
Tiga hari kemudian keluarga bi Ita akhirnya datang ke Jakarta, pak Amin menjemput mereka ke terminal bus dan membawa mereka kerumah kita.
" Halo pak, Saya Flesia, istri Dirga. " Aku menyapa suami bi Ita yg terlihat masih lumayan muda umuran 40 tahunan.
" Saya nyonya, pak Hadi. " jawab pak Hadi dengan sopan. Seraya menjabat tanganku.
" Bapak bisa panggil non Sia aja, nggak perlu nyebut nyonya pak "
" Ini non, kedua putri saya, Sopi, dan Sari. " bi Ita memperkenalkan kedua putrinya yg terlihat masih sangat muda dan juga cantik.
Keduanya menunduk sopan. Selesai berkenalan aku mempersilahkan mereka semua menuju kamar mereka, karena aku yakin mereka sangat lelah seharian di menempuh perjalanan kemari.
*******
Di kampus Roy dan Rio.
Waktunya menyerahkan tugas kelompok mereka, tugas mereka saat ini adalah mempersentasikan tugas mereka di depak kelas.
" Apa kau sudah gila...!" Pekik Lisa dengan suara tinggi.
" Kenapa kau selalu saja menyebutku gila dan berteriak padaku ?" Roy mulai kesal dengan sikap Lisa yg semakin hari sangat dingin padanya.
" Kau masih bertanya kenapa ! karena aku tidak menyukaimu, sejak hari pertama aku melihatmu sampai hari ini. "
" Apa aku pernah memintamu untuk menyukaiku ?" balas Roy dengan nada dingin pula.
Roy tak habis pikir kenapa Lisa begitu membencinya. Walau dia kira akhir-akgir ini hubungan keduanya sudah lumayan dekat.
" Bagimu, mubgkin nilai bagus tidaklah penting, tapi bagiku hal itu yg terpenting, dengan begitu aku bisa tetap bertahan di kampus ini dan menyelesaikan study ku." Lisa mulai merendahkan nada bicaranya.
__ADS_1
Lisa dapat masuk ke universitas elit tersebut dengan mengandalakan biasiswa, jadi hanya dengan mempertahankan nilainya baru dia bisa tetap kuliah tanpa harus memikirkan biaya kuliahnya.
" Jadi aku mohon sama kamu, setidaknya seriuslah sedikit." Lanjut Lisa, terdengar nada memohon dari kalinat yg ia utarakan.
Roy tak menggeming ucapan Lisa, ia malah beranjak meninggalkan Lisa yg terlihat masih sangat kesal, karena hasil nilai kelompok mereka sebelumnya kurang memuaskan.
Lisa terduduk dan mulai meneteskan air matanya, Roy berbalik dan melihat Lisa sedang menitup wajahnya dengan kedua tangannya. Ada rasa bersalah di hatinya karena telah membuat wanita itu menangis.
Di kantin.
Rio menghampiri Roy yg sedang makan bersama kedua temannya.
" Roy.... ! " panggil Rio yg sudah berada di sanpingnya.
" Ada apa ?" tanya Roy sembaru menyantap makanannya.
" oke. " jawab Roy singkat.
" Emang bi Ita itu siapa bro ?" tanya Ciko setelah Rio meninggalkan mereka.
" Pengurus rumah Mbak gue. " Jawab Roy.
" Hemm, jadi kok pake ada acara makan bersama segala sih, sama pelayan doang. " celetuk Ciko yg tak mengerti apa-apa.
Pletak.
"Aaa...." rintih Ciko yg mendapat jitakan dari Tobi. " Lo udah gila ya ! kenapa lo jitak kepala gue dodol !" maki Ciko.
" Kapan sih lo bisa berhenti kepo. " celetuk Tobi.
__ADS_1
" Mending kepo dari pada kebo kayak lo. " balas Ciko, yg kesal dengan sikap sok tidak perduli sahat satunya itu.
" Bro...! menurut kalian, kenapa cewek suka banget marah-marah cuma karena hal sepele nggak jelas ?" pertanyaannya di tujukan kepada kedua sahabatnya itu.
" Lagi BMS mungkin. " ucap Ciko Tiba-tiba.
Roy dan Tobi menatapnya bersamaan, keduanya sangat jelas tak mengerti dengan ucapan teman satunya itu.
" Apa ? Wuaah, kalian bener-bener nggak ngerti apa yg gue maksud ? " Ciko menatap tajam kedua orang itu bergantian. " Ayolah, lo pasti sering denger di internet atau televisi, BMS itu ungkapan buat cewek yg lagi datang bulan hai bro..." Jelas Ciko.
" Hemm. " jawab keduanya kompak.
" Lo berdua hidup di planet mana sih, heran gue. " Ciko terdengar sedang mengejek kedua sahabatnya itu.
" Yg heran itu seharusnya kita, lo yg jomblo abadi, tau dari mana soal cewek yg lagi begituan. " Sindir Tobi.
" Hahaha... lo juga sama kali. Yah hal gituan bisa kita pelajari dengan mudah bro... sekarang kan jaman New, apa-apa serba modern. " Ciko terdengar meninggikan dirinya karena merasa menang dari kedua sahabatnya.
Roy terlihat sedang bengong, sepertinya penjelasan Ciko menurutnya bisa jadi benar, mungkin karena itu, emosi Lisa selalu saja meledak-ledak.
' Ngak mungkin ! dia selalu marah setiap kali ketemu gue, masak datang bulan setiap hari sih ?'
Roy melempar kerupuk ke wajah Ciko.
" Aaa... lo udah gila ya? " pekik Ciko.
" Lo yg udah ngak waras, mana ada orang yg datang bulan setiap hari. " ucap Roy dengan wajah datarnya.
Ciko dan Tobi malah melongo bingung, mereka tidak mengrti apa yg di katakan Roy. Dan wanita mana yg ia maksud sebenarnya.
__ADS_1