
" Maaf, Kak, Saya nggak bisa. " jawab Lisa
" Apa, tapi kenapa? " tanya senior kembali.
" Saya belum mau pacaran. " Sebelum senior mengomentari, Lisa sudah berlari meninggalkan senior tersebut.
Roy tak mengerti kenapa Lisa menolak senior tersebut. Saat ia ingin melangkahkan kakinya tiba-tiba terdengar senior itu mengumpat.
" Cewek sialan, beraninya dia menolakku." ucapnya dengan kasar. Roy yg mendengafnya merasa sangat geram ia mengepalkan tangannya.
" Belum mau pacaran ? Alasan apa itu ? jika dia masih anak SMP yg bersemangat belajar dan ingin mengejar cita-cita, wajar saja. Dasar cewek sok suci. " Tambah laki-laki itu yg tidak terima penolakan Lisa.
Roy ingin sekali mejinju wajah songong senior itu, tapi dia menahan diri, karena selama ini dia tidak pernah di ajarkan untuk bersikap kasar pada seseorang apa lagi menggunakan kekerasan.
Roy kembali ke kelas, dengan semangat kedua sahabatnya sudah merangkulnya seakan sedang menuggu jawaban yg belum terselesaikan sebelumnya.
" Berhentilah berpura-pura Roy, cepat jawab gue, kenapa Lisa bisa semarah itu tadi ?" tanya Ciko antusias.
Roy menatap teman-temannya bergantian. Membuat keduanya sangat penasaran.
"Hemm. Lisa ? Siapa dia ?" tanya Roy dengan wajah tak berdosa.
Brakk.
Ciko memukul meja, karena geram. Sedangkan Tobi malah tertawa terbahak-bahak.
" Kau bercanda ! kau tidak tau siapa namanya ?" tanya Ciko dengan menyatukan giginya.
__ADS_1
" Siapa ?" tanya Roy dengan polosnya.
" Hahaha...." Tobo tak mampu menahan tawanya. " Apa gue bilang, Roy itu nggak mungkin tertarik sama cewek mana pun " Tobi terkekeh merasa menang.
" Cewek yg baru saja marah-marah sama lo itu namanya adalah Lisa, cewek yg lo kejer keluar barusan itu namanya Lisa, Roy...." geram Ciko.
" Oh..." Jawab Roy singkat.
" Oh, lo cuma bilang Oh. " Ciko hampir menonjok wajah menyeblkan teman satunya itu.
" Justru gue yg mau nanyak, emang gue buat salah apa sampai dia marah-marah kayak tadi ?" Tanya nya pada Ciko dan Tobi.
" Ya mana gue tau. " bentak Ciko.
" Mungkin masalah tugas kelompom yg bafu saja di kasih pak Radit barusan. " Tambah Tobi.
" Memangnya ada tugas seperti itu ?" tanyanya bingung.
" Orang cerdas mah bebas, Cok. Belajar nggak belajar sekali baca aja dia udah langsung ngerti, nggak kayak otak lo, mines jadi seserius apa pun lo belajar tetap aja nilai lo dapetnya C. " tambah Tobi memjatuhkan martabat Ciko di bidang belajar.
" Sembarangan lo, biar gitu gue juga punya keunggulan sendiri. "
" Apa... ?" Tanya Tobi dan Roy bersamaan.
Membuat Ciko kelabakan tak tau harus menjawab apa.
" Lo, main basket nggak bisa, tenis juga nggak bisa, tidak ada kan yg bisa lo mainin, ah aku tau apa yg bisa. " kata Tobi antusias.
__ADS_1
" Apa ?" Tanya keduanya tak kalah kompak.
" Chiliders. " Ujar Tobi.
Ketiganya malah tertawa terbahak-bahak.
" Oh, itu tentu saja aku bisa. " kata Ciko bergaya layaknya seorang Chilider seksi. Dengan merapikan rambut di telinganya. Membuat Roy dan Tobi merasa geli melihat tingkah cowok satu itu.
******
Rio tiba di rumah lebih awal.
" Kamu udah pulang, Sayang. " tanyaku pada Rio yg baru saja masuk kedalam rumah.
" Iya, Mbak. lho kok, Mbak nggak kerja ?" tanya Rio sembari mencium punggung tanganku.
" Mbak ngerasa kurang enak badan, jadi pulang lebih awal. " Jelasku.
" Mbak sakit ?" Tanya Rio khawatir.
" Nggak kok, Mbak cuma sedikit pising dan lelah aja."
" Em, syukurlah. Rio pikir Mbak sakit. Terus kenapa nggak istirahat di kamar aja Mbak. Oh ya mas Dirga tau Mbak pulang awal ?"
" Mbak belum kasih tau, Mbak nggak mau ganggu kerjaannya. Akhir-akhir ini mas Dirga selalu pulang telat karena ketjaannya terlalu banyak, jadi Mbak nggak mau buat dia khawatir. " Jelasku panjang lebar. " Oya, kamu udah makan ? Trus kok Roy belum pulang jam segini ?"
" Ah, mungkin dia masih ada kerja kelompok di luar Mbak. " Jelas Rio.
__ADS_1
" Em, ya udah, masuk lah kekamar mu, dan setelah itu jangan lupa makan malam mu. " ujaku.
" Baik Mbak." Jawab Rio yg langsung beranjak menuju kamarnya.