Serpihan Luka

Serpihan Luka
C2. Harapan semu


__ADS_3

FLESIA POV


Saat aku mendengar mobil Dirga pulang dari kantor aku bergegas berlari membukakan pintu, dengan tangan yang mulai bergetar aku menarik kenop pintu, begitu pintu terbuka aku tidak berani mengangkat wajahku. Tidak pernah aku setakut ini, bagai mana jika Dirga memarahiku lagi? Dan membuatku menangis kembali dengan kata kata kasarnya seperti biasqnya, sedangkan saat ini Roy sedang ada disini.


" Ada apa, Sayang? "


Deg


Suara Dirga membuat jantungku seakan hampir berhenti berdetak.


" Kenapa kau diam saja, Sia? Apa kau semarah itu padaku, sampai kau tidak menyambutku seperti biasanya?"


" Dirga aku..."


Dirga tiba tiba memelukku sehingga membuat jantungku berdetak sangat cepat, mataku membulat, air mataku mengalir tanpa seizin dariku. Tersirat di dalam pikiranku.


Tuhan, apakah ini nyata? Benarkah dia adalah suamiku, yang sedang memelukku ini adalah suamiku Dirga?


Namun saat aku hampir mengangkat kedua tanganku untuk membalas pelukanya, kalimat yang selanjutnya terlontar dari mulutnya membuatku kembali tersadar bahwa yang terjadi saat ini adalah sebuah permainan belaka.


" Apa kau ingin adikmu itu tau segalanya, hah? Haruskah ku katakan padanya betapa hina nya dirimu." Bisik Dirga. Membuat hatiku kembali teriris, karena harapan sesaatku kembali pupus.


" Kau lihar itu, Roy!" ucap Dirga seraya melepeskan pelukannya dan menyeka air mataku dengan lembut. Ya, perlakuannya ini hanya sebuah akting di depan Roy saja.


" Dia masih saja tidak beruabah bahkan sudah bertahun tahun menjadi istriku, Sia ku ini tidak memahami ku sama sekali. Akhir akhir ini aku sangat sibuk dikantor dan terpaksa harus pulang terlambat, dan itu membuat mba mu jadi sangat kesal dan marah."


Aku hanya bisa menunjukkan senyum getir pada Roy, karena tidak ingin dia menyadari sesuatu tentang hubungan kita saat ini.


" Ya ampun mba, mas Dirga itu kerja buat mba dan Kamila. Seharusnya mba ngertiin dong bukannya malah ngambek gak jelas gitu." Omel Roy, terdengar seperti ledekan.


" Oh ya Roy, bagai mana kabarmu?"


" Baik mas."


" K-Kau sudah makan, Ga? mau ku siapkan makan malam?"

__ADS_1


" Tidak usah."


Roy menatap heran pada Dirga.


" Tadi aku sudah makan di kantor bersama klien, Sayang. Jadi tidak usah menyiapkan makan malam untukku." ucap Dirga sengan senyum tipis.


" Kalau begitu aku siapkan air hangat saja untukmu."


" Ti..."


" Ya ampun mba, kenapa harus pake di tanya segala sih," tangkas Roy, " Kayak jadi istri mas baru beberapa hari aja. Mba terlihat aneh hari ini, lagi pula di rumah ini kan tersedia air hangat yang tidak perlu di masak dulu untuk mandi." seru Roy.


Aku melirik ke arah Dirga, dan sudah pasti aku mendapatkan tatapan tajam darinya. Aku hampir masuk ke kamarku namun Dirga menghentikan langkahku.


" Kau mau kemana, Sayang?"


" Iya...!" Aku tersadar, kalau aku masuk ke kamar tamu maka Roy pasti akan curiga, " Aku hanya ingin menyiapkan kamar ini untuk Lisa." Jawabku panik. Yang langsung masuk kedalam kamar.


" Lisa juga ada disini?" tanya Dirga.


" Lalu dimana dia sekarang?"


" Ada di kamar Kamila mas, menemaninya tidur." jelas Roy.


Setelah merapikan kamar aku kelur lalu berjalan menuju kamar Kamila. Ku lihat Lisa sudah tertidur lelap di samping Kamila. Aku coba membangunkannya namun ia kekeh ingin tidur bersama Kamila dan tidak ingin pindah ke kamar lain. Tadinya aku berharap bisa tidur bersama Kamila dengan kesempatan ini, tapi aku juga tidak bisa memaksa Lisa, dengan terpaksa aku keluar dari kamar putriku itu. Namun saat aku keluar Dirga sudah berdiri di depan kamar nya, yang dulu merupakan kamar kita bersua sebelum ia mengusirku daro sana.


