
Sudah satu jam Dirga berputar putar mencariku tapi belum juga bisa menemukan keberadaan ku.
Dirga benar benar sudah putus asa, dia takut terjadi sesuatu padaku, dia meminta supir untuk menhentikan mobil dan turun di samping jalan.
" Flesia......" teriah Dirga
" Kamu dimana sayang, apa yg terjadi sama kamu, kenapa kamu tiba tiba pergi kayak gini. " Dirga mengusap usap wajahnya dan meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya, dia sudah benar benar tidak tau lagi bagai mana cara menemukkan ku.
Dirga kembali ke dalam taxi dan bertanya pada supir taxi kemana kira kira seseorang akan berjalan atau pergi saat malam yg letaknya tidak jauh dari lokasi hotel.
Supir taxi itu menyebutkan satu nama dan langsung melajukan mobinya menuju tempat yg di maksut, Dirga turun di tepi danau yg di katakan supir taksi tadi.
Dirga berjalan mengitari danau itu, setelah berjalan selama 15 menit dia melihatku yg sedang terduduk di tepi sungai dia langsung berlari mendekatiku.
__ADS_1
Dirga mengangkat tubuh ku yg sudah terasa sangat dingin, Dirga menatapku penuh amarah dan mulai berteriak.
" Flesia..... ada apa dengan mu, apa yg kamu lakukan disini tengah malam begini, apa kamu tau gimana khawatirnya aku, dan kenapa tidak mengankat telpon ku, apa kamu sudah gila, bagai mana jika terjadi sesuatu padamu." dia mengeluarkan semua unek ukek nya.
" Kenapa dian saja, ayo jawab, apa kamu bisu, jawab aku sia...." bentaknya lagi kesal karena aku yg tetap diam tidak mengatakan apa pun.
Dia mencengram kedua lengan ku denga sangat kencang hingga terasa sakit, aku menepis genggamannya dan terduduk kembali, aku mulai menangis sekencang kencangnya. Dirga akhirnya memelukku tak tega melihat ku menangis terisak seperti itu.
" Lapasin aku, aku nggak mau ketemu kamu lagi, aku benci kamu Ga, aku benci kamu. " kata ku di tengah tengah isak tangis ku sambil berusaha mendorong nya menjauh dariku, tapi tidak mampu ku lepaskan.
" sia..... aku mohon sayang, kamu bisa memukul ku atau membenciku sepuasnya jika aku bersalah, tapi sia...." sebelum Dirga menyelesaikan kalimatnya tiba tiba aku sudah pingsan.
" sia, sayang..." panggil Dirga yg sudah semakin panik melihat keadaan ku. dia langsung mengangkatku dan membawa ku kembali ke hotel.
__ADS_1
Dirga mengankatku dari depan hotel hingga ke lantai tiga, sampai di kamar Dirga menidurkan ku di atas kasur, karena aku sudah demam dengan cepat Dirga mengambil air hangat dan mulai melepas pakaian ku.
Dirga mengompres seluruh tubuh ku dengan air hangat, lalu mengganti pakaianku dan memberiku selimut. Dirga merawatku dengan sangat baik.
" Apa yg terjadi sayang, apa membuatmu jadi bertindak sebodoh ini, jika terjadi sesuatu padamu apa yg harus aku lakukan. " kata Dirga sambil menempelkan keninggnya di kening ku.
Dirga tidur di sampinggu dan memeluk erat diriku, rasa amarahnya seakan menghilang begitu dia melihat air mataku.
" Aku yakin ada alasannya sampai kamu bertindak seperti ini, apa pun itu kau harus memberiku penjelasan sayang. " bisik Dirga.
Sinar matahari sudah menyinari ruangan ini, aku membuka mataku perlahan dan aku melihat sosok yg sangat aku cintai sedang tertidur lelap di sampingku.
Saat aku ingin mencium keningnya aku mulai teringat dengan kejadian semalam, aku mengurungkan niat ku dan mulai meneteskan air mataku hingga menenai wajahnya.
__ADS_1
Tiba tiba Dirga terbangun dia menatap tajam kemataku, saat aku ingin cepat cepat menjauh tapi di hentikan oleh gerakan cepatnya, hingga akhirnya aku sudah berada di pelukkannya.
" Jangan pergi begitu saja, terlalu banyak yg terjadi, dan penjelasan yg harus ku dengar darimu." kata dirga tanpa memperdulikan diriku yg berusaha melepaskan diri darinya.