dalam angan tercipta niat


Tingkat dua, rasa merinduku yang menginginkan bisa terhubung padamu, atau disebut dengan sinyal harapan


Tingkat tiga, Berpusat pada keyakinan dan harapan padaNya.


Tingkat keempat, ingin berbagi rasa.


Tingkat ke lima, akhirnya ku bisa melangkah untuk mencapai impian.


(Teorinya kepanjangan pak ...


yang pasti orang jatuh cinta aneh aja pikirannya. he ... he ... he ...)


"Assalamu'alaikum , Layla."


"Wa'alaikum salam, Kak."


Tangan Layla menunjuk ke Aris lalu ke dirinya sambil menyunggingkan senyum bahagia. Dan bening matanya berbinar ceria. Seakan ingin berkata.


Apa dirimu mengajakku bicara untuk hal yang pribadi?


"Maaf, Layla. Aku nggak mengganggumu, kan?"

__ADS_1


"Mau perlu pribadikah, Kak?"


"Sedikit."


Aris duduk di hadapan Layla dengan tenang. Mencoba memandang wajah Layla yang sedikit tertutup rambutnya yang terurai. Ingin sekali dia menyibaknya, kalau tak ingat dosa.


Andaikan dia sudah jadi halalku.


"Ya sudah sampaikan saja. Aku mendengarkan."


"Maaf ibu Layla. Saya ke sini ..."


Wush...bruks... sebuah kertas yang digulung berhasil mendarat sempurna di lengan Aris. Yang belum siap untuk menghindar.


"Ibu Layla ternyata galak juga."


"Kak Aris yang bikin Layla gemes. Sudah ku bilang, jangan panggil aku bu."


"Maaf, oke. Jangan marah."


Rupanya keduanya tak menyadari, bahwa ada sepasang mata yang telah lama di ruangan itu, merasa terganggu dengan tingkah mereka. Akhirnya memilih untuk menghindar.


"Bu Layla, bolehkah saya ke kantin sebentar."


Layla menjadi terbengong-bengong dengan sikap Abid. Sekretaris baru kakaknya.


Dia hanya bisa mengangguk.


"Oke, Kak Aris. Sebenarnya ada keperluan apa ke sini. Mana tadi aku di cuekin pula."


"Aku ingin memberimu ini."


"Anggap saja sebagia permintaan maaf telah ngrcueki kamu."


"Maaf diterima. Ya ... disogok duluan."


Aris hanya tertawa kecil.


"Semoga kamu suka."


Layla menerima dan mengintip apa yang ada di dalamnya. Terlihat wajahnya bersinar. Menampakkan rasa suka.


"Terima kasih, Kak. Aku suka."


"Besok hari minggu kita mau mengantarkan undangan. Bolehkah aku melihatmu memakai itu."


"Boleh, Kak. Akan kucoba, Insya Allah."


Kamu itu, sudah manis, manja pula. Ingin segera ku melamarmu.


"Dah, aku mau balik ke kantor. Takut kamu pecat."


"Selalu gitu, Kak Aris. Tapi bagaimana sekarang perkembangannnya."


"Alhamdulillah, Ibu Layla tak perlu khawatir. Insya Allah lebih baik."

__ADS_1


"Hem ... ibu lagi, Kak Aris."


Aris berlalu meninggalkan Layla yang sedikit sebel.


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam ....".


💎


Kembali ke kamar Haidy yang sedang berbunga hatinya. Karena menemukan putrinya yang tak pernah dia kenal ....


Sesaat Layla terpaku menatap gadis di hadapannya.


Apakah dia Mayasa yang pernah pak Fadli sebut di kantor dulu.


Apa hubungannya denganku.


"**Mam,"


"Ya. Ada apa Layla."


Layla terdiam, tak mampu melanjutkan kata-katanya.


Lalu Haydi meneruskan kata-katanya


"Mami ingin memperkenalkan putri mami. Kembaranmu Layla."


Layla mengulurka tangannya. Yang disambut hangat Mayasa.


"Layla ..."


"Mayasa ..., hai, baju kita sama."


"Iya ..., tak tahu. Aku diberi, "


"Kak Zaidan, kah."


"Bukan," jawab Layla malu. Zaidan sudah bisa menebak siapa yng memberinya. Senyum-senyum sendiri. Dia jadi teringat akan lamaran Aris pada adiknya itu.


"Adik kakak. Hari ini cantik sekali, mau kemana?"


"Mau ngantar undangan, Kak."


"Dengan?"


"Kak Aris."


"Sayang, bisa kamu ajak semua untuk keluar sebentar. Aku ingin ngomong sama Layla dan mami."Zaidan berbisik di telinga Dinda.


"Shaffa, tak inginkah kamu menunjukkan sesuatu pada kakakmu?"


Shaffa tertawa, lalu mendorong kursi roda Mayasa ke luar kamar. Yang di iringi oleh Dinda dan Anya.


"Kak Mayasa, aku benar-benar terkejut ... kakak benar-benar persis kak Layla. Seluruhnya. Bahkan aku tak bisa membedakan kalau saja, kakak tidak di kursi roda."

__ADS_1


Ups .... kenapa mulut ini lancang sekali. Mayasa hanya tersenyum menatapnya.


"Nggak apa-apa, Dik."


__ADS_2