Serpihan Luka

Serpihan Luka
Menenangkan Diri


__ADS_3

**Halo kakak kakak yang cantik dan tampan nya sejagat raya. Selamat datang di bab yang baru, dan sebelum membaca jangan lupa kasih tanda merah di hati nya, dan jangan lupa juga tinggalkan jejak di kolom komen ya kak.


Terimakasih selamat membaca.


🎢🎢🎢


Author POV**


Flesia memutuskan untuk meninggalkan rumah mertuanya, ia merasa sangat tidak nyaman berada disana karena tidak ingin terus melihat perselisihan antara Dirga dan kedua orang tuanya.


" Kamu yakin mau pergi dari rumah mama, Sia?" Tanya mama tidak rela aku dan Kamila pergi.


" Maaf ma, Sia bukan nya gak mau tinggal disini. Tapi Sia butuh waktu untuk menenangkan diri, tapi kalau Sia tetap tinggal sama mama, Dirga akan selalu datang dan membuat mama dan papa terus berselisih dan Sia gak mau itu ma."


" Bailah nak. Mama mengerti, apa pun yang terjadi kamu harus selalu inget kalau mama akan selalu ada untuk kalian."


" Baik ma, Sia tau itu. Sia pamit ma, Ayo Sayang."


" Nenek, Mila pergi dulu, nanti Sia dan mama bakal datang jenguk nenek dan kakek."


Kata kata Kamila yang masih belum jelas membuat suaranya terdengar menggemaskan. Ibunya Dirga seakan tidak rela membiarkan cucu kesayangannya itu pergi meninggalkannya.


" Iya Sayang. Jaga mama dan juga calon adik kamu ya Sayang." Kamila mengangguk dengan antisias di gendongan Sia.


Setelah berpamitan dengan mertuanya Sia di antar oleh supir pribadi mama nya Dirga. Menuju apartemen Roy dan Rio.


🎢🎢🎢


Setibanya di depan apartemen Roy dan Rio, Sia menekan bel apartemen kedua adiknya itu. Lalu tak lama kemudian pintu utama dibuka oleh pelayan yang bernama Tati.


" Eh ada mba Sia dan non Mila."

__ADS_1


" Sore bi."


" Sore mba. Ayo masuk, sini bibi bawakan barang barangnya." Tati meraih semua bawaan Sia, satu buah koper dan tas besar.


" Paman..!?" Kamila meronta minta di turunkan dari gendongan Sia. Kamila pun langsung berlari ke kamar Roy. Saat membuka satu kamar tidak ada orang Kamila membuka kamar lainnya yang digunakan Rio.


" Mama, Aman tidak ada di kamalnya." Ucap Kamila sedikit belepotan, sambil menarik celana yang Sia kenakan.


" Paman mungkin belum pulang kerja, Sayang." Jelas Sia pada putri kecilnya itu.


" Barang barangnya udah bibi masukin kekamar mba."


" Makasih bik. Ohya bi! Roy dan Rio belum pulang juga ya?" Tanya Sia, namum sebelum Tati menjawabnya sudah terdengar suara mobil di luar rumah. Kemungkinan besar kalau bukan Rio maka Roy yang sudah pulang.


" Paman..!?" Kamila langsung berlari ke arah pintu utama begitu melihat salah satu pamannya sudah pulang.


" Kamila, aduh keponakan Aman yang cantik, kapan datangnya?" Tanya Rio yang sudah menggendong Kamila.


" Mba, kok datang gak ngabarin sih! Tau gitu aku pulang cepet." Saat Sia mau menjawab Rio tiba tiba kehadiran sesorang menghentikannya.


" Kak ini.. Mba Sia!?"


" Sopi..!?"


Ucap keduanya bersamaan. Keduanya saling berpelukan, dan saling menanyakan kabar satu sama lain dengan antusiasnya. Setalah itu Sia menatap tajam ke arah Rio, ia seperti mengintimidasi Rio dengan tatapannya.


" Jadi, kalian ini sudah.."


" Tidak, Mba." Tangkas Rio menghentikan ucapan Sia.


" Tidak apanya?" Tanya Sia sedikit menggoda Rio.

__ADS_1


" Mba, semuanya gak kayak yang mba pikirin." Seru Rio seolah menegaskan kalau dia tidak memiliki hubungan apa pun dengan Sopi. Yang Rio pikir itulah yang ada di pikiran Sia saat ini.


" Oke, gak perlu di perjelas juga kan. Mba cuma mau bilang mungkin kalian udah lama ketemu tapi gak ngasih tau mba. Cuma itu doang kok." Ujar Sia sambil tersenyum kecil.


Rio menatap Sopi, namun Sopi seperti menghindari tatapannya. Ia menyerahkan sebuah dokumen pada Rio dan buru buru pamit pada Sia dan Kamila. Sopi melewatkan Rio begitu saja, ada rasa kecewa di hati Sopi saat mendengar Rio begitu keras menyanggah hubungan mereka yang sejak awal memang tidak memiliki jalinan sama sekali.


" Rio? Sopi kok kelihatan sedih gitu. Gih susul dia, cek apa dia baik baik aja." Ujar Sia. Rio pun mau tak mau menyusul Sopi keluar.


" Sopi!?" Panggil Rio. Namun Sopi berpura pura tidak mendengarnya dan mempercepat langkahnya. " Sopia..!?" Rio berhasil menarik lengannya dan menghentikan langkah Sopi. Ia berusaha membuat Sopi melihat kearahnya namun Sopi berusaha menahan dirinya agar tidak dapat Rio tarik.


" Maaf kak, tolong lepasin aku. Aku harus pergi sekarang." Ucap Sopi terdengar sedikit serak.


" Kua menangis Sopi?" Tanya Rio.


" Aku baik baik aja kak, jadi tolong biarin aku pergi." Ucap Sopi tanpa melihat ke arah Rio.


" Tolong jangan begini, aku tau kau sedang menangis. Katakan padaku kenapa kau sampai menangis, apa aku melakukan kesalahan?"


Rio tidak berniat melepaskan tangan Sopi sebelum ia mau mengatakan apa yang membuatnya sampai menangis. Namun Sopi hanya diam saja.


" Oke, kalau kamu tidak mau bicara atau cerita, aku anatar kamu pulang ya?"


Akhirnya Sopi terpaksa menerima tawaran Rio untuk mengantarnya pulang. Karena Rio sangta kekeh dengan keinginannya.


.


.


.


.

__ADS_1


Salam kasih dari Author Ffisca, 😘😘😘


__ADS_2