
Lama mereka berdua termenung. Terbuai akan bayangan 30 tahun silam. Yang menyesakkan dan menekan rasa di dada.
"Kak Ana tahu dari mana tentang Ryan ..."
"Aku tak begitu tahu hubunganmu dengan Ryan. Hanya dalam tidurmu, kamu sering memanggil-manggil namanya."
"Tidak, kakak bohong."
Ana memalingkan muka, ingin dia katakan tabir diri Zaidan. Tapi apakah Haydi bisa menerimanya. Tapi tak mungkin selamanya dia sembunyikan kenyataan ini.
"Kak Ana. Apa Zaidan itu putraku?"
Hendiana diam membisu. Tak mau dia menatap adiknya.
"Jawab, Kak."
"Mengapa kau tanyakan itu. Bukankah dia telah engkau buang begitu saja, saat dia membutuhkanmu."
"Kak Ana." entah Haydi mendapatkan tenaga dari mana sehingga dia bisa menghamburkan dirinya ke arah Hendiana, yang tengah berdiri mematung di dekat pintu, membelakanginya.
"Kak Ana tahu itu ..."
Hendiana masih diam. Butir-butir mutiara jatuh di ujung matanya. Tuk ungkapkan rasa yang lama dia pendam dalam kemarahan yang menuntut kesabaran.
"Ya, " jawab Ana singkat."Sayangnya aku tak kuasa mencegahmu saat itu."
"Kak Ana ada di sana?"
"Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri."
"Lalu kak Ana menyembunyikannya?!"
"Tak ada cara lain."
"Tak tahukah, Kak Ana. Aku sangat menyesal. Tak berapa lama aku kembali lagi ke tempat itu. Tapi aku tak menemukannya. Rasanya seperti orang gila. Aku sangat menyesal."
"Saat aku menemui setelah 3 hari kejadian. Kamu dalam keadaan berantakan. Dan kamu terus menyebut nama Ryan."
"Ya aku menyesal telah memgenalnya."
"Saat itu aku dan mas Kamal sangat mengkhawatirkanmu. Apalagi ternyata kamu tak kuliah lagi. Bagaimana mungkin belum satu tahun aku meninggalkanmu, kamu sudàh jauh tergelincir."
"Maafkan aku, Kak Ana."
"Jadi benar, anak itu hasil perbuatanmu dengan Ryan."
"Kakak, aku sangat menyesal. Tolongkan katakan , apa benàr Zaidan itu anakku."
"Bukan, dia anak panti asuhan."
Haydi terduduk di kaki Ana, tak lagi mampu menyangga tubuhnya. Mukanya sudah semakin sembab oleh air mata.
__ADS_1
Tergambar jelas dalam ingatannya, bayang-bayang Zaidan kecil dan Layla kecil. Yang selalu bersama dalam kasih sayang keluarga kakaknya. Namun tak demikian bila Zaidan ke rumahnya. Dia akan memperlakukan dengan tidak baik. Dengan memberinya label anak panti asuhan. Dan sangat merendahkannya.
"Sebegitu marahkah kak Ana padaku?"
"Sangat ... sangat amat Haydi. Kamu seakan mengolok-olok keputusan kami untuk kebaikan Zaidan dan keluarga kita. Terutama dirimu.
Tahukah dirimu, aku dan mas Kamal sungguh sangat sulit memutuskan itu. Inginku kami membawanya pulang. Tapi papa saat itu sedang sakit. Kami tak mau manambah beban pikirannya.
Dan belum tentu juga kamu bisa menerima anak itu bila berada di tengah-tengah keluarga kita.Hingga kami putuskan untuk menitipkan pada sahabat mas Kamal yang kebetulan punya panti asuhan. Hingga kami bisa mengambilnya bila keadaan benar-benar siap."
"Apakah Zaidan tahu kalau aku ibu kandungnya."
"Aku tak ingin memberi tahunya. Tak ingin menambah hatinya terluka. Terlebih melihat bagaimana kamu memperlakukannya. Hatinya itu mudah tersentuh Haydi ..."
"Setelah apa yang kau lakukan, sanggupkah kamu mengatakan bahwa kamu ibunya?"
"Kakak ..." Derai mata Haydi semakin bebas mengalir. Dia bersimpuh, tertunduk duduk di hadapan Hendiana yang memandang langit-langit kamar dengan nanar.
Kebenaran yang selama ini tersimpan rapat, dapat dia ungkap mesti diiringi dengan keperihan yang menyayat.
"Heydi, inilah alasan mengapa aku
selalu mendekatkan Zaidan dengan keluarga kita, terutama dirimu.
Meski dirimu sangat membencinya. Aku tak tahu alasanmu apa."
