Serpihan Luka

Serpihan Luka
Chapter47. Kabar baik.


__ADS_3

Sampai di pantai aku dan Dirga menikmati keindahan lautan yg begitu sejuk. Aku mengajak Dirga bermain air, tapi dia malah menolak.


Namun bukan Flesia namaku jika tidak bisa memaksanya untuk menuruti keinginanku.


" Tapi, Sayang, ini masih terlalu pagi untuk bermain air. "


" Ayolah, Ga, ini sudah siang Sayang. Kemarilah atau kita kembali saja ke rumah. " paksaku.


" Oke baiklah. "


Dirga mendekatiku dengan wajah sedikit kesal, namun ia mencoba untuk tetap tersenyum.


" awuh, ini terasa sangat dingin, Sayang. Kau bisa flu kalau terus berada di dalam air, Ayo keluar." Ajak nya samb menarik tanganku.


" Sayang, aku lapar. "


" Baiklah, kita makan sekarang, jadi keluarlah dari sana. " paksanya.


" Oke, tapi aku maunya kamu gendong. " kataku sedikit merengek, seperti anak kecil. Namun ia malah menariku dan melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Dia sangat tidak kuat melihatku bersikap manja.



Setelah puas menciumku Dirga langsung mengkatku dari dalam air, membawaku hingga ke dalam mobil.


Kita terpaksa mencari restoran terdekat, karena bekal yg ku siaokan sebelumnya sudah habis ku makan begitu kita tiba tadi.


*******

__ADS_1


Tiba di restoran, Dirga membukakan pintu masuk dan mempersilahkanku masuk mendahuluinya, Pria terbaikku, pikirku. Perlakuannya tidak pernah berubah bahkan setelah 6 bulan lebih kita menikah.


" Kau, masih menginginkan yangg lainnya ?" tanyanya setelah memesan makanan untuk kita berdua.


Aku menggeleng. Tiba-tiba perutku terasa sakit hingga aku meringis sambil menekan perutku.


" Ga... perutku.. aaaaa... Sakit. "


" Ada apa, Sia ? kau baik-baik aja ?" Dirga sangat panik, ia memelukku lalu menyentuh perutku. Ia semakin panik saat melihat darah mengalir di kakiku.


" Darah... kamu berdarah, Sayang. " ucapnya dengan suara yg sudah sangat panik, tanpa pikir panjang ia langsung mengankat tubuhku.


" Ga, Sakit..." ucapku sambil meringis kesakitan.


Ini pertama kalinya aku merasakan sakit yg teramat seperti ini. Apa aku keracunan makanan ? pikirku.


" Sabar Sayang, kita akan segera tiba di rumah sakit, jadi bertahanlah sebentar lagi." ucapnya sembari melajukan mobilnya.


******


Tiba di rumah sakit. Seorang dokter sudah selesai memeriksa diriku dan memberikan perawatan padaku.


Dirga meminta pada dokter memindahkanku ke ruang VIV, dia tidak suka aku berlama-lama berada di ruang ICU.


Dirga duduk di sampingku sambil menggenggam tanganku. Sampai akhirnya dokter yg sebelumnya menanganiku masuk.


" Apa yg terjadi pada istriku, dok ?" Tanya Dirga pada sang Dokter.

__ADS_1


" Tenang lah tuan, istri anda baik-baik saja sekarang, walau sebelumnya sangat berbahaya sekali, jika anda terlambat sebentar saja membawanya ke sini, mungkin istri anda bisa mengalami keguguran. " Jelas sang Dokter mengejutkan ku dan Dirga.


" Apa ?" kata kita kompak.


" Keguguran, apa maksud dokter ?" tanya Dirga bingung.


" Apa anda belum tau ! kalau saat ini istri anfa sedang hamil, dan waktu kehamilannya sudah memasuki minggu ke 5, yg artinya sudah usia satu bulan lebih. " jelas sang dokter panjang lebar.


" Sayang... " seru Dirga sambil membelai wajahku lalu mencium keningku.


" Aku hamil, Ga. Disini ada anak kita. " ucapku sambil menarik tangannya menyentuh perutku.


" Iya, Sayang, aku benar-benar tidak percaya ini, akhirnya kita akan segera memiliki keluarga baru. Aku akan menjadi ayah, Sia. " ucapnya dengan senyum sumringah, terlihat jelas wajah bahagianya.


" Tapi tuan. " ucap sang dokter.


" Ada apa ? apa ada masalah dengan bayi kita, apa kandungannya baik-baik saja." tanya Dirga panik.


" Bukan, bukan itu maksud saya, yg ingin saya jelaskan adalah, karena pendarahan yg baru saja terjadi kita tau bahwa kondisi kandungan istri tuan lumayan lemah, jadi saya sarankan sang ibu harus banyak istrahat dan tidak boleh terlalu lelah. " jelas sang dokter secara mendetail.


" Baik dok, saya mengerti. " ucap Dirga.


Dirga terus saja mengucapkan terimakasih padaku, mengiringi rasa syukur dan bahagianya.


" Terima kasih, Sayang, karena sudah memberiku hadia terindah selama hidupku, terima kasih telah hadir dalam hidupku, dan selalu memberiku cinta dan kebahagiaan. " kalimat yg terdengar begitu menyentuh jiwaku. Dirga tidak tau betapa bersyukurnya diriku bisa menikah dengannya.


Dia seperti hadiah terindah yg di kirim kan tuhan untukku, memilikinya adalah anugrah bagiku, aku tidak menginginkan hal apa pun lagi selain dirinya. Kini kehadiran bayi kami ini akan menjadi pelenkap kebahagiaan kita.

__ADS_1


__ADS_2