Serpihan Luka

Serpihan Luka
C2. Menghindar


__ADS_3

FLESIA POV


" Udah ku bilang kan, jangan lakukan apa pun." bentaknya terdengar mengelegar, hampir membuatku serangan jantung.


PRANK!?


" Aaaahhh..." ku tutup telingaku dan mataku saat suara pecahan piring membentur lantain, aku terduduk dan meringkuk. Seketika air mataku terjatuh, menatap jemari tanganku yang bergetar.


" Inget, jangan melangakh dari area ini, lo cuma bisa keluar dan masuk kamar itu, jika kau berani masuk kedalam kamarku atau menyentuk, Kamila. Aku akan pastikan kau menyesali nya."



Aku memberanikan diri untuk berdiri dan menatap wajahnya, " Maaf, Ga."


" Aku tidak ingin mendengar suaramu, jadi lebih baik kau diam, menlihatmu bernapas saja aku sangat kesal."


Aku menggigit bibir bawahku seraya menangis sejadi jadinya. Kenapa aku harus mendapatkan perlakuan ini dari suamiku sendiri.


" Menyingkir dari hadapanku, aku mau pergi bekerja. Awas saja kalo sampai aku tau kau menemui atau menyentuh Kamila. Siap siap kau angkat kaki dari sini."


Namun aku tidak bisa diam saja menunggu sampai ia benar benar menceraikanku, setidaknya aku harus melakukan sesuatu untuk meluruskan segalanya.


Setiap hari setelah Dirga pergi bekerja aku pun keluar dari rumah untuk bekerja di sebuah super market yang tidak jauh dari rumah, jadi dengan berjalan kaki pun aku bisa menjangkau nya. Karena sejak hari itu Dirga menarik semua kartu debit yang pernah ia berikan padaku dulu dan aku juga sudah tidak pernah si beri uang olehnya. Jika aku tidak bekerja maka aku akan selalu kelaparan seperti dulu, aku hanya bisa makan saat Dirga ada dirumah, ia tidak mengijinkan ku menyentuh apa pun termasuk memasak.

__ADS_1


Syukurnya beby sister anak ku adalah orang yang baik, walau ia masih muda namun ia sangat cekatan dalam mengurus anak anak, dan Kamila juga mulai menyukainya, melalui dirinyalah aku bisa melihat perkembangan Kamilaku setiap harinya. Sri selalu merekam kegiatan Kamila setiap hari, lalu Sri mengirimkannya padaku. Aku sangat bersyukur walau hanya bisa melihat putriku melalui ponsel yang aku punya.


Bukan hanya pagi ini aku mendapatkan bebtakan darinya, di setiap pagi ia akan marah, walau hanya melihatku berdiri di depan pintu kamarku. Rasanya bernapas pun aku sudah sangat sulit jika berada di dekatnya.


Ia selalu mengatakan sangat jijik melihat apa lagi menyentuhku. Entahlah apa yang bisa ku lakukan untuk meluluhkan hati suamiku yang saat ini sudah mengeras seperti batu. Namun aku yakin sekeras apa pun batu itu suatu hari mungkin akan bisa melunak kembali. Dulu dia sangat mencintaiku dan aku yakin perasaan itu tidak mungkin sepenuhnya menghilang.


-----------


DIRGA POV


Hatiku ikut merasakan sakitnya saat aku melihatnya menangis tersedu sedu. Namun sebesar apa pun usahaku mencoba meluapakan kejadian hari itu, setiap Sia ada di hadapanku darahku selalu mendidih saat banyangan itu muncul dipikiranku, saat aku mengingat ia menyerahkan tubuhnya pada laki laki itu.


" Kenapa, Sia? Apa kekuranganku sampai kau tega menghianatiku. Aku sangat mencintaimu, ku curahkan segalanya demi dirimu, tapi kenapa kau membalas cintaku dengan penghianatan."


Aku menyandarkan tubuhku di sandaran kursi kerjaku, ku pijat pelipisku yang terasa sangat sakit. Aku mencoba menghidari segala masalah yang aku mikili dengan fokus bekerja. Namun tidak ada yang bisa kulakukan untuk melupakan segalanya, jika bukan karena putriku ingin rasanya aku tidak kembali kerumah hingga anak yang ada di kandungannya lahir. Namun Kamila butuh diriku di malam hari, alasanku tidak ingin dirimah karena aku tidak ingin melihat nya dan sangat sakit rasanya aku harus memperlakukannya dengan kasar. Namun aku tidak mampu menahan emosiku saat sudah di dekatnya.


Naina adalah sekertaris baruku, aku mengangi Nuan dengan Naina karena aku mau dia mulai bekerja sebagai penjaga putriku, Nuan juga ku perintahkan untuk mengawasi Flesia.


Dan sudah 1 bulan ini aku tau kalau Sia bekerja di Supermarket dekat rumah, aku tau alasannya bekerja, karena ia pasti membutuhkan uang untuk makan, karena sejak kejadian hari itu, seluruh pasilitas yang ia punya aku tarik. Lalu setelah itu aku belum pernah memberikan sepeser uang pun lagi padanya.


" Ada apa?"


Naina menyerahkan beberapa berkas padaku untuk ku tanda tangani. Setelah itu aku menyerahkannya kembali padanya, saat ia hendak keluar aku menghentikannya.

__ADS_1


" Tunggu.. Tolong belikan sarapan untukku seperti biasa."


" Baik pak."


Tak lama setelah ia pergi, ia kembali lagi dengan makanan yang ku pesan.


" Apa masih ada yang dibutuhkan pak?"


" Tidak, keluarlah."


Setelah Naina keluar aku mulai sarapan, seperti biasa aku tidak berselera makan, aku sudah terbiasa dengan masakan Sia sehingga makanan apa pun itu terasa tidak enak dan asing di lidahku.


Aku membencimu Sia, sangat membencimu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


***Jangan lupa like dan komennya.


Terima kasih***.


__ADS_2