"Màafkan aku, Kak."
"Namun aku sangat tidak menyetujui kedekatan Layla dan Zaidan sebagai seorang kekasih. Hanya sebagai kakak adik yang selalu menyayangi dan melindungi." kata Ana sambil menatap lembut Haydi yang bersimpuh di dekatnya.
"Maafkan kakak, Haydi. Kakak datang hanya membuatku semakin sakit."
Dibiarkan kepala Haydi bersandar di lengannya sesaat. Lalu berlahan diletakkan pada bantal yang tertata di kepala ranjang.
"Kak, apakah Zaidan tahu kalau aku ibunya."
Hendiana hanya tersenyum. Lalu menggelengkan kepala.
"Terus terang kakak juga nggak mau kehilangan Zaidan. Meski itu untuk adik kakak sendiri."
"Terima kasih, Kak Ana."
"Untuk ..."
"Untuk Zaidan."
"Sudahlah."
Setelah menyandarkan Haydi, Ana mengambil minuman yang ada di atas meja kecil. Disediakan oleh Shoffa untuk mereka nikmati.
Dia mengambil dua cangkir. Untuknya dan untuk Haydi.
__ADS_1
"Minumlah, jangan biarkan dirimu kacau seperti ini di hadapan putri-putrimu. Nanti mereka mengira aku telah memukulimu."
"Ya ... Kakak telah memukuli keangkuhanku dengan menghadirkan kebahagian dalam hatiku. Atas kerinduanku yang lama kusimpan agar dosa itu tak semakin nyata menyiksaku."
"Haaaalaaaach ... gayamu. Sok puitis. Bakatmu ini yang menurun sempurna di diri putramu."
"Ya, aku melihatnya. Dia juga suka musik. Seperti putri-putriku yang lain. Nggak ada miripnya sama kakak."
"Hemmm ... sabarnya dan tenangnya nurun aku dech. Eh bukan ... nurun kakeknya. Termasuk bakat bisnisnya. Coba kalau semua sifatnya fotocopy dari kamu, pusing kepala ini." Hendiana berucap sambil meletakkan ke dua cangkir yang sudah kosong ke tempatnya semula.
Tampak keduanya tersenyum dan tertawa kecil. Lalu Ana menuju ke kamar mandi untuk cuci muka. Agar kesedihan yang tadi sudah mencabik-cabik perasaanya menjadi tenang.
" Yuk Haydi cuci muka kamu. Sebelum semuanya tahu."
"Baik kak Ana."
Dengan berlahan Haydi berjalan menuju kamar mandi sambil berpegangan pada Hendiana agar tubuhnya tak jatuh.
Terlihat keduanya segar oleh air yang menyapu di wàjah-wajah sendu. Berganti tatapan bahagia , menghias pada pancaran bening dari mata. Tersembuhkan oleh kata maaf pada hati , meski tak terucap.
"Mami boleh aku masuk?" tanya Shoffa yang berdiri tengah pintu kamar.
"Ada apa Shaffa?"
"Tante makan sini dulu ya... sama kak Lisa juga."
"Bolehkah tante menemani mamimu makan di kamar ini?"
"Ya Shaffa, suruh mbak Asih untuk bantu kamu menyiapkannya untuk kami berdua. Kami mau makan di sini."
"Baik,Mami." Shaffa lalu pergi meninggalkan mereka setelah merapikan selimut bundanya.
"Kak Ana, aku kok penasaran dengan apa yang akan disampaikan Lisa tadi. Apakah Lisa tahu masalah ini?"
Hendiana tersenyum. Terlihat wajahnya memancarkan kebahagiaan.
"Kok Kakak senyum sich, apanya yang lucu."
"Kalau masalah ini, anak-anak kita tak ada yang tahu. Begitu juga Zaidan. Walaupun sejak kecil Zaidan memanggil putri-putrimu dengan sebutan adik."
"Bingung ..." Haydi garuk-garuk kepala meaki tidak gatal.
"Yang dimaksud Lisa itu, bahwa tidak mungkin Layla menikah dengan Zaidan karena ..."
"Kak Ana ...?!"
"Baik ... baik, Zaidan sudah menikah lagi dengan bunda pilihan Anya." jawab Hendiana bahagia.
"Hem .... kakak selalu tak pernah cerita kalau tentang Zaidan."
"Ini juga mendadak, niatnya lamaran saja dulu. Tak tahunya cucumu itu merengek nggak mau pulang kalau Dinda tak ikut pulàng bersama dirinya ke rumah Zaidan.
__ADS_1
Nach lo ....akhirnya menikahlah malam itu juga."
"Dinda?" sebut Haydi dengan terperanjat.