
Posesif, itulah julukan yg tepat bagi seluruh keluargaku saat itu terutama suami tercintaku.
Jangankan bekerja bahkan di rumah aku tidak di ijinkan melakukan apa pun, semua hal yg menurutnya dapat berbahaya untukku dan bayi kita dengan larangan keras ia memintaku untuk diam saja tanpa melakukan apa pun.
Diam saja ! itu hal yg paling aku benci. Bagaimana kau bisa diam saja sepanjang hari, Ahh Dirga kau benar-benar membunuhku.
" Pagi bi ?" Aku melihat bi Ita sedang menyiapkan sesuatu yg lejat, pudding coklat, kesukaan Dirga, Roy dan juga Rio. Karena sudah sering memakannya aku juga sudah mulai menyukainya.
" Non Sia sedang apa disini ? kenapa keluar dari kamar non ?"
" Aku bosen bi, di kamar terus, kalau di kamar terus yg ada aku bisa stres. " ucapku dengan wajah cemberut. Bahkan tubuhku mulai terasa pegal, sepertinya bayiku jugan bukan anak yg pemalas, buktinya aku tidak ngidam malas-malasan.
" Tapi den Dirga bisa marah lho non. " lanjut bi Ita.
" Karena iti bibi diam saja, jangan memberitahunya, atau kita berdua bisa di omelin sama dia. " aku memohon pada bibi untuk tutup mulut.
__ADS_1
" Ya sudah, non bisa temenin bibi disini, tapi jangan lakukan apa pun, diam saja disana ya non. " pinta bi Ita dengan nada yg sangat sopan.
" Bibi tidak rindu pada anak-anak bibi ?" Tanyaku pada bi Ita, karena seingatku bibi pernah cerita tentang kedua putrinya yg tinggal di kampung bersama suaminya. Dan selama aku menihkah dan tinggal di rumah inj belum pernah sekali pun bibi pulang ke kampung untuk bertemu keluarganya.
" Tentu saja rindu non, tapi bibi juga masih belum bisa pulang jengukin mereka untuk saat ini. " walau bi ita tersenyum aku bisa melihat kesedihan di mimik wajahnya. Hidup terpisah dari keluarga demi mencari napkah, aku sangat memahami perasaannya, karena aku juga mengalami hal yg sama sebelumnnya, harus terpisah dari Bunda dan Ayah untuk mengejar impianku.
" Kanapa nggak ajak mereka semua tinggal disini aja bi ? Anak-anak bibi kan bisa bantu-bantu kerjaan bibi dan suaminya bisa jadi pengurus kebun atau satpam disini. " menurutku usulanku adalah hal terbaik untuk bi Ita, aku benar-benar tidak tega padanya.
" Tapi non, anak-anak bibi masih sekolah, dan den Dirga mungkin tidak akan suka dengan hal itu. "
******
Pukul 20.00
Setelah aku memberitahu pembicaraanku dengan bi Ita tadi siang pada Dirga. Dia langsung meminta bi Ita ikut duduk bersama kita di kursi meja makan.
__ADS_1
" Seperti yg istri saya katakan sebelumnya bi, Saya mengijinkan seluruh keluarga bibj tinggal disini. " tegas Dirga, bagai mana pun bi Ita sudah berjasa besar bagi Dirga, sejak dulu bi Ita lah yg menjadi pengurus kebutuhan Dirga selama dia di rumah.
" Dan untuk kedua anak bibi, Saya akan mendaftarkan mereka di sekolah dekat kampus Roy dan Rio, jadi mereka bisa membantu anak-anak bibi juga saat pergi ke sekolah ". Lanjut Dirga.
Roy dan Rio menganggukan kepalanya, memberi tanda mereka setuju dengan usulan kakak iparnya tersebut.
Tanpa sadar air mata bi Ita jatuh berlinang, Rasa syukur dan bahagia bisa berkumpul bersama keluarga tercinta adalah hadiah terbesar bagi orang-orang yg terpaksa terpisah dari keluarga demi mencari napkah untuk kelangsungan hidup.
" Terimakasih, non Sia, dan den Dirga, bibi bersyukur bisa memiliki majikan sebaik dan memiliki hati seputih salju seperti kalian. Bibi janji akan bekerja dengan segenap jiwa bibi dan akan menjaga keluarga ini dengan baik juga. " ucapan bi Ita melikiskan isi hatinya yg terpendam selama ini.
" Tenang saja bi, kita akan menjaga anak-anak bibj juga dengan baik. " Rio menimpali, memberi rasa aman pada bi Ita.
" Tapi anak-anak bibi masih SMA dan SMP den, jadi belum bisa bibi titipkan selamanya sama den Rio. " Candaan bi Ita membuat Rio tercengang, Ia tau persis bukan itu maksud Rio namun bi Ita mencoba bercanda dengannya.
Semua orang akhirnya tertawa bersama. Membuat orang lain bahagia dapat membuatmu merasakan kebahagian juga. Selama yg kita beri adalah yg bersipat ketulusan.
__ADS_1