Serpihan Luka

Serpihan Luka
C2. Berkeluh Kesah


__ADS_3

Setibanya di rumah Dirga sedang duduk di sof bersama Kamila. Saat Kamila melihat Sia anak itu langsung berlari dan memeluknya.


" Ambil barang barang mu nak." ucap mamanya tiba tiba. " Mulai hari ini kamu dan Kamila akan ikut mama kerumah mama dan papa." ucap mamanya tegas.


" Ma.. Apa maksud mama?" tanya Dirga bingung.


" Tapi ma." timpal Sia.


" Jangan membatahku, Sia. Mama gak bisa biarkan kamu tinggal serumah dengan laki laki sikopat ini. Mama gak mau kau dalam bahaya lagi jika terus tinggal denganya disini."


" Mama..." Suara Dirga sedikit meninggi.


" Diam, kamu. Kau bukan anak ku lagi, jadi jangan pernah memanggilku mama lagi."


Mamanya akhirnya membawa paksa Sia dan Kamila bersamanya. Ia tidak mendengarkan larangan dari Dirga, apa pun yang di katakan Dirga ia tidak perduli sama sekali.


FLESIA POV


Setibanya di rumah mama Dania dan papa Johan Anggara, aku di sambut dengan hangat oleh semua orang disana. Mama memiliki beberapa pelayan, mereka sudah sangat mengenal ku, karena sebelumnya aku sudah sering berkunjung ke sana saat dengan Dirga di saat hari libur untuk mempertemukan Kamila pada nenek dan kakenya.


Sejak Kamila lahir mama memutuskan kembali ke tanah air agar bisa lebih dekat dengan cucunya, walau papa masih sering bolak balik ke luar negeri untuk urusan bisnisnya.


" Ayo masuk, Sayang." Aku menganggukkan kepalaku pelan seraya tersenyum getir, saat melangkahkan kakiku masuk kedalam rumah yang megah itu hatiku merasa sangat perih, aku bakhan tidak bisa menahan air mataku agar tidak keluar. Mama langsung mengajakku masuk kedalam kamar yang dulunya sering ku tempati bersama Dirga dan Kamila saat berkunjung kesana dan tidak di ijinkan pulang sama mama dan papa.


Bayangan tawa Dirga di dalam kamar ini saat sedang mengajak Kamila dan diriku bercanda masih terlihat jelas di mataku. Mama sepertinya menyadari kalau aku sedang menahan tangisanku, ia menarikku duduk di atas ranjang dan memelukku.

__ADS_1


" Ma...ma. Hikk hikk." Aku sudah tidak sanggup lagi menahannya, perlakuan lembutnya membuatku tidak sanggup lagi menahannya dan ingin rasanya ku curahkan segala isi hatiku saat ini lewat tangisanku.


" Maafkan mama, Sia. Mama tidak tau kalau putraku itu sudah sangat melukai hatimu." Tangan lembutnya terus saja membelai rambutku berkali kali sampai aku merasa lebih baik barulah mama melepaskan pelukannya dan ia menatapku dalam dalam, sorot matanya menunjukkan betapa ia merasa sangat prihatin dengan keadaanku. Tangan lembutnya menyeka air mata yang masih membasahi pipiku.


" Katakan pada mama apa yang sebenarnya terjadi hari itu, Sayang?"


Sebelumnya mama memang sudah mendengar sekilas cerita garis besarnya dari Nuan, tapi ia butuh penjelasan yang sebenarnya dariku. Lalu aku pun menceritakan apa yang terjadi saat itu, dengan rinci tanpa ada yang aku tutup tutupi.


" Aku tidak tau, kenapa Dirga tidak mau mendengarkan penjelasanku sama sekali. Dia tidak bisa mempercayaiku atau mendengarkan apa pun yang kukatakan padanya, ma."


Aku bersyukur bisa mencurahkan dan bicara pada seseorang tentang hal ini, selama ini aku merasa seakan tercekik karena harus menyimpan semuanya sendiri tanpa mampu berkeluh kesah pada siapa pun. Aku berterima kasih pada tuhan karena menajadikan mama Dania sebagai mertuaku, saat menatapnya dan di peluk dengan hangat olehnya aku jadi merindukan Bunda dan Ayah. Ingin sekali aku menghubingi mereka saat ini, tapi aku khawatir mereka akan merasakan sesuatu saat mendengar suaraku, karena aku adalah seseorang yang tidak bisa menyembunyikan emosiku pada siapa pun.


