SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 90 : Aksi Fadly


__ADS_3

Meski telah sampai di rumah. Zaidan tetap menghubungi pak Aslam. Untuk mengetahui perkembangan mobil yang telah mengikutinya. Siapanya dan apa maksudnya.


"Maaf, Pak. Kami dihadang."


"Dihadang?"


"Ya. 8 motor dari depan dan 2 mobil yang tadi mengikuti bapak."


"Segera serlok. Pak Tata biar mengusul."


Zaidan terlihat gusar sekali, meski dia sudah sampai di rumah.


"Ada apa, Zay? tanya Syarif yang hendak turun dari mobil.


"Mereka di hadang."


"Lalu?"


"Pak Tata sudah ke sana, membantu."


"Lihatlah, putrimu dan putraku. Mereka ketiduran."


"Ya ... begitulah. Kalau di suruh tenang, diam. Pasti kebablasan. Akhirnya tertidur." kata Zaidan tersenyum. Setetes kesejukan, pengusir gundah di hati, terpampang di depan penglihatannya.


Dengan memandang putrinya, Zaidan mencoba menghubungi Fadly. Yang dia tahu memiliki orang kepercayaan untuk masalah keamanan.


"Fadly kamu sekarang di mana?"


"Kenapa kakak ipar. Mayasa mencariku, kah?"


"Maunya ...Tenanglah dia sedang berdandan cantik."


"Lalu ... sepertinya kakak ipar takut kalau aku lari aja?"


"Fadly sudah, jangan bercanda. Tolong kirimkan orangmu ke lokasi ini. Aku takut orangku kenapa-napa.


"Baik, Kak. Aku akan pimpin sendiri."


"Jangan!"


"Aku pingin tahu, sebenarnya siapa yang selama ini mengancam keluarga kakak ipar."


"Jangan buat adikku patah hati gara-gara kamu nggak datang."


"Jangan khawatir, Kak. Aku pasti datang."


"Aku percaya ... Hati-hati." Zaidan menutup sambungan telponnya.


Sesaat dia memandang langit, seakan ada yang ingin dia sampaikan pada Pemilik Arsy yang ada di atas sana.


💎


Fadly yang sudah bersiap-siapakan berangakat, melepaskan jasnya kembali. Berganti kaos gelap dengan celana jins. Lalu merapikan semua bajunya pada hanger-hanger, dan membawanya keluar.


"Mama, aku titip bajuku ini. Mama langsung saja berangakat dengan pak Edi."

__ADS_1


"Tante dan paman akan menunggu di dekat rumah kak Zaidan."


"Kamu mau ke mana, Nak?"


"Ada urusan mendadak."


"Lalu, kalau Mayasa tanya. Mama harus bilang apa?"


"Aku nggak akan lama kok, Ma."


Fadly melangkah sambil matanya mencari-cari mbok lyem. Kebetulan dia baru saja kembali dari menata hantaran di bagasi mobil, bersama perawat mamanya.


"Mbok, tolong letakkan ini di mobil Fadli."


"Nggeh Den." Mbok Iyem menerima baju itu dengan penuh hormat.


"Assalamu'alaikum , Ma. Fadly pergi dulu."


"Wa'alaikum salam ..."


Setengah berlari Fadly menuju garasi. Mengeluarkan motor sportnya sambil memhubungi beberapa orang.


Tak lama kemudian dia sudah menghilang.


Sebenarnya dalam hati Fadly ada menyimpan amarah yang sangat. Tapi tak tahu harus ditujukan pada siapa. Yang dia tahu bahwa dia sangat marah pada orang yang telah menyakiti Mayasa hingga keadaannya seperti sekarang ini.


Apalagi saat dia menemukan Mayasa yang tergeletak lemah di taman seorang diri. Batinnya marah dan tersiksa.


Ingin dia bertanya pada Mayasa, tapi tak tega. Apalagi masalah demikian, Mayasa cenderung diam. Mungkin dia punya alasan yang tak mungkin diungkapkan padanya.


Tapi aku juga punya alasan untuk tahu meski dirimu tak memberi tahu, May.


Tak berselang lama, 4 buah motor sport mengikutinya dari belakang. Melaju dengan kecepatan yang sama-sama kencang. Melintasi jalanan sepi, jalan tembus yang baru saja dibangun dan sudah jadi. Hanya menunggu peresmiannya.


Dari balik helmnya, dia melihat orang yang sedang mencoba mempertahankan diri, dari serangan orang yang mengeroyoknya. Rupanya kalah jumlah sehingga mereka babak belur dibuatnya.


Sekilas dia melihat salah seorang mengeluarkan pistol dari balik pinggangnya.


