
Malam ini adalah perayaan 7 bulan kandunganku. Dirga mengundang banyak orang untuk datang, ada beberapa rekan kerja terdekatnya dan juga kerabat yang hadir.
Roy juga mengundang Lisa, hubungan kedua sejoli itu sudah terang terangan mereka tunjukan. Lihat saja keduanya asik dengan urusan nya sendiri.
Lalu yang satunya lagi sedang berusaha menjaga hubungan nya dengan ( ) agar tak menyakiti hatinya, karena remaja itu sudah bertekat kalau suatu hari dia akan menjadikan Rio sebagai lelakinya. Sejak tadi ia terus saja di tempeli olehnya.
" Hayo...Kok senyum senyum sendiri? Ada apa?" Dirga mengejutkan ku, ia merangkul pingangku.
"Eh."
" Nih, susunya, ayo di minum dulu." Dirga menyerahkan segelas susu yang baru di buatkannya padaku.
" Makasih." Ku minum susunya sampai habis, lalu Dirga meletakkan gelasnya di atas meja.
" Hei, tadi kenapa senyum senyum sendiri? cerita dong." Dirga menyenggolku dua kali.
" Gak ada kok, Yang." hindarku.
"Ah masa? Kalo gak cerita aku bakal cium nih disini." Ancamnya.
"Huh? Kamu gak serius kan, Ga. Jangan main main ya."
Cup.
__ADS_1
Dirga benar benar mencium pipiku, sampai membuatku merona malu. Sebagian orang yang melihat jadi mulai berbisik bisik. Aku melototi Dirga namun dia malah terkekeh senang.
"Aku itu suami mu, Sia. Jadi aku bisa melakukan apa pun pada mu." Bisiknya.
"Tapi kamu harus tau tempat juga dong, Sayang." ucap ku kesal.
"Karena itu jangan menyembunyikan apa pun dariku, karena aku sangat tidak suka itu, honey..." tegasnya.
"Aku tersenyum karena kedua adik ku itu. Kau bisa lihat sendiri kan, ini adalah acaraku tapi yang lebih bersinar di acara ini adalah mereka berdua."
"Tapi di mataku tidak ada yang lebih bersinar darimu." ucap Dirga. Dia membuatku tersenyum dengan gombalan nya itu.
Ya dia adalah suamiku, laki laki yang masih sangat muda namun memiliki pola pikir yang sangat dewasa, bahkan mengalahkan diriku yang lebih tua darinya, ia selalu mengalah padaku di setiap waktu, ia selalu mampu mengimbangi sikap manja dan kekanakan ku.
2 bulan kemudian, akhirnya yang di nanti nanti hadir juga kedunia ini, putri kecil kami akhirnya lahir dengan sehat. Dia sangat kecil dan lembut, ku genggam tangan mungilnya sungguh luar biasa, ia menggerakkan tangannya dengan pelan. Seketika air mataku pun kembali menetes.
Saat aku berjuang untuk melagirkannya, aku sempat tak sanggup lagi melakukannya, walau sempat hilang kesadaran samapi dua kali tapi aku akhirnya berhasil melahirkannya dengan normal tanpa harus di operasai. Karena ukuran bobotnya yang luamayan 2 kilo gram, lumayan menguras tenagaku untuk bisa mengeluarkannya.
Namun rasa sakit itu seketika lenyap saat ku lihat wajah bahagia di muka Dirga, ia dengan cekatan menggendong Fadira. Dirga dan aku sudah menyiapkan nama untuknya yaitu, Fadira Sari Adinata.
" Hai, Sayang... Selamat datang di dunia ini, anakku. Papa sangat berayukur karena kau lahir dengan sehat, dan becapa cantiknya putriku ini." ujar Dirga menyambut kehadiran putrinya itu.
__ADS_1
"Makasih, Sayang. Kau sudah berjuang dengan baik untuk putri kita dan diriku." Dirga mencium keningku cukup lama. Rasanya tak ada lagi kebahagiaan yang ku harapkan selain ini.
3 hari kemudian aku di ijinkan kembali kerumah, sebenarnya di hari pertama pun aku sudah di ijinkan pulang oleh dokter, tapi Dirga tidak setuju, dia ingin memastikan aku benar benar sembuh total paska melahirkan.
*********
Setibanya di rumah, Dirga menunjukkan kamar bayi kami padaku dan Fadira.
" Kalian menyukainya?" tanya Dirga seraya menunjukkan kamar yang sudah di tata rapi oleh pelayan dan dirinya.
" Wuahhhh... Ini luar biasa, lihat nak! kamar mu benar benar sangat cantik, Papa sangat pinta, Sayang."
" Kemarilah..." Dirga menarikku, dan memperlihatkan sesuatu padaku, aku tercengang dengan apa yang kulihat. Ia menyiapkan gaun princes lengkap dengan sepatu kaca dan perhiasannya.
"Ini apa? Sayang?"
" Sebuah gaun yang akan di kenakannya pada ulang tahun pertamanya." Jawabnya antusias.
"Ahahaha..." Aku tertawa melihat wajah polos suamiku itu."Sayang, itu akan terjadi 1 tahun lagi, Ga."
"Lalu apa? Setahun lagi atau sekarang sama saja kan?"
"Oke, baiklah terserah kamu aja."
Walau kita sudah menyiapkan kamar untuknya, kita sepakat akan tidur bersama dengan Fadira sampai ia benar benar bisa tidur sendiri, setidaknya sampai ia tidak menyusu padaku lagi. Jangankan tidur di kamar yang berbeda, Dirga bahkan sangat operprotektif pada Fadira. Sangat sering ia tidak masuk kerja karena tidak rela berpisah dengan putrinya, sekalinya ke kantor dalam 10 menit sekali ia akan vidio call untuk melihat keadaan putrinya. Terkadang ia sampai membuatku kesal, namun saat ini ia mulai terbiasa berpisah dengannya, walau tetap saja dalam 1 jam sekali dia masih terus menyapa putrinya yang bahkan belum bisa menjawabnya.
AND
__ADS_1