Mama mengatakan ia mengerti dengan ucapanku dan akan mencoba meluruskan segalanya. Aku tidak mengerti maksudnya tapi aku berharap mama bisa membantuku dalam masalahku ini dan aku bisa membuktikan pada Dirga bahwa yang di tuduhkannya padaku adalah salah. Setelah perlakuannya malam itu yang hampir melukai bayiku, aku mulai membencinya, rasanya aku sudah tidak punya tenaga dan keinginan untuk menghadapinya atau hidup bersamanya. Kesabaran ku seakan sudah berada di batasnya, aku sudah tidak perduli jika suatu hari ia akan menceraikanku. Aku hanya tidak bisa menerima perlakuan buruknya pada bayi yang ada di kandunganku, sudah cukup baginya merasa terhina karena tidak di akui olehnya, tapi tidak lagi, aku tidak akan diam saja jika ia menyakiti anak anakku. Aku menerima hinaan dan perlakuan buruknya jika itu hanya sebatas diriku, tapi tidak pada anak anakku juga.


" Jawablah, mama akan keluar menemani Kamila."


Setelah mama keluar dari kamar aku pun menjawab panggilan itu.


" Halo, Yon?"


" Halo, Sia.. Are you oke?"


" Hmm? Maksud lo?"


Aku merasa bingung kenapa Riyon menyanyakan tentang keadaanku secara tiba tiba, seakan ia tau kalau saat ini aku sedang tidak baik baik saja.

__ADS_1


" Aku dengar dari pemilik supermarket lo gak masuk kerja karena sakit, apa lo sakit? Dan seoarah apa? Lo dimana sekarang? Di rumah sakit, atau dirumah? Gue jenguk lo ya."


Pertanyaannya yang tanpa jeda membuatku hampir tertawa.


" Woy, apan sih lo Yon! Gak usah lebai deh. Gue baik baik aja kok, tadinya sempet sakit dan sempet nginap dirumah sakit selama 2 hari juga, tapi sekrang aku udah gak pa pa kok."


Aku bisa mendengar ia mendesah panjang dan berucap syukurlah.


" Pantesan hari itu aku melihat wajah kamu sangat pucat, kalo lo sakit kenapa harus kerja sih, dan kenapa gak ngabarin aku kalo kamu sakit!"


" Aku gak inget lah Yon, nama nya juga orang sakit mana sempet dia kepikiran sama orang lain dan malah mikirin ngasih kabar."


" Hm, ya udah, aku ke tempat kamu ya, jengukin kamu."


Aku tidak tau harus menjawabnya apa? Aku gak mungkin ngijinin dia jenguk aku, mama bisa salah paham. Tapi Riyon orangnya keras kepala, walah aku menolak saat ini ia pasti akan terus mengajak ku bertemu, sampai keinginanya tercapai.


" Sory ya Yon, bukannya aku gak mau ketemu lo atau ngijinin buat jenguk gue. Tapi lo tau kan gue udah meerid, gue gak mau orang salah paham ke gue dan berpikir buruk tentang gue dan lo kalo kita ketemu."


Aku berharap penolakan ku ini akan berhasil padanya. Aku menghargai perhatiannya sebagai seorang teman tapi aku merasa sangat buruk jika aku menjalin hubungan dengannya setelah menikah, walau itu hanya sebatas teman, sudah cukup Dirga salah paham padaku, aku tidak ingin ada lagi orang lain salah paham padaku, karena hal itu sungguh menyakitkan.


" Oke, gak masalah, aku tau kau seorang wanita yang sudah bersuami saat ini, walau aku tidak punya niat buruk, dan hanya ingin berteman denganmu, aku memahami ucapanmu. Aku juga tidak ingin kau mengalami hal itu. Ya sudah yang penting aku tau keadaanmu saat ini, dan kapan pun lo butuh temen lo bisa hubungi gue. Oke.."


" Tentu, ya udah. Kita ngobrol lagi nanti. Bye Yon, thanks udah khawatir sama gue."


Setelah mengahiri panggilan tersebut aku merebahkan tubuhku di atas kasur, rasa lelahku seketika membawaku ke alam mimpi. Dan akhirnya aku pun bisa tertidur lelap, tanpa ku sadari aku tertidur hingga berjam jam, ini adalah pertama kalinya bagiku bisa tidur senyenyak ini setelah hari itu.

__ADS_1


__ADS_2