
Hai para Flesia Leaders. Selamat datang di bab yang baru, maaf kalau upnya agak lama, author punya sedikit kendala di karenakan dunia nyata menguras banyak waktu dengan kesibukan kesibukan duniawi.
Sebagai pengobat rindu author mau menyajikan sebuah kata kata mutiara untuk menghibur hari hari yang membosankan saat ini.
🎈🎈🎈🎈🎈
Saya sebenarnya tidak suka sama orang yang sok tahu, banyak ngomongnya tapi tidak ngerti. Karena itu saya diam biar saya tidak membenci diri sendiri. -- Cak Lontong.
*Dimana mana ada hal lucu, dari sana kesini bahkan dari sini kesana.
Cinta itu sudah selayaknya seperti bahasa inggris , bukan kanya teori saja tetapi juga praktek*.
DIRGA POV
Hampir 3 hari Flesia dan Kamila meninggalkan rumah dan pergi ke rumah mama. Setelah apa yang ayah katakan pagi ini, aku tak henti hentinya merutuki diriku, bayangan prilaku burukku terhadap Sia membuat hatiku terasa sesak. Aku sudah memutuskan akan membawa Sia ku kembali bersama Kamila kerumah ini, apa pun caranya. Jika perlu aku akan bersujut padanya dan mendapatkan pengampunan darinya.
Aku sangat merindukannya, aku benad benar menyesal telah menyakiti hati dan pisiknya selama ini. Aku mencoba menghubunginya tapi tidak ada respon darinya. Dengan tekat yang bulat aku pergi ke rumah papa untuk membawa kembali anak dan istriku kembali kerumah bahagia kami. Setelah ini aku bersumpah akan selalu mencintai dan melindungi Sia dan juga anak anak kami.
Saat aku tiba di rumah papa, aku melihat Sia yang sedang bersama dengan seorang pria. Rasanya aku sangat cemburu melihat keakraban mereka, lagi lagi aku hampir di butakan dengan rasa cemburu. Tidak aku tidak boleh meragukan Sia, dia hanya mencintaiku selama ini dan akan selalu seperti itu. Itu lah yang kuyakini tapi ternyata Sia sudah sangat membenciku.
" Siapa pria ini?" Tanya Dirga tiba tiba.
" Untuk apa kau kesini?" Sia balik bertanya, segera bangun dari duduknya.
" Jawab pertanyaan ku Sia. Siapa pria ini?"
" Dia teman lamaku! Sudah puas kamu?"
" Sia..." Suara Dirga sedikit meninggi, ia tidak suka Sia merendagkan nya di depan pria lain.
" Kenapa? Kau berpikir kalau dia juga salah satu dari pria yang sudah ku goda! bukankah seperti itu pandangan terhadap diriku." Aku melihat bara api arah di sorot mata Sia yang belum pernah ku saksikan sebelumnya. Bahkan cairan bening sudah menggenang di pelupuk matanya, aku merasa menyesal telah menyakiti perasaannya lagi, kenapa aku selalu saja tidak bisa menahan amarahku setiap kali aku meliahat Sia bersama pria lain.
Lalu tiba tiba laki laki itu berusaha melindungi Sia.
" Sory kawan, sebaiknya anda tidak bicara sekasar itu pada istri anda sendiri!"
" Jangan ikut campur, apa urusanmu dengan istriku!?"
__ADS_1
" Apa urusanku dengan istri anda, itu bukan urusanmu. Tapi yang jelas aku tidak akan membiarkan anda menyakiti Sia."
Apa? Dia bahkan memanggil namanya dengan sangat akrap. Aku merasa jika pria ini sangat menyukai Sia dan aku tidak akan membiarkan pria ini merebut Sia dariku.
RIYON POV
Tadinya aku datang menemui Sia karena ia mengatakan ingin meminta bantuan padaku, aku tau ia sudah menikah dan aku hanya ingin membantunya sebagai seorang teman. Namun aku terkejut saat Sia mengatakan kalau ia ingin meminta bantuan padaku mencarikan perkerjaan untuknya, yang aku tau suaminya pria yang mapan. Lalu sebuah tontonan membuatku mengerti maksud dari permintaannya padaku.
Aku tidak menyangka Sia memiliki seorang suami yang sangat kasar, aku sampai tidak bisa menahan diriku saat melihat Sia di perlakukan sekasar itu oleh suaminya itu. Dan aku juga menyadari kalau Sia tidak bahagia menjalani pernikahannya bersama pria kasar itu.
