SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 17: Folder baru


__ADS_3

Aku benar-benar penasaran. Kubuka berlahan folder itu. Ada 3 sheet. Moga-moga bukan sesuatu yang bikin sedih. Harapanku demikian.


Sheet 1


Tak sangka isinya sebuah puisi.  Bikin kepalaku pusing. Sebab aku kurang mengerti soal puisi, apalagi mengartikannya. Tapi, coba kubaca dulu. Siapa tahu menarik.  Setidaknya bisa menghilangkan penasaran ini dari angan.


💎


Engkau datang dengan senyuman


Mengikis kisah lama terpendam dalam lara


Adakah ini sebuah bayangan


Yang berlalu tertiup masa,


Atau hanya sebuah


Harapan yang ada di angan


Dalam nafasku kuingin berbisik


Akan Anyaku


Akan namamu


Akan hadirmu


Menjadi sebuah kisah nyata


Biarlah angin membawa


Pergi dingin kabut dalam jiwa


Biarlah panas mentari membakar hasrat akan cinta


Biarlah bening embun nyatakan kasih sempurna


Aku menyerah dalam takdirku


Padamu yang bertamu di jiwaku


Kuungkap dengan rasa


Sentuhan kasihmu berharap terpaut  padaku


Ku hanya ingin meminta


Akan kasih dan kesucian cinta


PadaNya yang kuasa


Membolak-balikan hati dan rasa


Sedetik telah cukup untuk aku


Ungkapkan keberadaan akan hadirmu


Langkah mengarah pada rindu 


Rankaian kata ini hanya untukmu


Jangan engkau tertawa


Bisikan kalbu insan nestapa


Akan pelukan, belaikan sempurna


Harapan cinta dalam ridhoNya


Keberanian diri tercipta


Untuk sebuah jawaban


Yang amat kunantikan


💎


Tiunggg ... tiunggg ... tiunggggg ...Pusing kepala baby. Puisimu sungguh mempesona.  Sayang diriku terlalu sulit untuk mengerti akan maksudnya. Tapi aku bisa merasakan kedalaman isi yang terkandung di dalam puisi tersebut. Sangat dalam menyentuh kalbuku. Dan diakhir kalimat seperti engkau meminta jawaban, dari keinginan terpendammu yang selama ini tersimpan rapat di dalam dada.


Sebenarnya puisi ini untuk siapa, untukku kah?


Atau untuk seseorang yang dia simpan, namun tak bisa mengatakan padanya. Akhirnya dia tulis di sini,  agar aku mengetahui sebagai seorang sahabat yang ingin dimengerti kegalauan hatinya.


Ah ... kok aku jadi repot memikirkannya.

__ADS_1


Biarlah puisi untuk puisi itu sendiri. Dengan segala yang tersembunyi di baliknya. Sebagai ungkapan dari penulisnya. Kunikmati sebagai suatu karya yang indah dan menyentuh amat dalam kalbuku. Sebelum mendapat penjelasan dari penulisnya, lebih baik kusimpan dan kubiarkan dulu. Salah arti apalagi maksud, bisa berabe nanti ....


Sheet 2.


Berisi foto-fotoku,  baik dikala sendiri maupun saat bermain bersama Anya putrimu. Kapan ya, kamu ambil foto ini?


Mungkin ini adalah foto yang engkau ambil secara sembunyi-sembunyi, saat kita ada taman waktu itu. Terserahlah .....


Yang bikin agak gimana gitu ... saat membaca judul dari foto-foto itu.


       'Kutunggu Bunda Terkasih


        Untuk Senantiasa Bersama'


Memandang foto-foto diriku, narsis dalam diriku tumbuh. Dan membuat diriku tersenyum sendiri. Zaidan pintar dalam mengambil posisi foto sehingga kelihatan lebih mempesona. Ya eialaaah.....😝


Tapi fokusku tertuju pada mata putrinya, yang bernama Hayyana Mardliyati Fin Nufus. Dipanggil dengan nama singkat 'Anya'.


Sorot matanya seakan menyimpan duka dan luka yang mendalam. Ya ... aku mengerti.... Sejak kecil harus mengalami peristiwa tragis dan juga sadis di depan matanya.


Tak terbayang bila besar nanti. Moga bisa segera dapat penyembuhan yang sempurna, atas trauma yang dideritanya.


Dan bisa menjadi pribadai yang kokoh dan kuat. Serta mampu mengikhlaskan apa yang terjadi.


Hayyana Mardliyati Fin Nufus nama yang amat indah dan bermakna. Kurang lebih artinya adalah:


Hidup kami senantiasa dipenuhi dengan keridhoan atau keikhlasan.


Sheet 3


Hanya berupa lembar kosong dengan sebuah kalimat. Mungkin ini sebuah judul.


