
"Dia lucu, Ammah."
Mayasa tersenyum menatap keponakannya.
"Kita rawat saja, Ammah."
"Kita kembalikan lagi ke sarang, Sayang. Kasihan kalau harus terpisah dengan keluarganya."
Tapi Anya tak menghiraukan perkataan Mayasa. Dia tetap asyik bermain dengan burung itu. Belum mau melepaskan.
"Hayo ... itu bundanya marah."
Kulihat ada seekor burung yang terbang menuju pohon beringin itu. Bisa dijadikan alasan Mayasa, agar Anya dengan suka rela mengembalikan burung kecil itu, ke sarangnya.
Anya ketakutan dan menyembunyikan burung itu. Dalam katupan kedua tangan. Menanti burung itu pergi terbang menjauhi dirinya.
Setelah burung itu pergi, dia melompat-lompat meraih sarang yang ada di atas dahan pohon itu. Hendak meletakkan burung kecil yang dia pegang.
"Anya kecil, Ammah. Tak bisa mengembalikan."
Mayasa mendekat.
"Mana burungnya, biar ammah yang mengembalikan."
Dia memperlihatkan burung yang masih tenang di telapak tangannya.
Ketika Mayasa mau mengambilnya. Dia menariknya kembali. Lalu dengan lembut membelai punggung burung kecil itu.
"Kapan-kapan cari aku ya ... kalau udah bisa terbang."
Hemmmmm ... meniru siapa nich anak.
Setelah puas membelainya dan berpamitan. Anya memberikannya pada Mayasa.
Mayasa menerima burung itu dengan tersenyum. Sejenak dia terpesona dengan burung yang telah berpindah ke tangannya.
Berlahan Mayasa mencoba berdiri, berpegang pada pohon beringin itu, dengan satu tangannya.
Akhirnya dia bisa meletakkan burung kecil itu ke dalam sarangnya. Telah menunggu 3 burung yang lain.
"Berkumpullah kalian, jangan bertengkar."
Mayasa tersenyum melihat burung-burung kecil, seperti tidur. namun sesekali mengeluarkan suaranya.
"Kamu ibunya ya ..." ujarnya.
Mayasa melihat pada seekor burung yang datang dan hinggap di lengannya.
Berlahan dia memindahkannya ke sarang. Yang kemudian mendekap ke 4 anaknya.
Lama berdiri membuat dirinya agak ngilu. dia hendak meraih kursi rodanya yang tak jauh dari dia berdiri. Tapi alangkah terkejut dirinya, ketika dilihat 2 orang berdiri di belakang kursi roda.
Dia segera meraih Anya. Menyembunyikan di belakangnya.
"Mau apa kalian?"
"Oh ... sekarang sang putri kegelapan sedang menjadi putri cindrelela ya ..."
"Jangan campuri kehidupanku lagi."
"Apa kamu tahu hukuman bagi penghianat?!"
"Kamu boleh bunuh aku. Tapi jangan ganggu keluargaku."
"Oh itu pilihanmu. Tapi sayang kami tak memberikan pilihan."
Mayasa melihat sekeliling. Sore ini ternyata tak banyak orang di taman ini.
Tàngannya berlahan merogoh ke dalam saku bajunya. Menyentuh benda pipih miliknya.
Untunglah dia sudah memperkiraan ini pasti akan terjadi. Hingga telpon Zaidan dia letakkan di layar utama. Agar mudah menghubunginya.
__ADS_1
Dan dia sudah sangat tahu, bagaimana cara menghubungi seseorang, tanpa diketahui orang yang ada di depannya.
Dan mencoba merekam semua kejadian itu dan mengirimkan pada Zaidan. Meski hanya pakai suara saja.
"Tolong ... tolong. Kakak!!"
"Sejak kapan putri kegelapan minta tolong."
"Oh ... karena kursi roda ini." Pria yang satunya menimpali. Kemudian menendang kursi roda hingga roboh.
Dengan menahan sakit yang mulai terasa, Mayasa memasang kuda-kuda.
"Wah ... kita mau diajak putri berlatih. Bagaimana friend."
"Boleh. Kita ikuti maunya."
Mayasa hanya bisa menunggu apa yang akan mereka lakukan. Sesekali melirik Anya yang bersembunyi di belakangnya.
"Kita mulai saja friend. Keburu malam."
"Bagaimana Putri, haruskah murid dulu yang mulai."
"Maaf murid berbuat lancang."
Dia melapas tendangan ke arah perut Mayasa. Namun dapat dapat ditangkisnya. Lalu satu pukulan lagi ke arah dadanya. Dapat ditangkis pula oleh Mayasa.
"Friend, kenapa kamu lama. Hadapi orang cacat gitu."
Keduanya menyerang Mayasa secara bersamaan. Membuat Mayasa agak kuwalahan. Dia hanya bisa bertahan.
Ketika tendangan salah satu kaki laki-laki itu mengenai kaki, sedangkan yang lainnya mengenai dadanya. Dia baru roboh.
"Ammah ...."
Dia duduk di sisi Mayasa yang terjatuh.
"Kalian jahat. Membuat ammah jatuh dan makin sakit." Teriak Anya.
"Anya. Dekat ammah. Sayang."
"Aoowww ... awas kau."
