
Lisa senyum-senyum membuat Roy jadi terpana melihatnya.
' Cantik, ini pertama kalinya gue liat senyummannya, bener-bener cantik.'
Lisa memiliki wajah yang sangat cantik dan polos, tersenyum sangat jarang di tunjukkan wanita itu. Roy selama ini hanya melihat wajah murung dan marah-marah dari mimik wajahnya.
" Kenapa senyum -senyum ! jangan bilang lo naksir gue ya ? " goda Roy. Dengan wajah sok cool nya.
Huh !
" Gue naksir lo, jangan ngarep. " Celetuk Lisa.
" Yeeh, ngarep.... Ya nggak lah, cewek kayak lo itu nggak ada asik-asiknya di jadiin pacar. " ejek Roy.
" Gue juga nggak mau tuh jadi pacar lo. " balas Lisa di sertai peletan.
Hahahaha.
Roy tertawa ringan.
" Gue nggak nyangka ada orang lain yg bisa buat gue ngerasa senyaman ini " Ucap Lisa
Roy tersenyum. ' Syukurlah, setidaknya lo nggak memintaku untuk menjauh. '
" Lo itu sama kayak obat tidur. " ujar Lisa.
" Apa ? obat tidur lo bilang ?" Tanya Roy dengan tatapan kesal.
" Hemm. " jawab Lisa dengan anggukan atusias, " Jika kau sudah meminumnya dapat membuatmu tertidur lelap, melupakan segala masalah yg ada. " lanjut Lisa.
Roy seperti tersentuh, ada rasa puas di hatinya mendengar pemaparan Lisa tentang dirinya.
" Yakin obat tidur bukan obat nyamuk ?" ucap Roy dengan wajah datar berpura-pura serius.
__ADS_1
" Dasar lo kuda nil, ngerusak mot gue aja. " celetuk Lisa mulai cemberut.
" Kuda nil lo bilang ! lo tu kutu buku. Yg cinta mati sama buku." ejek Roy.
" Mending kutu buku, dari pada lo tukang molor persis kuda nil. " balas Lisa tak mau kalah.
" Emang ada ya kuda nil se keren gue, di kerumuni banyak cewek-cewek lagi. " Roy yg biasanya pendiam dan jutek bermuka datar bisa-bisa nya ngomong narsis kayak gini.
" Gula kali di kerumunin."
" Hemm, manis kan ?"
' Idih narsis. Manis jidat lo. '
" Itu cewek-ceweknya aja yg nggak ada kerjaan, pake ngejar-ngejar cowok aneh kayak lo. "
" Yg aneh itu lo, yg butuh dokter mata deh kayaknya. " ucap Roy.
' Udah ah bodo, ngomong sama lo nggak ada habisnya, pusing gue. ' batin Lisa.
' Dia bener-bener manis dan lucu. ' batin Roy
Aku yg sudah mulai sulit melakukan kegiatan berat hanya dapat berbaring dan istrahat di rumah, hingga menuggu hari lahiran yg di katakan dokter sebulan lagi.
Derrrr derrrr
" Halo, Sayang...!" ucap ku di balik telepon.
" Lagi apa, Sayang ?" tanya suamiku di balik telepon.
" Hemm, cuma tiduran di kamar. " jawabku jujur.
" Aku merindukanmu. " mendengar kalimat tersebut hatiku selalu merasa tentram, di setiap kesempatan ia selalu mengatakan mencinyaiku dan merindukanku.
" Aku juga Sayang. " jawabku, Mungkin terdengar lebay, karena mengingat setiap hari kita selalu bertemu dan setiap malam ia memelukku, namun rasa rindu itu seperti terus mengikuti setiap kita tak bersama.
" Apa pak Amin sudah menjemput Ayah dan bunda ke terminal, Sayang ?" tanya Dirga.
__ADS_1
" Udah, dan sebentar lagi juga mereka pasti sudah sampai. " jelasku.
" Sampaikan maaf ku pada ayah dan bunda karena tidak bisa menjemput mereka langsung. " Dirga memang sangat ingin menjemput Ayah dan bunda tapi pekerjaannya tidak mengijinkannya untuk pergi.
" Iya Sayang. "
" Ya sudah, aku mencintaimu Sayang, calon ibu dari anakku, istri terhebatku. " ucap Dirga seraya memutuskan panggilan telepon.
Aku hanya bisa tersenyum dengan tingkah konyol nya yg setiap hari berusaha membuatku bahagia.
Tok tok.
" Masuk. " pintaku pada seseorang yg sedang berada di balik pintu saat ini.
Krek.
Rio membuka pintu.
" Mbak, bunda sama ayah udah nyampe tuh. " mendengar ucapan Rio aku langsung turun dari tempat tidur.
" Hati-hati Mbak, nggak perlu lari. " Aku tidak berlari hanya langkahku saja yg sedikit cepat, si Rio nya aja ni yg terlalu lebai ih.
Rio memapahku menuruni anak tangga.
" Bunda... Ayah. " panggilku dari kejauhan.
" Sia, kamu lagi ngapain ? Rio kenapa Mbakmu pake di bawa ke bawah. " omel bunda tercintaku, hal yg sangat aku rindukan.
Bunda berjalan mendekatiku, aku langsung berhamburan memeluknya.
" Kenapa harus turun sih Sayang, kan bisa bunda yg naik ke atas " lanjut bunda masih dengan omelannya.
" Hehehe..." Aku nyengir memperlihatkan gigiku, tapi jangan khawati gigiku putih bersih kok.
" Ayah..." Aku memeluk Ayakku, yg terlihat semakin tua. " Aku merindukan kalian " ucarku seraya memberikan kecupan di pipinya.
" Duduk lah. " ujar ayah.
__ADS_1
Aku berada di tengah-tengah kedua orang terkasihku, yg telah melahirkanku dan memberiku begitu banyak cinta selama ini, tak pernah sekali pun meraka membuatku menangis karena pelakuan buruk selain perlakuan baik yg membuatku selalu terharu dan sering meneteskan air mata bahagia.