
Sore hari.
" Selamat sore non". Sapa pembantu rumah tangga.
" Sore bi. Bi bisa tolongin saya. " tanyaku.
" Minta tolong apa non. " tanya bi Ranti balik.
" Sia, butuh air sekarang, tolong ambilin buat saya ya bi, Sia bener-bener minta tolong bi."
" Baik non. " Bi Ranti langsung ke dapur mengambil kan segelas air putih untukku.
" Ini non. " bi Ranti menyodorkan gelas tersebut padaku.
Dengan cepat aku langsung meminumnya.
" Makasih bi." ucapku.
" Iya sama-sama non. Kenapa non sepertinya hari ini terlihat sangat kelelahan ?" tanya bi Ranti yg melihatku seperti orang habis berlari beberapa puluh kilo jauhnya.
" Entah lah bi, entah kenapa hari ini rasanya lemes terus sejak pagi. " jawabku.
" Apa non sakit ?" tanya bi Ranti panik.
" Nggak kok bi, mungkin karena kurang tidur aja." jawabku tanpa sadar.
Bi Ita malah tersenyum tipis mendengar ucapanku.
*******
__ADS_1
Kampus Rio dan Roy.
Seorang dosen sedang memberikan penjelasan tentang pelajaran hari ini. Lisa begitu fokus memperhatikan penjelasan sang dosen.
Roy, jangan di tanya, masih tetap coll seperti biasanya. Karena waktu ujian semester hampir tiba semua orang mulai serius dengan pelajaran mereka.
" Jadi hari ini saya akan memberikan tugas kelompok untuk kalian. " kata pa Radit dosen Lisa dan Roy.
" Apa.... aaaah... " pekik semua siswa.
Saat menjadi mahasiswa hal yg paling tidak disukai adalah kerja kelompok, apa lagi teman sekelompoknya tidak bisa di ajak kompromi, pasti akan sangat menjengkelkan.
tok tok tok.
" Diamlah..." Pa Radit mengetuk atas mejanya. " Kalian tau kan bapak paling tidak suka dengan penolakan, jadi bapak langsung bagi kelompok kalian sesua teman semeja kalian saat ini. Ingat bahwa bapak tau persis di mana kalian duduk saat ini, ok." jelas pa Radit panjang lebar perihal masalah tugas mereka.
Lisa melirik ke samping, dan mendapati teman sekelompoknya bahkan tak mendengarkan penjelasan dosen di depan.
Ctakk
Bunyi henset jatuh di atas meja. Roy berbalik menatap Lisa bingung, Lisa menatapnya kesal.
" Apa yg kau lakukan ?" Tanya Roy jutek dan dingin.
" Menurutmu ?" balas Lisa lebih jutek.
Roy malah tak menghiraukan Lisa dan ingin memasangkan henset tersebut ke telinganya kembali, namun di hentikan oleh Lisa.
" Apa kau sudah gila ?" tanya Roy mulai terlihat kesal.
__ADS_1
" Oh, aku memang sudah gila, bagai mana bida aku sekelompok dengan orang sepertimu." Ucap Lisa.
" Kau bilang apa? sekelompok untuk apa?" tanya Roy bingung.
" Haaah...." Lisa menghembuskan napasnya kasar. " Lupakan saja, lebih baik aky kerjakan sendiri saja. " Gerutunya sambil membereskan peralatannya.
Braakk.
Ia meletakkan tasnya kembali saat ia sudah bangun dan hampir beranjak dari sana. Lisa mendekatkan wajahnya pada Roy.
" Dengar baik-baik, tidak sepertimu yg tidak perduli dengan tugas apa pun di kampus ini. Berbeda denganku, aku sangat butuh nilai ku dan harud menyelesaikan kuliahku dengan secepaynya jadi kerjakan bagianmu dengan benar, ok, apa kau mengerti." katanya panjang lebar. Hingga akhirnya ia keluar meniggalkan ruangan.
Roy yg masih tak terlalu paham hanya bengong menatap punggungnya yg sedang berjalan keluar.
" Hai, lo apain tu cewek Roy, kok tiba-tiba dia ngamuk-ngabuk gitu. " tanya Ciko yg tiba-tiba metangkul bahu Roy dari belakang.
Roy bukannya menjawab malah berlari keluar tanpa menghiraulan kedua sahabatnya tersebut.
Dari kejauhan ia melihat Lisa sedang bicara dengan seorang laki-laki, yg sepertinya seorang senior, Roy pernah melihat orang itu sebagai anggota OSIS sebelumnya.
Laki-laki itu terlihat sedang memaksa Lisa, cukup lama kedua orang itu berdebat dam akhirnya Lisa mengikuti laki-laki itu. Karena merasa sedikit mencurugakan Roy mengikuti mereka.
Lisa dan senior itu menuju taman yg ada di belakang pekarangan kampus.
Roy mengawasi keduanya dari balik gedung kelas. Walau cukup jauh namun Roy bisa mendengar percakapan keduanya.
" Aku sudah lama suka kamu, Lisa. Mau jadi pacarku?" tanya senior itu terdengar penuh percaya diri
Sejenak Lisa terdiam tak mengatakan apa-apa.
__ADS_1
Roy yg masih mendengarkan, merasa sangat penasaran dengan respon dari Lisa.