Serpihan Luka

Serpihan Luka
Kunjungan Lisa dan si kembar.


__ADS_3

Flesia POV


Hari hari pun berlalu, kini Nathan sudah berumur 8 bulan, aku pun mulai di buat kewalahan dengan Nat yang semakin aktif begitu juga Mila. Keduanya sudah bisa membuatku pusing, apa lagi Mila yang sudah mulai rewel dengan ke inginan keinginanya dalam memiliki baranga barang, seperti ingin memiliki mainan dan juga baju baju bagus seperti tuan putri.


Dalam situasi itu Sri lah yang selalu membantuku selama ini. Sri tetap bekerja bersama kami untuk menjaga Mila dan juga membantuku merawat Nathan. Dengan bantuannya aku sedikit terbantu dengan keaktifan kedua anak anakku itu.


Pagi ini aku sedang menunggu Lisa dan juga kedua adikku yang tampannya sejagat yang akan datang berkunjung ke rumah kami. Saat ini Dirga sedang menemani putra putrinya bermain di dalam kamar. Sedangkan aku membantu Sri di dapur menyiapkan sarapan, saat sarapan sudah siap aku memanggil suami dan juga anak anakku untuk sarapan.


"Ayo Mila makannya di bantu bi Sri ya nak."


Aku meletakkan Nathan di kursi khusus bayinya. Lalu mulai menyuapinya makan sun, karena sekarang putraku itu sudah bisa makan sun.


"Sini, biar aku yang menyuapi putra papa." Pinta Dirga.


" Tapi kamu kan belum sarapan, Ga."


" Aku bisa sarapan setelah itu. Kau sarapan lah lrbih dulu, Sayang. Seperti biasa di hari libur, papa akan bantu mama merawat anak anak papa ini." Ujar Dirga.


Di hari libur Dirga memang selalu ingin merawat anak anak, karena dia juga ingin mengikuti tumbuh kembang anak anak kami. Dan aku merasa bersyukur akan hal itu. Karena sosok Dirga yang dulu telah kembali lagi dalam hidupku.


💫💫💫💫


Tak lama kemudian Sri membukakan pintu setelah bel di bunyikan beberapa kali.


" Selamat pagi si cantik dan si tampat bibi Lisa.." Lisa yang baru saja masuk langsung mendekati Mila dan Nat dengan antusia ia langsung menggendong Nat.


" Pagi mba Sia dan mas Dirga..!?" Sapa Sopi. Aku tidak tau kalau Sopi juga akan datang.


" Sopi! Kau juga datang?" Tanyaku seraya memeluknya.


" Iya mba, aku yang memaksanya ikut." Ucap Lisa.


" Ohya, baguslah kalau gitu. Semakkn ramai maka akan semakin baik."


" Tapi aku rasa mas Dirga tidak setuju mba." Ucap Roy yang baru masuk sambil menenteng kantung belanjaan di tangannya.

__ADS_1


" Apa maksudmu, Roy?" seru Dirga dengan wajah datar.


" Aku rasa, di bandingkan suasana ramai, mas Dirga lebih suka menghabiskan waktunya bersama denanmu saja mba." Ujar Roy.


" Sejak memiliki pacar, kau dan Rio sudah berganti kebribadian ya Roy!" ucap Dorga.


" Hah?"


" Lihat saja itu, Rio yang dulunya suka banyak bicara, sekarang dia menjadi lebih pendiam, dan kau yang dulunya sok kalem sekarang jadi banyak bicara." Celetuk Dirga.


" Itu karena aku bilang tidak suka dengan sikaf dinginnya itu mas." Sambung Lisa.


" Ooh, jadi ternyata Roy bucin juga." ledekku.


" Jangan bercanda, aku gak gitu."


" Ohya?" Ucap Lisa dengan tatapan mengintimidasi Roy.


" Tidak Sayang. Aku hanya bercanda." Mihat Roy di kalahkan oleh Lisa, kita pun lansung tertawa bersama.