Aku mendekat dengan menundukkan kepalaku.


" Tentang kehadirang Roy dan Lisa, Ga... Sebenarnya aku..."


" Aku tidak perduli." Tangkas Dirga memotong ucapanku. Aku kembali menunduk enggan menatap sorot matanya yang pasti sangat dingin seperti biasa. " Aku tidak perduli apa yang kau lakukan dengan adikmu itu, tapi sampai aku menceraikanmu, jangan membuat hal yang bisa kau sesali nantinya." Lanjutnya kali kali mengancamku.


" Maaf, Ga."


Saat aku ingin melangkah menuju kamarku, Dirga menghentikan ku lagi.

__ADS_1


" Mau kemana kamu? Masuk."


Aku mengangkat wajahku menatap nya bingung, Dirga baru saja memintaku untuk masuk kedalam kamarnya yang sebelumnya sudah dengan keras ia tegaskan bahwa diriku tidak di ijinkan lagi untuk menginjakkan kaki ku kedalam sana.


" K-Kau, ingin aku masuk, tapi kau bilang aku.."


" Iya, aku sangat muak padamu dan jika bukan karena Roy sedang ada disini aku tidak akan sudi melihatmu masuk kedalam kamarku ini lagi."


Aku menggigit bibir bawahku menahan tangisku, ucapannya bahkan lebih tajam dari sembilu. Tapi aku tidak bisa melawannya, bahkan sepatah kata pun tidak bisa terucap dari mulutku.


" Masuklah, mau sampai kapan kau membuat drama sok sedihmu itu. Air matamu itu tidak akan membuatku merasa tersentuh, Flesia."


Diam hanya diam yang bisa kulakukan walau ia terus menghujaniku dengan kata kata kasarnya. Dengan harapan semu, aku terus meyakinkan diriku bahwa suatu hari nanti cinta dari Dirgaku akan tumbuh kembali, dia sudah pernah jatuh cinta padaku jadi tidak ada yang mustahil jika hal itu bisa terulang kembali jika aku terus bersabar berada di sampingnya. Entahlah apa yang akan terjadi saat bayiku lahir nanti, apa kah dia akan benar benar menceraikanku.


Malam ini aku terpaksa tidur di kamar yang sama dengannya, walau begitu akan lebih baik aku tidur di kamar tamu, setidaknya aku masih bisa tidur di atas kasur, namun malam ini aku harus tidur di lantai, dengan alas selimut tipis dan di balut selimut tipis pula.


 


Paginya aku bagun dengan badan yang terasa pegal karena tidur di lantai, aku bahkan semalaman merasa sakit perut karena masuk angin.


Aku kembali ke kamar tamu untuk mandi lalu menyiapkan sarapan, dan tak lama kemudian Lisa turun bersama Kamila.


" Mama..." Kamila berlari kearahku, aku langsung berjongkok seraya membuka kedua tanganku untuk memeluknya.


" Pagi, Sayang. Wuah anak mama, sudah bangun ternyata." Ucapku seraya menghujaninya dengan ciumam.


" Pagi, Mba!" sapa Lisa.


" Pagi, Lis."


" Mba, lagi masak apa? " Tanya Lisa, " Aku bantuin ya." usulnya.


" Boleh, Lis." Lisa mulai sibuk di meja dapur.


Setelah sarapan siap aku dan Lisa mulai menatanya di atas meja makan. Lalu tak lama kemudian Roy dan Dirga pun datang dan duduk di kursi masing masing. Sejak tadi mereka memang sedang asik mengobrol di ruang tamu. Dirga sudah terlihat rapi, dengan setelan kantornya.

__ADS_1


Saat sarapan Kamila terus saja di ajak bercanda dengan Roy dan Lisa. Aku merasa sangat bahagia karena bisa menyuapi putriku lagi setelah sekian lama. Selasai sarapan Roy dan Lisa pun pulang ke apartemennya dan Dirga pergi bekerja. Lalu aku pun bersiap siap untuk bekerja setelah Sri datang untuk menjaga Kamila.


__ADS_2