Serpihan Luka

Serpihan Luka
Chapter53. Bawaan ibu hamil


__ADS_3

" Emang apa yg bisa lo lakuin ?" tanya Lisa.


" Apa pun, asal lo nggak keluar dari kampus. " jawab Roy.


Lisa tidak mengerti dengan perubahan sikap Roy padanya, yg sebelumnya sangat jutek dan dingin tapi sekarang berubah jadi sangat perhatian dan terdengar tulus.


" Tapi kenapa ?" tanya Lisa.


" Apa ?" Roy sedikit bingung dengan pertanyaan Lisa.


" Kenapa lo mau bantuin gue ? lagian kita nggak sedeket itu kan ?" ucap Lisa, dengan tatapan penasaran.


Sejenak Roy berpikir harus memberi jawaban seperti apa pada Lisa.


" Karna gue... gue, su... " Roy hampir saja mengatakan kata suka, tapi lidahnya seperti kelut tak mampu terucap, ingatannya mulai melayang mengingat kembali penolakan Lisa pada senior sebelumnya.


" Su, apa..." tanya Lisa lagi yg masih menunggu jawaban Roy yg mrnghentikan kalimatnya tiba-tiba.


" Karna gue, gue yg udah buat lo kayak gini kan ? kalau aja kita bisa dapat nilai bagus di tugas sebelumnya, lo nggak mungkin dapat masalah kek gini. " dalih Roy mengalihkan penjelasan yg lainnya.


Lisa menggeleng. " Kalau bisa jujur, aku juga udah lama pengen nyerah, kalau bukan karena memikirkan kehidupan ku dan keluargaku, aku sudah tidak ingin melakukan ini, tapi aku..." mata Lisa mulai berkaca-kaca.


" Huh..." Roy membaringkan tubuhnya di atas rerumputan. " Lo sama persis kayak dia. " ucap Roy.


Lisa menatap Roy bingung. " Dia ? Siapa ?" tanya Lisa.


" Mbak gue. " Jawab Roy dengan memperlihatkan senyum tipis di wajahnya. " Walau aku tidak bersamanya di saat-saat ia berjuang demi keluarganya, tapi saat aku melihatmu, aki mulai sadar penderitaannya selama ini. " Lanjut Roy.


" Kamu punya seorang kakak ?" tanya Lisa.


" Hemm, dia wanita yg paling cantik dan juga terbaik di dunia, sejak tamat SMA ia pergi ke Jakarta, untuk meneruskan studynya dan juga beketja untuk membiayai hidupnya dan keluarga kita di kampung." Jelas Roy panjang lebar.

__ADS_1


" Lalu apa yg terjadi padanya sekarang ? kakak kamu, apa sekarang dia hidup bahagia ?" Lisa menatap Roy dengan tatapan penuh harap menuggu jawabannya.


" Dia sangat bahagia, karena mendapatkan pria yg luar biasa baik dan juga mencintainya. "


Lisa menghembuskan napas lega. " Syukurlah. " ucap Lisa dengan senyuman tipis.


" Jadi tetap lah bertahan, mungkin dengan begitu seatu hari akan ada masa indah yg menantimu. "


Degg.


Untuk pertama kalinya jantung Lisa berdetak tak seperti biasanya hanya karena mendengar kalimat yg di ucapkan laki-laki yg ada di sampingnya saat ini.


*******


" Ga...!" panggilku di dalam tidurku.


" Hemm. " jawab Dirga yg masih belum membuka matanya walau ia sudah terjaga.


Matanya terbelalak, ia mendapatiku sedang meringis namun masih dalam keadaan teetidur.


' Apa dia sedang mimpi. ' batin Dirga.


" Sia.... Sayang...!" panggilnya beeusaha membangunkanku.


Karena isakanku semakin menjadi bahkan aku sampai benar-benar menangis membuat Dirga jadi panik.


" Sayang.... ayo bangun, apa kamu mimpi buruk, Sia, bangun Sayang..."


" Ga...Hikk...hikk, Sayang, aku, aku..." kataku terbata-bata di sela isak tangisku.


" Tenang Sayang, itu cuma mimpi, oke..." ucap Dirga seraya menarikku dalam pelukkannya.

__ADS_1


" Sayang, aku baru aja mimpi, kamu meluk wanita lain di depanku. " Ucapku semakin mengencangkan tangisanku.


Dirga mengerutkan keningnya lalu tersenyum tipis. ' Apa ini akibat sedang hamil, jadi mimpunya jadi ngaur gini ?' Batin Dirga, seraya menghapus air mataku.


" Lalu... apa yg terjadi setelah itu ?" tanya Dirga yg tetap masih tersenyum.


" Lalu kau membalas pelukan wanita itu, bahkan kamu bilang aku udah jelek, karena perutku buncit nggak seksi lagi, huaaaa...." lanjutku menjelaskan isi dari mimpi anehku sambil memperjelas lagi tangisanku.


" Trus kamu diem aja, nggak ngejambak cewek itu, waah seharusnya kamu juga bisa menendangku Sayang, kan cuma dalam mimpi, jadi Siaku adalah Ratunya disana. " Goda Dirga dengan senyum mengejeknya.


" Ga....!"


" Awww.... oke, oke, Maaf Sayang. " Rintih Dirga karena cubitanku di sisi pinggang nya.


" Apa, menurutmu, aku terlihat jelek sekarang, Ga ?" tanyaku yg masih merasa khawatir akibat mimpi aneh yg ku alami barusan.


" Emmm, lumayan sih ?" Goda Dirga, " Awww, sakit, Sayang. " lagi-lagi aku mencubitnya dan aku mulai kesal dan geram, aku membalikkan badanku membelakanginya.


' Yeeh, dia ngambek, apa bawaan hamil ya, jadi mudah sensitif gini, bahkan cuma karna mimpi aja. ' batin Dirga.


Dirga memelukku, " Dengar, Sia, bagiku tidak ada yg secantik dirimu di dunia ini, bahkan walau perutmu buncit dan semakin gemuk...Awww, kok di cubit lagi sih. ?"


" Tuh kan, kamu aja ngakuin kalau aku udah buncit dan gemuk, huaaaa.... "


" Sayang, Sia, liat aku dulu, dengar.... apa ada ibu hamil di dunia ini yg tidak buncit perutnya dan jadi gemuk ?" Tanya Dirga dengan memengang wajahku dengan kedua tangannya.


Aku menggeleng, " Itu kamu tau, jadi berhenti memikirkan hal-hal aneh, karna tidak ada satu wanita pun yg bisa menggantikan posisimu di hatiku, akan ku pastikan itu, Sayang. "


Cup.


Sebuah kecupan mengahiri percakapan berlangsung menjadi sentuhan yg menghangatkan tubuh keduanya.

__ADS_1


__ADS_2