Serpihan Luka

Serpihan Luka
C2. Raja dan monster


__ADS_3

1 bulan sudah berlalu sejak hari itu. Pagi itu aku tidak tau apa yang Dirga lakukan pada pria itu, namun bukanlah hal yang penting bagiku untuk mengkhawatirkan nasip orang lain, karena nasipku sendiri saat ini sungguh sangat kacau.


Flesback on


Pagi itu Dirga menyeretku dengan kasar keluar dari dalam hotel, untuk pertama kalinya ku lihat sosok Dirga yang sangat berbeda. Ia sangat kasar dan brutal, sebanyak apa pun aku memohon dan mengatakan kalau dia telah menyakitiku namun ia sama sekali tak bergeming..


Hari ini sudah tidak terlihat setitik pun cinta di matanya untukku. Hanya ada kebencian di sorot matanya. Dalam perjalannan pulang ke rumah, aku tiba tiba mersakan sakit yang teramat di dalam perut ku, aku terus mengerang kesakitan namun Dirga berpikir aku sedang berekting dan membiarkanku sampai pingsan di dalam mobil.


Saat aku tersadar, aku sudah berada di dalam kamar tamu, samar samar aku mendengar suara Dirga dan dokter sedang bicara.


" Istrimu saat ini sedang hamil, Ga." ucap dokter itu.


Deg


Apa? Aku pun merasa sangat bahagia, karena akhirnya aku hamil anak kedua kami. Anakku dan Dirga.


" Apa yang kau katakan? Dia sedang hamil?" suara Dirga terdengar tidak suka.


" Iya, tapi kenapa? Lo kayaknya gak suka gitu, kawan?" tanya dokter Vian bingung.

__ADS_1


" Tidak ada, ya udah thanks Vian udah repot reptot datang kesini." ujar Dirga.


" Gak usah formal gitu deh ma gue, selain temen lo gue ini dokter, jadi udah sewajarnya." seru dokter Vian. Saat dokter Vian hendak keluar tiba tiba langkahnya terhenti.


" Tunggu, Vian!" ujar Dirga." Kapan tes DNA dapan di lakukan pada bayi yang ada dikandungan nya?" Pertanyaan nya itu membuat jantungku hampir meledak. Dari kalimatnya itu aku menyadari satu hal, kalau Dirga sedang meragukan anak yang ada di dalam kandunganku saat ini.


Kuremas dadaku yang benar benar terasa sangat perih bak di iris iris sembilu. Tidak pernah terpikir dalam hiduplu akan mengalami hal ini, Dirga meragukan kesetianku padanya dan juga bayi yang sedang ku kandung. Tidak ada yang lebih menyakitkan lagi dari kenyataan ini.


 


Ku terdusuk di lantai bersandar di balik pintu kamar yang mulai hari ini akan menjadi kamarku. Kata kata kasar yang badu saja Dirga ucapkan terus terngiang di kepalaku.


Aku menutup mulutku, aku tidak ingin putriku mendengarku menangis, kerena kalau dia sampai mendengar suaraku ia pasti ingin bertemu denganku. Karena kelelahan aku samapi tertidur di lantai depan puntu hingga malam hari, aku merasa sangat lapar karena seharian belum mengisi perutku dengan apa pun, bahkan air pun tidak.


" Maafkan ibu ya nak! Kau pasti sangat memderita disana." ucapku seraya menyentuh perutku yang sejak tadi terus saja bersuara karena lapar. Demi bayiku aku harus kuat, aku bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi, aku berpikir harus mengisi perutku demi kelamatan bayiku, lalu aku pun menyalakan air dari westafel lalu meminumnya hingga rasa laparku aedikit berkurang.


Ku tatap pantulan wajahku yang begitu kusut dan mata yang sembam di cermin.


Jangan menangis Sia, kau bukan hanya hidup demi dirimu saja. Kau harus hidup demi kedua anakmu, dan kau harus mendapatkan kembali harga diri dan kepercayaan suamimu.

__ADS_1


 


Cklek


Pintu kamar ku pun akhirnya terbuka, ku lihat Dirga masuk dengan membawa nampan di tangannya, di letakkannya nampan tersebut di meja nakas, tanpa melihat kearahku.


" Makan lah, aku tidak bisa membiarkan mu mati begitu saja, apa lagi membiarkan bayi itu mati, yang mungkin saja itu adalah anakku." ucapnya dengan membelakangiku.


" Hikk Hikk... Percayalah padaku, ini adalah anakmu dan apa yang terjadi pagi ini aku benar benar tidak melakukannya dengan sengaja, Ga. Aku tidak mengenalnya.. Sungguh percayalah padaku aku mohon..." aku mengulangi kalimat itu sudah puluhan kali namun Dirga tidak pernah mau mempercayai apa pun yang ku katakan.


" Kau tau, apa pun yang kau katakan tidak akan mengubah kenyataan bahwa kau sudah tidur dengan pria lain di hadapku, aku tidak akan pernah lupa bagai mana kau telah menginjak injak kepalaku hari ini, Flesia." ucapannya begitu dingin.


" Aku mohon, ijinkan aku melihat Kamila sebentar saja. Sejak pagi aku mendengarnya menangis mencariku, biarkan aku melihatnya walau semenit."


" Berhentilah berpura pura di hadapanku saat ini, Sia.... Apa kau tau saat kau tidur dengan senangnya dengan laki laki itu, putrimu semalam penuh terus menangis memanggil namamu, tapi kau..." Dirga menunjukku dengan dengan tatapan tajam. Lalu ia keluar dari dalam kamar hingga terdengar bantingan pintu dengan keras. Dadaku sesak mendapat perlakuan seburuk itu darinya, isak tangisku semakin menjadi. Makanan yang ku masukan kedalam mulutku seperti pasir, air yang kuminum seperti darah. Ku telan dengan paksa demi anak ku yang masih ada di dalam kandunganku.


Kenapa tuhan menggariskan jalan takdirku seperti ini, dalam sekejap aku mendapatkan seorang suami layaknya raja. Namun dalam sekejab ia menukar rajaku menjadi seorang monster yang sangat mengerikan.


Flasback off

__ADS_1


__ADS_2