
AUTHOR POV
Di ruang kerja Dirga, Nuan sedang memberikan sebuah laporan padanya.
" Apa kau sudah mengetahui sesuatu?" tanya Dirga.
" Sudah tuan. Di hari itu, memang benar Nona Sia pergi ke supermarket lalu pergi dari sana menggunakan taxi seperti yang Non Sia katakan. Namun taxi itu membawanya ke hotel." Jelas Nuan.
" Jadi benar dia sendiri yang datang kesana untuk menemui ******** itu." kesal Dirga.
" Tapi tuan, dari laporan yang ku dapatkan dari pihak hotel, Non Sia tidak datang sendiri kesana."
" Tentu saja, dia pasti bersama pria brengsek itu."
" Tidak tua. Non Sia datang kesana bersama seorang wanita." ujar Nuan
" Apa? Wanita? siapa dia?" tanya Dirga penuh sidik.
" Soal itu, saya juga belum mengetahui siapa dia, karena pihak hotel bilang saat Non Sia masuk ke dalam hotel dalam keadaan tidak sadarkan diri, dan wanita itu mengatkan Non Sia sangat mabuk. Sedangkan wanita itu menutupi wajahnya dengan cadar jadi..."
BRAK!!!
Dirga memukul kasar meja kerjanya, " Dia sungguh tidak tau malu." Dirga tidak menyimak perkataan Nuan akibat amarhnya.
" Aku rasa yang non Sia katakan mungkin saja benar tuan, bagai mana bisa non Sia mabuk, selama ini dia tidak bisa minum alkohol." lanjut Nuan masih mencoba menjelaskan.
" Tidak ada yang tidak mungkin Nuan. Siapa yang bisa menjamin kalau selama Sia mengenal pria itu cara hidup nya sudah berubah. Apa kau menjamin nya Nuan?" tanya Dirga penuh penekanan.
Saat ini hati Dirga benar benar sudah di selimuti amarah yang membabi buta, ia sudah menitup rapat mata dan telinganya untuk mempercayai Sia walau hanya setitik.
Sampai aku benar benar menemukan bukti kuat, akan percuma menjelaskan segalanya pada tuan Dirga saat ini. Batin Nuan.
Dirga memijat keningnya yang terasa kaku.
" Tuan baik baik saja?"
Nuan bisa melihat kondisi atasannya itu sangat tidak baik saat ini.
__ADS_1
" Kepala ku sangat sakit, sebaiknya kau antar akh pulang, aku juga merindukan putriku."
" Baik tuan."
Nuan pun akhirnya mengantarkan Dirga pulang, saat melewati supermarket tempat Flesia bekerja tiba tiba Dirga meminta Nuan menghentikan mobilnya. Di lihatnya dalam supermarket, terlihat Flesai sedang melayani seorang pelanggan laki laki, membuat Dirga sangat geram. Ia meminta Nuan melanjukan kembali mobilnya namun bukan ke arah rumah melainkan kembali ke kantor.
Flesai sedang menghitung belanjaan seorang pelanggan dengan fokus.
" 126 ribu mas." ucap Flesia tanpa melihat wajah si pelanggan.
" Lo, Sia bukan sih?"
Flesia mendongak melihat wajah pria tinggi tersebut sejenak ia merasa bingung mengingat ingat siapakah dia sebenarnya.
" Riyon Anggelo Parawija....!" Seru Flesia.
" Inget lah, Yon. Lo kan salah satu iceran cewek cewek di kampus kita dulu. Apa lagi si Laras tu, doyan bengat sama lo."
" Makanan kali gue, Sia."
Ahahahaha. Keduanya tertawa bersama.
" Lo apa kabarnya, Yon. Wuah lo gak berubah ya...!"
" Masih tetep keren kan."
" Tetep gak berubah songong nya."
" Tapi lo juga pernah demen kan ma gue."
" Idih, gue gak ya. Gue bukan salah satu dari cewek cewek yang nguber ngeber lo itu. Oke!"
Riyon adalah teman sekampus Flesia, mereka juga seangkatan dan sejurusan. Namun kasta keduanya sangat lah berbeda, Riyon merupakan salah satu anak dari pengusaha ternama di dunia bisanis industri tambang minya. Sedangkan Flesia hanya seirang wanita desa yang mencoba mengubah hidup dengan merantau kekota. Hungungan keduanya kerap memicu konflik karena Flesia sangat tidak menyukai orang orang dari kalangan atas, menurutnya meraka bukan orang orang yang dapat di dekati olehnya.
