
Aku dan Dirga mampir di sebuah restoran yang menyediakan hidangan khas bandung ikan bandeng sayur asem.
Sejak keluar dari rumah sakit tiba-tiba saja aku ingin memakan hidangan itu, tentu saja dengan sedikit bujukan Dirga langsung menuruti permintaan ku itu.
" Ini terlihat sangat lejat Ga... ", melihat hidangan itu di hadapan ku membuat air liurku seketika meleleh. Tanpa aba-aba aku langsung memasukkan satu sendok cairan berwarna kekuningan itu kedalam mulutku.
" Ahh... ", Aku mengerang karena lidahku sedikit tersengat di karenakan sup itu masih terasa panas.
" Kau ini, makan lah pelan-pelan, tidak akan ada yang mengambil makanan itu sayang ", Omel Dirga dengan suara lembut, dia mengambil tisu dan membersihkan sudut bibirku yang terdapat cairan sup meleleh di sana.
" Sini ", Dirga mendinginkan lebih dulu sesendok supnya sebelum menyuapi sup itu untuk ku. Aku melirik ke setiap penjuru ruangan khawatir ada yang memperhatikan kita. " Ayolah, tidak ada yang melihat kita, lagi pula apa salah nya aku menyuapi istriku sendiri ", ujar Dirga, aku langsung membuka mulutku dan menyeruput sup tersebut.
" Setelah makan, kau mau apa lagi ?",
" Hm.. aku mau jalan-jalan di taman ", jawabku sederhana.
" Taman ?", tanya Dirga bingung. Aku mengangguk pelan menjawab pertanyaan singkatnya.
" Kau yakin ? tidak lelah ?", aku menggeleng.
" Sejak menikah kita belum pernah sekali pun mengunjungi taman atau pun tempat kencan para sepasang kekasih kan ?", Aku mengerucutkan bibirku dengan tatapan sedikit kecewa. Dirga mencubit hidungku.
" Maaf sayang, sejak menikah aku belum melakukan apa pun untukmu, istriku ini pasti merasa suaminya ini sangat menyebalkan, benar kan ", Milihat wajah penuh penyesalannya membuatku merasa sedikit bersalah sudah menggodanya.
Aku menggenggam tangannya seraya berkata, " Jangan katakan itu sayang, dengan menjadikanku istrimu dan yang sebentar lagi akan menjadi ibu dari anakmu sudah merupakan hadiah terbesar untukku ",
__ADS_1
" Aku mencintaimu", ucapnya seraya mencium tanganku lembut. Aku hanya mengutarakan perasaanku dengan memberinya senyum lebar.
Setelah kenyang makan, kita akhirnya menuju taman kota untuk jalan-jalan sesuai keinginanku. Karena sangat bersemangat kita sampai lupa waktu, hingga akhirnya bunda menghubungi dan menanyakan keberadaan kita saat ini. Aku bahkan lupa kalau besok bunda akan pulang ke kampung.
Sebelum pulang Dirga menghentikan mobil di depan sebuah toko supenir, Dirga mengajakku membeli sebuah bingkisan untuk semua orang dirumah, terutama untuk ayah dan bunda. Aku bahkan memilih beberapa pasang baju untuk anak-anak bi Ita.
Hari sudah menunjukkan pukul 8 malam dengan segera pulang kerumah, karena semua orang saat ini pasti sedang menunggu kita untuk makan malam.
Di ruang makan.
Saat semua orang sudah menunggu kedatanganki dan Dirga, Roy membuat sebuah kejutan besar bagi seluruh keluarga.
Kita meletakkan semua bingkisan yang kita bawa di atas meja ruang tamu, sebelum aku dan Dirga beranjak menuju dapur.
" Malam bunda, ayah ", sapaku pada kedua orang tuaku itu, saat mataku menangkap wajah asing yang sedang berdiri di samping Roy aku dan Dirga saling tagap bingung.
" Ini siapa Roy ?", Tanyaku pada adikku yang satu itu yang saat ini terlihat gugup.
" Malam mba, kenalin aku Lisa temen sekampus Roy dan Rio ", Jelas gadis itu dengan nada yang cukup sopan.
" Hai, jadi kamj yang bernama Lisa ", jawab ku basa-basi.
" Kamu kenal dia sayang ?", tanya Dirga, bunda dan yang lainnga juga melontarkan pertanyaan yang sama, Lisa dan Roy juga terlihat bingung.
__ADS_1
" Tentu saja aku tau dia ", jawab ku asal.
" Oh ya, mba tau dari mana ?", tanya Roy penuh sidik.
" Duduk lah, gak perlu gugup, mba bakal jawab setelah kalian duduk ", pintaku pada kedua orang itu yang saat ini terlihat jelas sangat gugup.
" Mba... ", Roy terlihat tak sabar mendengar jawaban dariku.
" Mba nebak aja, dan ternyata tebakan mba bener kan ?", semua orang mendengus kesal setelah mendengar jawabanku, " dan mba punya tebakan lainnya yang mba yakin pasti beber ", aku terdiam sejenak, tatapan semua orang menuntutku untuk segara bicara.
" Lisa pacar Roy kan ?", Roy terkejut juga dengan Lisa, wajahnya berubah memerah karena malu, sedangkan yang lainnya hanya tersenyum membenarkan tebakanku.
" Apaan sih mba ", seru Roy malu-malu.
" Bener kan Rio ?", saat ku tatap adikku yang satu ini entah apa yang membuat rawut wajahnya begitu murung, dia bahkan sampai tak mendengar suaraku, seakan-akan pikirannya tak berada di tempatnya.
" Rio... kok kamu diem aja sayang ?", timpal bunda menanyai Rio yang seketika menyadarkan lamunannya.
" Oh, Ahh... aku lelah mba, bunda dan semuanya, Rio balik ke kamar duluan ", Rio langsung bangun dari duduknya dengan langkah cepat ia meninggalkan ruang makan, sampai tak menghiraukan panggilanku dan bunda.
" Biarkan saja, dia mungkin sangat lelah ", Ayah menghentikan bunda yang hampir menyusul Rio.
" Tapi dia belum makan apa pun Ayah, aku khawatir dia alan tidur dengan perut kosong ", ucap Bunda.
" Anak mu itu sudah dewasa, jika dia lapar dia bisa makan sebdiri kan ", jelas Ayah pada bunda yang akhirnya bunda pun mendengarkan kalimat Ayah.
__ADS_1