Aku mengakui pernah sangat mengagumi Sia. Tapi tindakan ku kali ini kulakukan karena sebagai seorang pria aku tidak tega memperlakukan seorang wanita dengan kasar karena wanita itu berhak di hormati, karena ibu kita juga merupakan seorang wanita.
" Jika kau tidak bisa bicara baik baik sebaiknya! aku tidak ingin melihatmu menyakiti Sia." Ucapku dengan tegas.
" Yang seharusnya pergi dari sini adalah kau, karena kau bukan siapa siapa disini." Dirga semakin meninggikan suaranya.
" Sudah! Cukup! Aku mau kau pergi dari sini, aku tidak ingin melihatmu lagi Ga." Sia mengusir Dirga, aku tidak tau sebesar apa kesalahan suaminya sampai Sia lebih memilih menyuruhnya pergi.
" Aku tidak akan pergi, ini adalah rumah orang tuaku, dia yang harus tau dimana tempatnya berpijak, dan bukan hak nya untuk memintaku pergi dari rumahku sendiri." tegas Dirga.
" Kau benar, setiap orang memang harus tau tempatnya, maka aku yang akan pergi dari sini." Ucap Sia.
" Kau yang pergi dari rumahku, ini adalah rumahku dan aku tidak akan membiarkan menatu dan cucuku pergi karena dirimu. Jadi pergi dari sini, aku tidak ingin melihatmu menginjakkan kaki dirumahku lagi sampai Sia memaafkanmu kau bukan putraku lagi." Bentak Mamanya.
Akhirnya Dirga pergi dari sana dalam keadaan sangat marah, bukan hanya Sia bahkan mamanya sendiri tidak mengingunkan kehadirannya. Sepatal itu kah kesalahan yang sudah ia perbuat pada Sia, sampai sampai keluarganya sendiri sangat membencinya.
" Maaf ma." Aku melihat air mata terus bergulir di pipi mulus Sia. Ingin rasanya aku menyeka nya dan memberikan belaian lembut untuk membuatnya berhenti menangis.
" Tidak, Sayang. Kamu tidak perlu minta maaf, mama mengerti perasaanmu."
Satu yang tidak bisa ku pahami rasa sayang yang di tunjukkan oleh mertuanya sangatlah berbeda. Setelah mama nya Dirga kembali kekamarnya dan meninggalkan kami berdua, kami melanjutkan pembicaraan yanv sempat tertunda.
" Maaf Riyon, atas perbuatan Dirga aku minta maaf."
" Ini bukan salahmu, kau tidak perlu minta maaf Sia."
" Aku merasa sangat malu, karena sudah memperlihatkan padamu tentang kehidupan rumah tanggaku, yang sangat tidak baik."
__ADS_1
" Aku tidak akan bertanya apa yang terjadi antara kau dan suamimu. Tapi aku akan dengan senang hati jika kau mau berbagi masalahmu denganku."
" Makasih, Yon. Tapi mungkin lain kali, saat ini aku hanya ingin fokus membenahi perasaanku dan merawat putriku."
" Baiklah, kau adalah wanita yang baik Sia. Kau pantas untuk bahagia, hanya itu yang perlu kau ingat."
Sia tersenyum mendengar perkataanku. Rasanya bahagia bisa melihatnya tersenyum walau aku tau ia terpaksa melakukannya. Aku tau kalau sampai saat ini aku belum bisa memungkiri perasaanku, kalau aku masih sangat mencintainya.
" Yon! kok melamun, ada apa?"
" Oh, maaf. Jadi kau bersedia bekerja di perusahaan ku? Kau bisa menjadi sekertarisku."
" Kau yakin aku bisa melakukannya?"
" Aku yakin kau bisa, sejak kuliah dulu kau memiliki otak yang cerdas, dan kau juga sangat giat dalam mengejakan apa pun."
" Ya sudah, aku menerima tawaranmu."
" Oke, mulai besok kau sudah bisa mulai bekerja. Ohya aku tiba tiba ingat kalo sebentar lagi aku ada meeting dengan klien."
" Ya sudah sebaiknya kamu segera temui klienmu, maaf sudah banyak menyita waktumu."
" Kalo gitu aku pamit dulu, salam untuk putri dan juga mertuamu."
" Oke, entar aku sampein."
Akhirnya aku berpamitan kepada Sia dan langsung pergi dari sana untuk menemui klienku.
.
.
.
.
**Jangan lupa vote, like dan komennya.
__ADS_1
Terimakasih.
Salam kasih dari Author, sehat selalu. 😘😘😘😘**