'Lembar ini kusiapkan agar kita bisa menuliskannya bersama'


_______


Sungguh aku hanya bisa tersenyum dengan kata-kata yang terangkai menjadi kalimat mempesona. Membuat anganku terbang melayang. Hendak menyusuri setiap celah rasa yang tak terungkap lewat kata yang tertulis di dalamnya.


Ternyata Zaidan,  seorang pengusaha yang romantis juga. Pandai menulis puisi. Dan mungkin juga pandai merayu wanita. Jangan-jangan aku terjebak pula dalam rayuanya. Naudzubillah....


Tak dapat kupungkiri, saat membaca tulisannya, ada getar-getar yang terasa di jiwaku. Membuat jantungku berpacu dalam alunan kerinduan. Apalagi bila terbayang kata-kata pinangan yang diungkap saat di pantai, dari bibir Zaidan. Benarkah itu ungkapan tulus dari hati yang paling dalam atau hanya sekedar ....?


Jangan syu'udhon ... jaga hati.


Kuterimakah?


Atau mesti kutolak?


Karena dia duda?


Atau kuterima karena Anya?


Aku benar-benar masih ragu.


Tapi entah kenapa ... telah berani memberi sinyal penerimaan padanya.


Tuhan tolong bimbing diriku....


Untuk tentukan langkah ini....


Agar tak tergelincir dari jalanmu yang Engkau ridhoi.


Tanpa terasa rasa kantukku yang tadi hilang, kini datang seiring anganku melayang. Kurebahkan kepala di atas bantal. Dan tidur di atas  kasur yang empuk, saat tarhim menjelang waktu dhuhur. Yang ditandai dengan tilawah al Qur'an yang merdu dari masjid di kompleks ini.


Alhamdulillah walau hanya 15 menit aku mengistirahatkan tubuh, cukup bagiku untuk mengembalikan tenaga dan juga kebugaran. Alhamdulillah ....


Sesaat kemudian, kumandang adzan dhuhur dari masjid kompleks terdengar. Ku beranjak dari tempat tidur, menuju kamar mandi, untuk mandi dan bersuci. Dan melaksanakan sholat, meski sendiri. Dan bersiap-siap menuju kampus.


Sambil mempersiapkan tas beserta isinya, kubuka hpku. Ternyata banyak kali chat yang masuk. Kucoba kubuka yang sekiranya penting terlebih dahulu.


Lha ini kok ada chat dari bos. Ada apa ya ....


Lagi online. Coba kubalas ....


[Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.]


[Sudah makan belum?] 


[Wa'alaikum salam wr wb]


[Masih kenyang]


[Ya ... sudah. Kirain belum.]


[Berarti aku harus makan sendiri nich?]

__ADS_1


[Lho ... Mas tadi juga sudah makan tho?]


[Itu sich bukan makan. Sarapan!]


[Oh ...]


[Besok kalau bikin untuk saya ditambah porsinya. Untuk 2 kali makan]


[Boleh ... Asal uangnya juga ditambah]


[Masak harus nambah!?]


[Harus!]


[Baiklah. Pakai kartu kredit]


Aduh, bagaimana ini. Jadi sulit mengakhiri chatting ini.


[Belum punya mesin geseknya]


[Nanti tak belikan]


Sombongnya keluar dech ....


[Sip ... terima kasih.]


[Sekarang kamu sedang apa?]


[Siap-siap ke kampus.]


[Sama siapa?]


Mulai dech. Pikiran cemburu Zaidan timbul.


[Hani dan Silvi]


[Oh ....]


[Kenapa?]


[Tak apa. Boleh kuantar?]


[Tak]


[Kenapa?]


[Bukan muhrim]


[Oh ya ... ya....]


[Sudah baca?]


[Apanya?]


[Itu ....]


[Itu apa?]


[ Sudah ... nanti malam boleh sambung lagi ??]


[😁]


[Kok]


[😆]


[💕]


[🌱]


[Maaf, Aku berangkat.]


[Ok]


[Assalamualaikum ...]


[Wa'alaikum salam ...]


Kututup hp dan kumasukkan ke dalam tas. Dan bersegera keluar. Terlihat Hani dan Silvi sedang menuntun motornya keluar dari halaman toko.


"Han ... Sil ..., ayo berangkat!"


Kami sama-sama menghidupkan motor. Kemudian menyusuri lorong-lorong gang perumahan dengan berlahan.


Sengaja kami melewati jalan perumahan atau kampung, untuk menuju kampus kami. Karena lebih tenang dan bisa melihat pemandangan yang asri sepanjang jalan. Dibanding dengan jalan raya utama yang bising dan tak jarang harus bermacet-macet ria. Yang akan menambah keruwetan pikiran. Sebelum mendapat pelajaran yang ruwet pula.

__ADS_1


__ADS_2