Serpihan Luka

Serpihan Luka
Chapter 38. Takdir membawaku padamu


__ADS_3

Di dalam mobil.


" Sesaat aku jadi ingat pertama kali kau menatapku, saat itu di matamu aku pasti seperti pria gila yg tiba-tiba melamarmu, benar kan ?" ujar Dirga. Membuatku mengingat hari itu kembali.


" Bagaimana kau bisa tau isi pikiranku saat itu !" Godaku sambil tersenyum.


" Bahkan saya juga berpikir begitu." timpal sekertaris Kevin sambil melajukan mobil.


" Benarkah ! kenapa kau juga berpikir begitu ?" kata Dirga pada sekertaris Kevin.


" Tentu saja, mana ada seseorang yg mengatakan pada wanita yg baru di lihatnya, ( aku menginginkan wanita itu ). " celetuk sekertaris Kevin.


" Apa ! kau mengatakan itu ? jadi kau benar-benar jatuh cinta padaku sejak pandangan pertama !" Kataku sambil tersenyum heran.


" Dari mana kau mendapat kalimat seperti itu ?" kata Dirga dengan tatapan yg sulit di artikan.


" Em, dari buku " jawabku sembarang.


Kita berdua malah tertawa bersama, akhirnya aku bisa melihat nya ceria lagi.


" Katakan padaku !" kataku.


" Apa ?"


" Alasanmu melamarku hari itu. ?" selama ini aku memang belum mendengar penjelasannya soal itu.


" Kenapa tiba-tiba bertanya !" ujar Dirga


" Ini bukan tiba-tiba, tapi sudah sejak lama aku ingin bertanya ini padamu ?"


" Entahlah, aku juga tidak tau kenapa. ?"

__ADS_1


" Apa ? apa kau sedang bercanda denganku ?" kataku dengan wajah cemberut.


" Tidak, bukan begitu. Aku juga tidak mengerti, yg jelas aku menginginkannya saja. " kata Dirga ambigu.


" Maksudnya, Seperti menginginkan sebuah mobil atau pakaian. ?" celetukku. membuat tatapan Dirga menajam.


" Kenapa kau malah mengartikannya seperti itu ! apa kau pikir aku menyamakanmu dengan barang ! Sia, aku tidak berpikir sepicik itu." Sejenak ia terdiam, aku mulai berpikir apa aku sudah berlebihan bicara seperti itu.


" Ok, anggaplah saat itu aku tertarik padamu, lalu menyukaimu, dan seterusnya jatuh cinta padamu, dan menginginkanmu jadi milikku, tidak bisakah kau menapsirkannya seperti itu?" katanya dengan nada sedikit meninggi.


Tiba dirumah, aku berjalan mendahuluinya masuk ke dalam kamar, entah kenapa aku sedikit merasa kesal, selama ini tak sekalipun ia bicara kasar padaku, aku merasa emosinya hanya pelampiasan karena kejadian di pertemuan tadi.


Aku masuk ke kamar mandi lebih dulu dan mengunci puntunya. ini pertama kalinya aku melakukannya, rasanya enggan melihat wajahnya.


Saat aku keluar dari kamar mandi, aku tidak melihat keberadaannya.


' Apa dia sedang menghindariku sekarang ?' batinku.


Tiga puluh menit kemudian ia kembali kekamar dan melihatku sudah tertidur lelap, ia langsung melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri seperti biasanya sebelum tidur.


Tengah malam aku terjaga, dan mendapati Dirga disampingku sedang memelukku, hembusan napasnya terasa sangat hangat, aku memperhatikan wajah tampannya, dan menyentuh alis matanya yg begitu tebal, lalu hidung mancungnya, bulu mata yg begitu lentik, bibir yg sangat seksi bagi seorang pria.


Perlahan ia membuka matanya, lalu menatap mataku cukup dalam tanpa berkedip.


" Jika bisa ku gambarkan isihatiku saat itu, maka aku pasti sudah memberi tahumu. " katanya tiba-tiba.


" Saat melihat senyummu dari kejauhan, seketika aku ikut tersenyum tanpa kusadari, melihat langkah kakimu, membuat kakiku bergerak ke arahmu, saat melihat bibirmu aku ingin menciumnya, setiap saat aku ingin menyentuh tubuh indahmu, itulah yg kurasakan. itulah arti dirimu dalam hidupku. " kata Dirga panjang lebar.


" Seperti takdir membawamu padaku. " ujarku melengkapi kalimatnya.


" Hemm, jadi jangan pernah menilai arti dirimu dengan sebuah benda yg tidak berguna, apa kau mengerti !" tegasnya

__ADS_1


Aku mengangguk, lalu mengecup bibirnya. Karena sudah terpancing olehku tinggal menunggu serangannya saja, ia langsung membalas kecupanku dengan serangan panas.


Mungkin karena kita baru menikah jadi tidak pernah seharipun ia membuatku libur kecuali saat aku sedang datang bulan.


" Buka bajumu Sia. "


" Apa ?"


Dirga menatapku tajam, aku tidak mengerti isi kepalanya saat ini, namun aku hanya bisa menuruti perintahnya.


" Sekarang, buka bajuku. " lagi-lagi mengatakan perintah aneh.


" Tapi kenapa? bukankah kau selalu melepaskannya sendiri ?" kataku terbata-bata.


" Kali ini aku ingin kau yg melakukannya dan melayaniku. "


Mataku membulat, bagaimana caraku melakukannya, selama ini aku hanya selalu mengikuti permainnannya.


" Bagaimana caranya ?" tanyaku ragu-ragu


" Persis seperti yg kulakukan setiap kali kita bercinta". Ujarnya.


Dirga melentangkan tubuhnya, menuggu gerakan dariku. Dengan ragu-ragu aku naik keatasnya lalu membuka kancing bajunya satu persatu. Saat sudah terbuka aku bingung harus melakukan apa selanjutnya.


" Aku rasa, aku belum bisa melakukannya. " kataku terbata-bata. Dirga tersenyum melihat tingkahku yg terlihat sangat menggemaskan saat merasa malu.


Dengan gerakan cepat posisi kita sudah berubah, ia berada di atas tubuhku, lalu mulai menghujani ku dengan ciuman bibirnya di setiap lekuk tubuhku.


Dibibir, laher, turun ke buah dadaku, ke perut, dan turun ke bagian bawah ku.


" Lakukan seperti itu, kau mengerti Sayang ! selanjutnya aku akan menantikannya, kali ini cukup ikuti permainanku saja. " ujar Dirga, sambil mulai bermain dengan tangannya di bagian intimku, membuatku sedikit penjerit.

__ADS_1


Permainan jarinya adalah yg paling aku sukai, ia selalu mampu membuatku seperti melayang dan bahkan hasratku selalu keluar setiap ia melakukan itu.


__ADS_2