Serpihan Luka

Serpihan Luka
Harapan


__ADS_3

Selamat datang di bab yang baru. Sebelum membaca di mohon oleh Author jangan lupa like, vote dan jejaknya di kolom komen.


Terima kasih, selamat membaca.....


Author POV


Seminggu sudah belalu sejak kepergian Sia dan Kamila. Dirga mulai kehilangan akal, ia terus menerus menemui Roy dan juga Rio. Memohon pada kedua iparnya itu untuk memberitahunya di mana Sia saat ini? Kemana ia membawa Kamila pergi?


" Tolong, mas. Biarkan, mba Sia sendiri. Aku tidak bisa memberi tahu mas dimana dia, karena dia memintaku dan Rio agar tidak menhatakan ke beradaannya pada mas, Dirga." Ujar Roy.


Dirga sempat berpikir mungkin saja Sia pergi kerumah orang tuanya di kampung. Namun jika ingin membuatnya tidak bisa menemukannya kemungkinan itu hanya kecil jika dia ada disana. Sehingga Dirga tidak langsung mencarinya kesana.


Dirga duduk bersandar di balik pintu kamarnya, sambil menatap selembar poto yang ada di dalam ponselnya. Gambar yang nemapakkan senyum indah Sia dan juga Kamila saat mereka sedang merayakan ulang tahun Kamila yang ke tida tuhunnya beberapa waktu yang dulu sebelum akhirnya kekacauan itu terjadi.


Air matanya menetes tak tertahankan. Ia meremas dadanya dan memukulnya cukup keras, untuk mengurangi rasa sesaknya. Dirga mulai terisak dan tak lama kemudian tangisannya pun pecah dan ia mulai berteriak memanggil manggil nama Sia dan Kamila.


" Dirga..!? Nak, buka pintunya Sayang!?" Terdenagr suara mamanya memanggil nya dari luar sambil menggesdor pintu tersebut.


" Aku pantas di hukum ma. Aku bejat, aku suami yang buruk aku ayah yang brengsek. Karena itu aku pantas di hukum ma. Sia meninggalkanku, dia tidak akan pernah mau kembali lagi padaku."


" Dirga!? Buka pintunya nak. Biarkan mama memelukmu, dan bicaralah pada mama dan kau bisa mencurahkan keluh kesahmu pada mama Sayang."


" Papa dan mama juga sangat membenciku. Aku tau betapa kecewanya kalian padaku."


" Tidak, itu tidak benar. Mama dan papa memang sempat marah padamu, tapi kita mencoba untuk memahami tindakanmu saat itu Sayang. Kau melakukannya karena rasa cintamu yang begitu besar kepada istrimu. Mama tau itu nak."

__ADS_1


Tak lama kemudian Dirga mebuka pintu kamarnya dan ia menangis sepuasnya di pelukan mamanya. Saat merasa lebih tenang mamanya mengajak Dirga bicara.


" Apa kau, sangat mencintai Sia? Apa kau bisa berjanji pada mama kalau kau tidak akan pernah melukai atau mengulangi hal yang serupa lagi pada istrimu?" Tanya mamanya dengan nada tegas namun lembut.


" Dirga janji ma, seumur hidup aku tidak akan pernah menyakiti hatinya lagi."


" Kalau begitu. Untuk sementara berikan Sia waktu, saat waktu sudah mengobati luka itu, Sia mungkin akan berubah pikiran dan bisa memafkan dan menerimamu kembali."


" Tapi, aku bahkan tidak atau dimana dia saat ini ma. Bagai mana aku menemukannha dan minta maaf padanya!"


" Saat tiba waktunya, mama akan memberitahumu di mana Sia saat ini."


" Apa? Jadi mama tau dimana Sia saat ini?"


" Tidak, tapi Roy dan Rio tau. Mama akan berusaha bertanya pada mereka."


💫💫💫💫


Waktu bergulir dengan cepat, sebulan telah berlalu, Sia masih tetap berada di desa dan belum berencana untuk kembali.


Pagi ini ibu dan ayah Sia untuk pertama kalinya setelah sekian lama akhirnya mengajak Sia bicara dan bertanya tentang apa yang terjadi dengan hubungnnya dengan Dirga.


Sia pun menjelaskan apa yang terjadi, walau tidak keseluruhannya Sia utarakan. Karena Sia bukan orang yang suka menghumbar keburukan orang lain, apa lagi orang itu adalah suaminya sendiri.


" Jadi apa keputusanmu, nak?" Tanya ayah Sia.

__ADS_1


" Benar, Sayang? Apa kau benar benar ingin berpisah dengannya. Apa kau sudah memikirkan segalanya baik baik Sia?" Timpal Bunda Sia.


" Setidaknya jika bukan demi dirimu, pikirkan anak anakmu, Sayang. Karena menurut ayah, nak Dirga adalah laki laki yang baik pada dasarnya. Dan setiap manusia pasti bisa berubah, tidak terkecuali nak Dirga." Jelas ayahnya.


Sia yang sedang berjalan di jalan pedesaan, ia mulai menggunakan otak dan hatinya untuk berpikir, tentang apa yang baru saja ayah dan bundanya katakan. Sia menyentuh perutnya yang sudah sedikit membuncit.


Dan ia mengajak anaknya itu bicara.


" Apa kau baik baik saja, nak? Maafin mama, karena terus merasa cemas, mama tau kau juga merasakannya kan?" ucap Sia sambil mengelus lembut perutnya seolah sedang mengelus kepala anaknya itu.


" Mama tau, kau juga ingin mama dan papa bisa bersama lagi kan? Kau ingin mama memberi papa kesempatan. Kakamu Mila juga sangat merindukan papa. Setiap malam tak sehari pun terlewatkan ia terus menanyakan papa. Kapan papa datang, kapan papa menjemput kita? Tapi nak.. Mama butuh waktu. Mama gak tau sampai kapan luka mama akan pulih tapi mama sungguh belum siap bertemu dengan papa, Sayang."


Sia mengutarakan segala keluh kesahnya pada anak yang masih berumur 3 bulan itu di dalam kandunganya.


" Sia..!? Sayang..!?"


Degg


Jantung Sia seakan berhenti berdetak. Dia sangat hatam dengan suara itu dan nada dari kata orang itu sangat menggema di sanubarinya.


.


.


.

__ADS_1


.


Terimakasih, salam kasih dari Flesia.💓💓💓


__ADS_2