Segera saja Fadly menambah kecepatan motornya, menghampiri orang tersebut. Dengan fokusnya pandangannya hanya pada tangan orang itu. Menabraknya, hingga pistol itu bisa lepas dan terlempar. Tanpa sedikitpun melukai orangnya.


Lalu menghentikan motornya.


Dia menghadapi orang itu dengan tangan kosong. Sedangkan teman-temannya membantu pak Aslam menghadapi si pengeroyok.


Melihat bantuan datang, secara berlahan mereka mundur ke kendaraan masing-masing , untuk melarikan diri.


Melihat gelagat itu Fadly segera menyerang dengan cepat. Dan melumpuhkan orang yang menjadi lawannya. Karena dia penasaran, siapa di balik semua ini.


"Siapa kalian, hah?!"


Pria itu diam tak mau bicara. Salah seorang yang melihat temannya dalam tekanan mengeluarkan pistolnya. Hendak membidikkkannya pada Fadly.


Untunglah pak Aslam melihatnya. Dia segera menghampiri orang tersebut.


"Awas pak Fadly." teriaknya memperingatkan.

__ADS_1


Secara reflek dia berbalik. Hingga peluru itu meleset. Tidak mengenainya. Justru mengenai pundak temannya sendiri. Membuatnya terjatuh. Terlihat darah mulai mengalir, membasahi baju bagian belakang pria itu.


Sementara pria itu tertegun atas tembakan yang salah alamat. Pak Aslam tak membuang kesempatan itu. Melumpuhkan orang tersebut dan merebut pistol dari tangannya.


Mereka sekarang merasa kalah setelah bantuan datang. Maka dia segera menarik tubuh temannya dengan keras, membawanya ke dalam mobil mereka. Lalu melesat pergi. Yang diikuti teman-temannya yang lain.


Setelah mereka semua pergi. Pak Aslam mendekati Fadly.


"Terima kasih, Pak. Bapak datang tepat waktu. Kami tak tahu nasib kami seandainya bapak tak datang menolong. Mereka terlalu banyak dan kuat."


"Ya, beberapa orang juga bersenjata."


"Iya. Ini satu dan itu yang di pegang pak Tata."


"Bapak tahu siapa mereka?"


Pak Aslam mengelengkan kepala.


"Cuma sepertinya sama dengan orang yang menculik nyonya Zaidan dan Anya. Termasuk juga orang yang melukai nona Mayasa."


"Seandainya hari ini bukan hari pertunanganku. Akan kukejar mereka sampai dapat." kata Fadly sambil mengibas-ngibaskan lengannya.


"Selamat, Bro. Akhirnya kau temukan juga pujaan hatimu."kata seorang teman sambil menepuk punggungnya.


"Aku tinggal dulu." Fadly berpamitan.


"Ya, pergilah. Jangan khawatirkan kami."


Kemudian Fadly mengambil motor, meninggalkan pak Aslam dan teman-temannya. Melaju dengan kencang menuju rumah Zaidan.


💎


Berlahan Zaidan mengangkat tubuh Anya yang tertidur pulas ke dalam kamarnya. Demikian juga dengan Syarif yang mengangkat tubuh Arsyi dalam gendongannya, mengikuti Zaidan.


Melewati ruangan yang sudah tertata dengan sangat indah dari ruang tamu hinga ruang tengah.


Namun jalannya terhenti manakala sudah di dapan kamar Zaidan. Menunggu Zaidan ....


Setelah meletakkan Anya, dia meraih Arsyi dari gendongan Syarif. Menidurkan mereka berdua di kamarnya.


Sebenarnya Zaidan sulit mengijinkan orang lain masuk ke kamar pribadinya. Untunglah Syarif mengerti pribadi sahabatnya itu. Maka Syarif sabar menantinya keluar dari kamar itu.


"Sepertinya sudah isya',"


"Ya kita sholat dulu."


"Ya."


Berdua mereka melangkah ke musholla yang ada dalam rumah. Melakukan sholat isya berjamaah tanpa keluarga Zaidan.


Karena sepertinya mereka semua telah melakukannya, tanpa Zaidan. Disebabkan dia terlambat datang.


Tak lama setelah mereka selesai melakukan sholat, terdengar seseorang memberi salam.


Suara yang senantiasa dirindunya. Apalagi saat-saat seperti ini. Bagaimanapun persoalan-persoalan yang menderanya akhir-akhir ini, membuat jiwanya lelah.

__ADS_1


Namun suara yang baru melintas di telinganya, membuatnya mendapatkan setetes kesejukan. Zaidan segera menuju ke arah sumber suara itu


"Wa'alaikum salam ..."


__ADS_2