
" Mbak Sia.... " pangil Rio sambil berhamvuran memelukku.
" Rio, pelan pelan, Sayang. " ujarku.
" Selamat ya mbak, akhirnya aku bisa segera jadi paman juga. " ucap Rio dengan semangat
" Bener Mbak, kita benar benar bahagia buat Mbak dan Mas Dirga juga, selamat karena udah jadi seorang ayah. " Tambah Roy.
Sepertinya semua orang sangat bahagia dengan kabar kehamilanku, di banding kedua orang itu, kedua orang tuaku yg lainnya lebih heboh lagi.
Bunda bahkan sudah mulai mengomeliku sejak pagi, tidak mengijinkanku ini dan itu, dan sudah menelponku belasan kali. Aku belum tau respon mertuaku karena sebelumnya hanya Dirga yg bicara denga mereka.
" Bi..." seru Dirga memanggil pelayan rumah tangga.
" Iya tuan " jawab bi Siti.
" Mulai hari ini tolong perhatikan asupan makanan non Sia dan jangan biarkan dia melakukan apa pun jika saya di kantor, bisa kan bi ?" minta Dirga pada bi Siti.
" Baik tuan. " jawab bi Siti.
Dirga menatapku tajam, lalu aku tersenyum.
" Baiklah, Sayang, aku akan menuruti semua kata katamu, oke. " Ucapku sambil mencubit pipinya
Ting tong.
Bunyi bel dari luar rumah.
" Biar Roy yg bukain aja mas, " Kata Roy, yg dengan cepat berjalan menuju pintu depan dan membukakannya.
" Tante.." seru Roy terdengar sampai ke ruang tamu.
__ADS_1
Saat Roy menyebut tante kita langsung tau itu pasti Mananya Dirga, mertua gue.
" Mbak Sia, ada di dalam kan, Nak Roy ?" tanya Mama pada Roy.
" Ada tante, masuk lah. " ucap Roy.
" Sia... " serunya sambil berjalan dengan langkah cepat menuju ruang tamu.
" Mama..." kataku dan Dirga kompak.
" Mama, sedang apa disini, dan kapan Mama berangkat dari Amerika, bukannya tadi malam Mams masih di sana. " tanya Dirga tanpa sela waktu.
" Mama tidak ingin bicara denganmu, Mama hanya ingin memeluk menantu tercinta Mama. " ucap Mertuaku yg lansung memelukku dan menyingkirkan putranya dari dekatku.
" Dengar, Sayang, Mama tidak tau cara menggambarka isi hati Mama sekarang, karena kamu sudah memberikan hadiah terindah buat Mama dan Papa. " ucap Mama sambil mengecup keningku.
" Buatku juga, Ma " Tambah Dirga.
" Marah, kenapa ?" tanya Dirga bingung.
" Kau tanya kenapa ? " bentak Mamanya sambil memukul pelan lengan putranya. " Kau bahkan tidak tau istrimu sedang hamil, dan membiarkannya sampai mengalami pendarahan, apa kau tidak takut terjadi sesuatu padanya. " celetuk Mamanya.
" Tapi Dirga..."
" Diamlah, Mama tidak ingin mendengar penjelasanmu, " Mama memotong kalimat yg ingin di katakan Dirga, " Jangan jangan semalam kau melakukannya dengan kasar pada istrimu sampai ia kelelahan dan mengalami hal itu. " ucap Mamanya tanpa perduli orang orang di sekitarnya memberi kita kesempatan untuk bicara.
" Mama... " seruku coba menghentikan kemarahannya.
" Sebentar Sayang. Apa kau tidak tau bahayanya tindakanmu itu. Di saat kehamilan muda seperti ini masih butuh banyak perhatian, jadi mulai malam ini kau tidak boleh tidur dengan istrimu. "
" Mama..." teriak Dirga. " Sia itu istriku Ma, bagaimana bisa Mama melarangku tidur bersamanya, Tidak aku tidak mau jauh jauh darinya. " kekeh Dirga yg tak mau kalah dengan sang ibu.
__ADS_1
" Apa, kau tidak mau, Lalu bagai mana jika kau bercinta lagi dengannya dan membuat bayimu dalam bahaya lagi. " ucap Mama terdengar semakin kesal.
' Waah ibu dan anak ini, tidak ku sangka sangat kekanakan seperti ini, ' batin Rio, ia dan Roy saling melirik.
' *Roy sebaiknya kita pergi dari sini, kalau tidak ingin ikutan stres. '
' lo bener, mending main game di kamar*. ' batin Roy, keduanya seakan saling berbagi pikiran.
" Mama, itu bukan karna hal itu, ini bukan salah Dirga. " sanggahnya.
" Bener, Ma..." tambahku.
" Trus maksud kamu salah istri kamu ? Salahmu karena tidak sadar kalau istrimu sedang hamil. " kekeh Mamanya.
" Ma, bayinya ada di dalam perut Sia, bahkan dia tak mebyadarinya Mama, lalu bagai mana aku bisa tau. "
" Itu karena kamu bukan suami yg peka dan perhatian, tidak seperti Papa kamu. " Sepertinya argumen Dirga tak mampu mengalahkan sang Mama.
" Ayolah, Sayang katakan sesuatu, jangan diam saja, apa kau mau tidak tidur bersamaku." kata Dirga terdengar sedikit memohon.
" Untuk malam ini biarkan aku tidur dengan Mama ya, Sayang. " ucapku coba melerai perdebatan keduanya.
Dirga terlihat kesal.
" Kamu denger istri kamu kan. Oke Sayang Mama akan ke kamar dulu. " pamit Mamanya.
" Apa yg kau lakukan Sia... bagai mana bisa..."
Aku memeluknya. " Hanya malam ini, aku akan menjelaskan segalanya pada Mama, agar seterusnya dia tidak akan melarang kita lagi untuk tidur bersama, oke Sayang. " bisikku. Lalu Dirga membalas pelukanku.
" Hanya malam ini, oke, kau tau aku tidak bisa jauh darimu kan ?" ucap Dirga sembari mencium keningku.
__ADS_1
Aku mengangguk pelan, " Aku juga, Sayang. "