"Lari, Anya !!" teriak Mayasa. Ketika laki-laki yang lainnya hendak menangkapanya.
Tapi tangan laki-laki itu telah memegangnya dengan kuat. Anya meronta-ronta. Tanpa pikir panjang, lagi-lagi dia menggigit pria itu. Kali ini di bagian tangan. Hingga terlepas darinya.
Anya segera lari sekencang-kencangnya. Lalu bersembunyi di balik sebuah pohon.
""Hai, adik kecil jangan bersembunyi."
Ternyata aksi Anya membuat ke dua pria itu celikukan. Belum bisa menemukannya.
"Friend , Itu apa"
Dia menunjuk sebuah pohon. Terlihat seorang anak kecil yang terlihat berjalan mundur, sambil mengamati seseorang yang ingin dia hindari, dari balik pohon. Tak tahu kalau mereka sudah ada, tepat di belakangnya.
"Mau kemana kamu sekarang, hah?!"
Tampak raut wajah Anya mulai ketakutan.
"Ammah ... tolong Anya ...!"
Mayasa yang mendengar itu. Makin bingung. Ingin mengejarnya, tapi tak lagi punya daya.
Untuk berdiri pun sulit.
Dia hanya bisa melihat Anya meronta-ronta di atas bahu salah satu pria itu.
"Kak, cepatlah. Anya tertangkap."
"Ya, Mayasa. Kakak sudah hampir sampai."
__ADS_1
Kedua pria tersebut berlalu dari tempat itu, dengan mengendarai mobil, yang no. platnya sudah dihafal dengan cepat oleh Mayasa.
"Kak, mereka mengendarai mobil hitam no ..."
"Ya, aku melihatnya. Dia baru saja keluar dari taman."
"Kejar, Kak!"
"Kakak tinggal dulu, tunggu jemputan.Nggak apa-apa, kan?"
"Anya, Kak!"
Sambungan telepon pun terputus.
Ternyata menangkap seorang Anya repotnya luar biasa. Entah sudah berapa gigitan yang mendarat di tubuh mereka.
Sewaktu dipanggul 3 kali punggungnya terkena gigitan. Lalu telinganya. pipinya pun mendapat bagian. Untung ... hidungnya tidak. Dia berasa babak belur dihajar gigi Anya.
"Friend, kamu dah yang bawa anak ini. Aku yang menyetir."
"Tangani anak kecil aja ... nggak bisa." kata temannya, yang di panggil dengan sebutan Friend.
Segera dia berpindah ke belakang dengan membawa sapu tangan, dan memberikan kemudinya.
Maksud hati ingin membekap mulut Anya, dengan sapu tangan itu. Telah dilumuri dengan obat bius. Tapi ternyata ... Anya telah merebutnya dengan cepat. Dan balik membekap hidung pria itu dengan cepat.
Dapat dipastikan dia yang lemas, tak sadarkan diri di samping Anya.
"Ya ... kamu malah KO, Friend." Ujar temannya yang melihat dari spion.
Anya yang melihat mobil ayahnya ada di belakang. Membuka kaca mobil sampai bawah sekali. Menyembulkan kepala, berteriak dengan kencang,
"Ayah ... tolong Anya, Ayah !!!"
"Hai , anak kecil. Hati-hati."
"Hentikan mobil ini!!"
Menyadari ada mobil yang mengikutinya, dia memacu dengan lebih kencang. Beberapa kali akan menimbulkan tabrakan. Dan jalanan menjadi macet.
"Kak Aris, bukannya itu Anya. Dia diculik, Kak."
Tampak kekhawatiran di wajah Layla. Kebetulan Aris juga melihatnya
Tak berselang lama mobil Zaidan mengikutinya dengan kecepatan tinggi pula.
"Hubungi Fadly, kita mau mengejarnya juga."
Aris segera mengemudikan mobilnya, dengan kecepatan tinggi. Agar bisa mengikuti mobil Zaidan.
"Fadly, ada apa dengan mereka . Mengapa mereka meninggalkan kita."
"Itu ... Ma. Anya, putri pak Zaidan diculik. Mereka mengejarnya."
"Mama siap. Kita ikuti mereka."
"Ya, Nak. Kejar mereka. Itu calon cucu mama juga."
💎
"Hai anak kecil, duduklah dengan tenang."
Anya tetap saja berteriak minta tolong di sepanjang jalan. Dan berusaha membuka pintu mobil itu.
Tak berapa lama Anya bisa membukanya. Membuat laki-laki itu hilang kontrol, tak menyadari kalau menerobos, palang pintu rel kereta api.
Dan dia tersadar, ketika mobilnya berhenti mendadak, di tengah-tengah rel.
Zaidan benar-benar terhenyak, ketika penculik itu menerobos palang pintu rel kereta api. Sedangkan ada kereta api berjalan, berjarak kurang dari 150 meter dari mereka.
Untunglah sebelum masuk ke rel, pintu mobil sudah berhasil Anya buka.
__ADS_1
Begitu menghentikan mobilnya di depan palang pintu. Zaidan berlari dengan cepat menghampiri mobil itu. Meraih putrinya menjauh dari tempat itu.
Penjaga pintu rel juga berlari hendak menolong yang lainnya. Dengan keadaan kereta makin dekat.