
Pukul 1 siang aku dan Dirga akan naik pesawat untuk melakukan perjalanan bulan madu yg sudah kita rencanakan seminggu yg lalu.
Dirga sudah menyiapkan segalanya, tapi karena kesibukan dirga di kantor membuat kita hanya bisa berada disana 2 hari, mengingat waktu liburku juga akan berakhir dalam 3 hari lagi.
" udah siap sa. " kata dirga dari balik pintu,
" udah, kita bisa berangkat sekarang. " kataku sambil menarik koperku keluar dari kamar, di luar sudah ada pak Amin supir baru yg di pekerjakan Dirga untuk kita. Dirga ingin saat dia tidak sempat mengantar jemput diriku ada supir yg melakukannya.
" sini non koper nya saya bawain. " kata pa Amin dengan sopan.
" makasih pak. " kataku setelah menyerahkan koper ku pada pa Amin
Dirga menggandeng tanganku dan kita menuruni anak tangga bersama.
Rio dan Roy sudah menunggu kita di luar rumah.
" udah mau berangkat mbak mas.!" kata Rio.
" iya, mas titip rumah ya sama kalian. " kata Dirga pada kedua adik iparnya itu.
" Jagain mbak sia baik baik ya mas. " kata Roy
" Tentu aja, kalian tidak perlu khawatir mas pasti jagain mbak kalian dengan baik. " jawab Dirga.
Roy memang jarang bersuara tapi kalau masalah diriku dia yg paling perhatian pada ku melebihi yg lainnya.
" mbak pergi sebentar ya sayang, baik baiklah di rumah, begitu nyampe mbak akan langsung menghubungi kalian. " pesanku kepada kedua adik ku itu.
__ADS_1
Selesai berpamitan pada semua orang aku dan Dirga langsung berangkat ke bandara di antar sama pa Amin.
Sampai di bandara Dirga berpesan pada pa Amin agar selalu mengantar Roy dan Rio kemana pun mereka ingin pergi.
" Ayo masuk sia, sebentar lagi pesawatnya akan segera berangkat. " ajak Dirga dengan merangkulku.
" Ga aku merasa sedikit gugup. " kataku padanya
" kenapa harus gugup. " tanya dirga.
" karena ini pertama kalinya aku naik pesawat."
" tidak perlu gugup ada aku disini, kamu bisa percaya sama aku, ok. "
Keahlian Dirga adalah sikapnya yg membuatku selalu merasa aman didekatnya bahkan sebelum kami menikah.
Awalnya aku merasa sangat gugup tapi Dirga terus menggenggam tanganku, hingga rasa gugup itu hilang seketika.
" wuah, rasa nya bener bener kayak mimpi ga aku bisa sampai ke tempat ini. " kata ku sambil meloncat loncat di atas kasur.
Aku berlari kasana kemari melihat pemandangan dari kaca kamar hotel, senyuman di wajahku bersinar seperti sinar mata hari.
Tiba tiba Dirga memelukku dari belakang sambil ***** leherku dia juga berbisik.
" kau menyukai nya. " tanya dirga tanpa menghentikan permainannya dengan leher ku.
" eemm, ini bener bener sangat cantik ga. "
__ADS_1
" tapi tak secantik dirimu sayang. "
Tak tunggu lama Dirga langsung mengangkatku dan meletakkanku di atas kasur, dia sudah berada di atas tubuhku menatapku dengan tatapan napsunya.
Saat Dirga mulai ****** bibirku dan ****** itu mulai turun ke leherku tangannya juga mulai melepas kancing bajuku, tiba tiba aku teringat belum mandi, aku mendorong dirga.
" Tunggu ga, aku pengen mandi dulu. "
" lupakan itu kita bisa melakukannya nanti aku sudah tak sanggup lagi untuk menuggu. "
Selesai mengatakan itu dirga langsung melanjutkan nya, dirga melepaskan bajuku satu persatu hingga tak tersisa, dia mulai bermain di seluruh lekuk tubuhku.
Puas bermain dengan bibirku kini mulai turun keleherku hingga meninggalkan bekas merah disana, saat dia mulai ****** di dadaku salah satu tangannya mulai ******* di bagian bawahku, hingga aku mulai terangsang dan mendesah, tak lama kemudian milikku pun sudah mulai keluar dan sudah sangat basah.
Desahan ku membuat miliknya sudah benar benar menegang, Dirga mulai melepaskan pakayannya hingga tak tersisa. sekarang miliknya sudah siap untuk menyerang, miliknya sudah di arahkan nya ke milikku, dan mulai melancarkan serangannya dengan dua kali dorongan langsung menerobos masuk.
Walau bukan pertama kalinya lagi, tapi masih terasa cukup sakit menurutku, hingga aku masih juga sedikit menjerit, Dirga bermain cukup kasar kali ini, terasa dorongannya begitu kuat dan cepat membuat ku berdesah sangan kencang, tubuh dirga mulai berkeringat.
" Ga, aaaah, sakit ga, aku udah gak tahan lagi. "
Melihatku yg sudah kesakitan, Dirga mulai mempercepat dorongannya, napas dan desahan nya sudah sangat tak beraturan, dengan beberapa hentakan yg kuat akhirnya cairannya pun tumpah, Dirga tumbang di atas tubuhku.
Napas kita sudah sangat ngos ngossan, dirga langsung yurun dari atas tubuhku dan berbaring di sampingku, dia memelukku dengan erat, dan mengecup keningku.
" terima kasih sayang." ketanya dengan suara pelan.
" makasih buat apa. !" tanyaku bingung.
__ADS_1
" karena sudah menjadi istriku dan sudah memberiku kebahagian ini. " kata Dirga hingga membuatku jadi tersupu malu.
" Tudurlah dulu, nanti kita baru mandi dan turun kebawah untuk makan malam." tambah Dirga sambil mengencangkan pelukannya.