💫💫💫💫


Saat ini Lisa, Sopi dan aku sedang bergutat dengan peralatan dapurku. Tujuan Lisa ingin datang hari ini adalah karena dia ingin belajar memasak dariku, awalnya aku bertanya kenapa tiba tiba saja dia ingin belajar memasak. Lalu saat ia mengatakan kalau ia mendengar nasehat bunda, wanita terbaik itu adalah wanita yang selalu bisa menarik hati suaminya dengan perasanya yaitu lewat makanan dan juga perhatian dari pasangannya.


Aku sempet nanya kapan sih mereka akan mengahiri hubungan percintaan mereka sebagai kekasih, dan beralih menjadi sepasang suami istri. Lalu aku baru tau kalau sampai saat ini Roy lah yang belum pernah melamarnya sama sekali.


Aku tidak tau kenapa adikku yang satu itu sangat lambat dalam bertindak.


Saat aku kembali dari ruang tamu setelah mengantarkan buah ke pada para pria dan anak anak aku tidak sengaja menguping pembicaraan Lisa dan Sopi.


" Kau ternyata sangat pintar memasak ya Sop!" ujar Lisa.


" Ibu aku itu dulu adalah mantan pelayannya mas Dirga ma mba Sia, kak Lis. Kak Lisa mungkin udah pernah denger itu dari kak Roy." Seru Sopi.


" Hmm, Roy memang pernah cerita dulu ke aku." Seru Lisa.

__ADS_1


Sopi tersenyum simpul. " Kenapa? Apa kamu merasa malu? Apa kamu tau kalau aku adalah putri dari seorang ibu yang bekerja sebagai klening serpis di perusahaan mas Dirga dulu. Sebelum ibu akhirnya meninggal 3 tahun yang lalu." ujar Lisa, dengan mimik wajah yang sudah hampir menangis.


" Oh, ya Tuhan. Maaf kak aku gak tau.."


" Gak pa pa Sop. Tapi aku selalu merasa bangga pada ibuku. Karena apa, karena dia sudah rela melakan apa pun demi diriku selama hidupnya. Dan aku merasa sangat beruntung bisa mengenal sosok Roy dan keluarganya. Terutama mba Sia dan mas Dirga." Jelas Lisa.


" Hmm. Kak Lisa bener, mba Sia dan mas Dirga memang sosok yang luar biasa. Selain baik mereka juga sangatlah berjiwa besar." Seru Sopi.


" Jadi aku merasa sedikit iri padamu." Ucap Lisa.


" Apa? Apa maksudnya kak Lisa iri sama Sopi kak?" Tanya Sopi bingung.


" Tentu saja aku iri. Selain cantik dan mandiri, kau juga sangat pintar memasak. Jadi Rio beruntung mendapat calon istri seperti kamu." ujar Lisa.


" Hah? K-Kak Lisa ngomong apa? Aku sama kak Rio itu gak ada hubungan apa apa kak." Sanggah Sopi.


" Apa? Kau serius? Tapi aku lihat kau dan Rio.."


" Gak ada yang seperti itu kok kak Lis. Aku dan kak Rio hanya sebatas rekan kerja, dia atasanku dan aku adalah sekertarisnya." Ucap Sopi dengan menundukkan kepalanya.


" Benarkah?"


" Hmm."


Lisa mendekati Sopi dan dia sedikit menundukkan kepalanya, dan menarap Sopi dengan mendekarkan wajah mereka.


" Tapi aku bisa melihat cinta dari matamu ini, Sop." Ujar Lisa, Sontak Sopi mengangkat wajahnya dan menatap Lisa, Sopi mundur selangkah ke belakang. Dari wajahnya dia terlihat gugup.


.


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih, Maaf atas keterlambatannya up kali ini. Mohon di maklumi karena thor terhalang dengan kesibukan di dunia nyata. 🙏🙏🙏


__ADS_2