
Pagi ini suasana di ruang makan terasa berbeda. Aku melihat ada kesunyian di antara kedua adikku. Bahkan Rio yg biasanya selalu ceria berubah menjadi kalem sejak ia duduk di meja makan.
" Rio !" panggilku.
" Iya, mbak" Walau ia merespon panggilanku namun terasa begitu dingi.
" Ada apa ini ! kenapa kalian berdua terlihat aneh pagi ini ?"
" Aneh? Nggak, ah mbak." sanggah Rio.
" Roy!" Seruku lagi. Aku tidak puas dengan jawaban yg di berikan Rio, jadi satu-satunya cara adalah bertanya pada pihak lainnya.
" Kita baik-baik aja, kok , Mbak. Nggak ada yg aneh juga, Roy udah kenyang, dan mau langsung berangkat." pamit Roy coba menghindari pertanyaanku selanjutnya.
" Roy, kau tidak akan menunggu Rio !" kataku coba menghentikan langkahnya.
" Aku berangkat naik bus aja mbak, jadi Rio bisa di antar pak Amin." kata Roy. Ia sudah berlalu dengan cepat.
Walau aku menyadari bahwa sedang terjadi sesuatu di antara keduanya, Dirga menghentikanku untuk tidak ikut campur.
" Rio, berangkat sekarang mbak, mas. " pamint Rio pada kita berdua.
Aku mendesah. Aku menyadari keduanya sudah cukup dewasa, jadi aku yakin mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
" Jangan khawatir, Sia, Rio dan Roy itu punya pemikiran yg dewasa dan juga cerdas, jadi kita hanya perlu memberikan dukungan pada mereka." ujar Dirga.
Pengalaman hidup selama 28 tahun mengajarkanku untuk jangan sekali-kali memicu konflik. Aku salalu enggan menyuarakan pikiranku dengan lantang, semampu mungkin, aku menutupinya agar tidak tercipta perdebatan.
Brukk
Lisa terkejut. Ia memejamkan matanya merasa sangat terganggu dengan apa yg baru di lakukan seseorang yg tiba-tiba membanting tasnya di atas meja tepat di samping mejanya.
__ADS_1
Karena ia paling tidak suka dengan keributan jadi mencoba untuk tak menghiraukan sekelilingnya.
' wuah ini benar-benar sangat menjengkelkan. ' pekik Lisa dalam hati.
Lisa mengamati pria yg duduk di sebelahnya, tetus saja mengoyangkan sebelah kakinya.
" Hai ! Tidak bisa kah kau diam. ?" Bisik Lisa.
Namun tak di respon oleh pria itu. Jadi Lisa mengetuk meja beberapa kali, hingga akhirnya Roy menoleh lalu membuka topi jaketnya. Raihan menggunakan hansedt di telinganya.
Lisa mendesah.
' Tentu saja dia tidak mendengarku. ' Batin Lisa.
Lisa menatap Roy, menunggunya melepaskan hensedtnya. Namun Roy malah diam saja membuat Lisa tak sabar langsung menarik hansedt itu dari telinganya.
" Apa yg kau lakukan ?" Tanya Roy, dengan wajah datar, khas Rio banget.
" Kau bertanya padaku ? Aku yg seharusnya bertanya, apa kau tidak bisa peka sedikit saja !" pekik Lisa
Lisa tersenyim sinis, jika menuruti kehendak batin ia ingin sekali menginjak kaki laki-laki menyebalkan itu.
" Kita sedang berada di dalam kelas, bukankah seharusnya kau belajar, tolong berhenti mengerakkan kakimu itu sangat mengganggu ku, dan juga berhenti membanting tasmu di atas meja. " ujar Lisa panjang lebar.
" Ah, satu lagi. Berhenti mendengarkan hal-hal tak berguna di telingamu. " ucap Lisa mengahiri pembicaraan.
Roy mengamati Lisa yg sedang serius dengan buku-bukunya. Ciko yg memperhatikan tingkah laku sahabatnya itu menunjukkan senyuman aneh di wajahnya.
" Bertaruhlah denganku. " bisik Ciko pada Tobi.
" Lo mau apa lagi cih, Ciko !" kata Tobi.
__ADS_1
" Gue yakin kedua orang itu pasti bakal jadian. " serunya penuh percaya diri.
" Kenapa lo bisa seyakin itu ?" tanya Tobi lagi.
" Instring, bukankah mereka caple yg sempurana, satunya pria es, satunya lagi cewek jutek. Cocok banget kan ?" katanya sembarang.
Tobi mendesah lalu menjitak kepala Ciko.
" Berhentilah bicara tentang insting aneh lo itu, mereka tidak cocok sama sekali menurutku. " pekik Tobi.
Selesai pelajaran, lagi-lagi Lisa pergi terburu-buru. Roy mulai merasa bingung dengan gadis satu itu.
' Apa ada yg sedang menunggunya, sehingga ia harus seburu-buru itu ?' batin Roy.
Di tengah langkah nya Lisa tidak memperhatikan langkahnya.
Brukk
" Aww." jerit Lisa, ia terjatuh lelantai, bokongnya terasa sedikit sakit.
" Sory, apa kau baik-baik saja ? " Kata Rio sambil mengulurkan tangannya pada gadis yg baru di tabraknya tanpa di sengaja.
Lisa mendongak ke atas lalu dengan wajah sedikit menahan rasa sakit, saat melihat wajah laki-laki yg dihadapannya matanya membualt.
" Kau.... !" Kata Lisa dengan menunjuk wajah Rio, Ia bangkin tanpa menerima uluran tangan dari Rio.
" Kenapa selalu saja kamu ! apa kau tidak bisa buat hidup ku tenang ?" pekik Lisa.
Rio tidak mengerti ucapan Lisa dan hanya bisa bengong, memeperhatikan cara gadis itu bicara tak jelas.
" Sory, kalau kau merasa terganggu, tapi apa kau mengenalku ?" tanya Rio sopan.
__ADS_1
Lisa mendesah, lalu memejamkan matanya.
" Lupakan saja, tidak ada gunanya aku bicara padamu. " kata Lisa bergegas meninggalkan Rio yg masih dalam kebingungan.