__ADS_1
Sedangkan Riyon pernah menaruh hati pada Flesia, namun saat ia mencoba untuk mendekati Flesia, saat itu Flesia sudah memiliki seorang kekasih sehingga membuat Riyon mundur dari pengejarannya.
Kau masih tidak berubah Sia. Masih tetap memiliki senyuman yang sangat manis yang membuatku terus mengingatnya bahkan sampai bertahun tahun.
Cukup lama mereka berbincang, Riyon juga memaksa Flesia untuk memberikan no ponselnya. Walah Flesia mengatakan kalau dirinya sudah menikah dan punya seorang putri, Riyon berharap mereka masih bisa menjalin hubungan sebagai seorang teman.
Di kantor Dirga sangat murka, Nuan sampai tidak berani bicara pada atasannya itu. Nuan meninggalkan Dirga yang masih mengamuk dalam ruangannya tersebut.
" Hai Dirga..."
Seseorang yang sangat tidak di inginkannya datang tanpa di undang. Wanita itu adalah Tania, wanita yang selama ini terus saja berusaha menarik perhatiannya.
" Sedang apa kau disini, nona Tania. Sory kita saat ini tidak memiliki janji temu, jadi tolong keluarlah dari ruanganku sekarang." Ujar Dirga.
Bukannya keluar Tania malah semakin mendekati Dirga.
" Aku lihat, sepertinya kamu sedang tidak dalam mood yang baik, Dirga?" ucapnya seraya merangkul lengan Dirga. Namun Dirga tidak berusaha untuk menolaknya dan diam saja, sehingga Tania merasa Dirga memberi lampu hijau padanya.
" Kalau kamu mau, bagai mana kalau ku temani kau minum, aku yakin bisa membuat mood mu berubah jadi lebih baik." Usul Tania dan Dirga pun menyetujuinya, karena dia saat ini sedang tidak ingin bekerja atau pun pulang kerumah. Dirga pun pergi kesebuah club di antarkan oleh Nuan, mereka minum cukup lama sampai mabuk berat.
Setibanya dirumah, Dirga masuk kedalam rumah dengan langkah yang sempoyongan, ia masuk kedalam kamar Flesia ketika ia sudah terlela, dengan keadaan mabuk berat. Dia mencekal kedua tangan Sia keatas dengan 1 tangannya, saat Sia tersadar ia sangat panik.
" Ga... Kamu lagi ngapain?" Dirga menyeringai sambil menatap Sia penuh gairah.
" Aku adalah suamimu sampai saat ini hal itu masih sah dimata hukum dan agama, bukankah sangat rugi bagiku untuk tidak menggunakan apa yang sudah kubeli dengan mahal." Sia merasa panik, Dirga belum bernah mabuk sebelumnya, apa yang akan dilakukannya saat dalam keadaan seperti itu pada Sia.
Sia berisaha meronta untuk melepaskan genggaman Dirga, namun tidak berhasil, saat ini ia sedang mengandung, jika berhubungan dalam keadaan seperti ini ia takut akan terjadi sesuatu pada kandungannya, apa lagi Dirga dalam keadaan tidak sadar. Sia terus meronta hingga tangannya menjadi sedikit lebam.
Dirga membuka paksa baju Sia, hingga hanya tersisa b*a dan celana d*l*m milik Sia. Saat Sia mau berteriak Dirga malah membungkam mukutnya dengan sapu tangan miliknya. Diiringi isak tangingisa nya Sia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Ya tuhan, tolong aku. Jangan biarkan hal buruk terjadi pada anak yang ada di dalam kandunganku. Siapa pun tolong. Jeritan hati Sia.
" Beritahu aku Sia, sudah berapa banyak pria yang kau biarkan menjamah tubuhmu ini selain aku?" Air mata yang mengalir sudah tak terhitung, Sia merasalan sakit di hatinya mendengar hinaan yang di ucapkan Dirga. Sungguh hanya dialah satu satunya laki laki yang pernah ia berikan hak itu, karena dia adalah suaminya.
" Mari kita mulai, kembali permainan yang tertunda." ucap nya sambil tersenyum menakutkan. Dia mulai meraba setiap lekuk tubuh Sia, tangannya mulai meremas kedua payudara Sia secara bergantian dengan salah satu tangannya. Dia memandang Sia penuh kebencian, namun apa yang bisa Sia lakukan selain menerimanya, karena ia memang berhak atas tubuhnya.
__ADS_1