Serpihan Luka

Serpihan Luka
Chapter55. Salah paham


__ADS_3

Pukul 10.00 siang.


" Mbak yakin !" Tanya Rio.


" Hmm".


Aku berencana membuat kejutan untuk Dirga.


" Tapi mbak, kita harus bilang apa sama Bunda dan Ayah ?".


" Mbak cukup ngomong jujut aja kan ?".


" Ya udah terserah mbak aja". Rio pasrah.


Aku dan Rio keluar dari dapam kamar lalu berjalan menuju ruang tamu yang saat ini ada Bunda dan Ayah di sana sedang melihat acara TV.


" Bunda.. Ayah".


" Ada apa sayang". Sahut bunda.


" Em.. Sia mau keluar sebentar".


" Huh!..". Bunda dan ayah saling tatap.


" Kamu mau kemana nak?". Tanya Ayah.


" Mbak mau ke kantor mas Dirga yah". Sambar Rio.


" Kekantor ! tapi untuk apa sayang". tanya Bunda bingung.


" Katanya sih kangen, dan mau kasih kejutan". lanjud Rio lagi.


Bunda dan Ayah malah tertawa.


" Dasar anak muda.. Udah hampir jadi seorang ibu masih juga semanja itu sama suaminya". Celetuk Bunda seraya senyum-senyum.


" Bunda..". mukaku memerah karena malu.


" Tapi kamu nggak pa pa kan sayang ?". Bunda sedikit khawatir.


" Tenang bunda, ada Rio yang bakal nemenin".


" Hmm, baiklah, tapi inget harus hati-hati ya nak".

__ADS_1


" Siap Bunda".


Selesai berpamitan aku dan Rio langsung keluar. Aku meminta pak Amin untuk mengantarkan kita berdua.


" Bunda tidak merasa kalau Roy itu akhir-akhir ini jarang terlihat di rumah !". Tanya ayah yang mulai merasa perubahan sikap salh satu putranya.


" Ayah benar, Selama kita disini, Bunda jiga sangat jarang melihatnya, kecuali saat sarapan. Bahkan waktu makan malam juga dia jarang ikut". Jelas bunda.


" Apa pelajarannya di kampus sebanyak itu ?"


" Menurut Bunda bukan hanya itu Ayah".


" Lalu ?"


" Bunda pikir, putra kita itu, pasti sudah punya pacar". Jelas bunda, Ayah srdikit terkejut namun tidak terlalu mengambil pusing, toh putra-putranya udah dewasa dan sudah sewajarnya mengukai lawan jenisnya.


*******


Dirga dan beberapa klien sedang rapat, kali ini ada yang tidak membuatnya nyaman berada di ruang rapat tersebut. Tatapan dari sepasang mata yang sedari tadi terus menatapnya dengan sorotan yang mengerikan.


" Terima kasih utuk hari ini". ucap Dirga pada semua dewan direksi dan klien yang hadir. Setelah selesai saling berjabat tangan semua orang keluar dari ruangan.


" Huh..". keluh Dirga seraya merebahkan tubuhnya.


" Hm..". Dirga mencoba untuk istirahat sejenak.


Di lobi kantor.


" Mbak.. Rio mau ke kantin aja ya.. kalau urusan mesra-mesraannya sama mas Dirga udah beres, baru hubungi aku, ok". Goda Rio sembari berlari ke arah kantin.


" Ok, Sayang".


Sembil menuju ruang Dirga setiap kariawan yang melihatku, menyapa dengan sopan.


Cklek!


" Ga...., Hm". Aku terkejut tidak menemukan Dirga di ruangannya. Bahkan di ruang istrahatnya juga tak ada.


" Maaf nyonya?". Tiba-tiba Sekertarisnya nongol.


" Oh.. Tuan Dirga ada dimana ?".


" Sepertinya beliau belum kembali dari ruang rapat".

__ADS_1


" Ruang rapat ?".


" Iya nyonya, apa perlu saya panggilkan ?".


" Huh ! Oh, tidak perlu, biar aku saja yang kesana ?".


" Nyonya Sia yakin !".


" Hm..". Aku langsung bejalan cukup cepat menuju ruangan yang di jelaskan sekertarisnya.


' Semoga dia seneng ngeliat aku datang, Semoga aja nggak di omelin, hihihi'.


" Apa yang kau lakukan, Tania ?". Dirga terkejut melihat Tania tiba-tiba duduk di pangkuannya.


" Aww..". Dirga yang dengan kasar mendorongnya untuk menjauh darinya.


" Jangan bertindak memalukan seperti itu". celetuk Dirga.


" Memalukan ?", Tania tertawa, " Jika hal memalukan yang kulakukan dapat menjadikan dirimu jadi milikku, maka aku akan melakukannya dengan senang hati". Ucapnya sambil mendekat dan menarik kerah Dirga.


Wakah keduanya dangat dekat, Bahkan Tania sepertinya berniat mencium bibir Dirga.


Brak!


" Sayang..". Dirga terkejut melihatku yang tiba-tiba masuk.


Aku yang sudah berdiri sedari tadi di luar ruangan, dan menyaksikan pertunjukan yang begitu menyayat hati, dengan geram aku langsung membanting pintu dan masuk.


" Sayang, ini..". Dirga menjauhkan wanita itu dari dekatnya.


Walau aku sangat marah saat ini namun aku memcoba untuk bersikap tenang, setidaknya demi bayi yang ada di dapam kandunganku.


" Wuahh.. apa dia yang kau jadikan istri sayang?". ejek Tania


Deg.


Mendengar wanita itu memanggilnya dengan sebutan sayang hatiku terasa sangat teriris.


" Ga.. Jelas kan padaku, apa yang terjadi saat ini ?", Dirga terlihat menelan ludahnya, " Bukankah kau bilang, jika ada hal yang ingin ku ketahui aku harus bertanya langsung padamu, kali ini aku tidak akan melarikan diri, jadi jelaskan padaku". Pintaku dengan suara yang sudah berat dan mata yang sudah berkaca-kaca, dengan satu kedipan saja air itu akan tumpah.


" Sayang.. tenanglah, apa pun yang kamu lihat ini tidak seperti yang kamu pikirkan, jadi..".Kalimatnya terhenti.


" Aku belum sempat memikirkan apa pun Ga.. karena itu aku bertanya padamu". ucapku dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2